Perkuat Kohesi Sosial di Fakfak Timur, Tim 16 Patriot Unhas, Gandeng Masyarakat Rumuskan Aksi Ekonomi Bersama

0
FOTO: Kegiatan FGD Tim 16 Patriot Unhas bersama warga di Balai Pertemuan Kampung Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Selasa (18/8/2026)
FOTO: Kegiatan FGD Tim 16 Patriot Unhas bersama warga di Balai Pertemuan Kampung Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Selasa (18/8/2026)

LEGIONNEWS.COM – FAKFAK, Bertempat di Balai Pertemuan Kampung Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, terselenggara kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Ke-1 dengan tajuk “Penguatan Kohesi Sosial Masyarakat Lokal dan Masyarakat Nusantara Melalui Pendampingan Ekonomi Kolaboratif di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey” pada Selasa (18/8/2026) pukul 09.00 hingga 16.00 WIT.

Kegiatan ini merupakan bagian integral dari implementasi program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Kementerian Transmigrasi RI yang digerakkan oleh Tim 16 Universitas Hasanuddin di bawah pimpinan Dr. Sawedi Muhammad, M.Sc. Pelaksanaan di lapangan dikoordinir langsung oleh Nur Vidiah Rachmadani bersama anggota tim: Andi Farhan Fauzi, Vilia Glaudya Paays, Azzahra Zainal, dan Sudirman M, serta menghadirkan Hariashari Rahim, S.Sos., M.Si sebagai Narasumber Ahli.

Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Distrik Fakfak Timur Gani Samai, Kepala Kampung Saharey Zainuddin Arbakala, Sekretaris Kampung Abas Tunggin, jajaran Baperkam, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh adat, tokoh agama, ketua RT, serta perwakilan kelompok tani, nelayan, kelompok pemuda, dan kelompok perempuan.

Advertisement

Transformasi Paradigma dan Kesiapan Menyambut Perubahan

Membuka jalannya diskusi, Kepala Distrik Fakfak Timur, Gani Samai, menegaskan kembali sejarah panjang perjuangan masyarakat Saharey sejak tahun 2013–2014 yang mendambakan pembangunan kawasan dan hadirnya transmigrasi. Ia menekankan

bahwa kehadiran Tim Patriot merupakan peluang emas peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang harus disambut dengan keterbukaan dan kemauan keras untuk berubah.

“Kalau kita mau maju, kita harus terbuka dan menerima perubahan yang datang dari luar. Niat untuk berubah itu sudah diletakkan orang-orang tua kita dulu, jadi kita harus wujudkan supaya program pusat seperti BUMDes dan Koperasi Merah Putih bisa hidup. Jangan sampai hasil pertanian dan perikanan kita terbuang karena hanya mengandalkan pasar di kota Fakfak yang jauh,” ujar Gani Samai.

Gani juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan mental wirausaha mandiri (entrepreneurship) dan tidak sekadar menunggu bantuan.

“Setiap orang di kampung ini harus punya jiwa usaha. Kalau kita punya usaha sendiri walaupun kecil, kitalah yang jadi manajernya, kita yang jadi bosnya. Manfaatkan ilmu yang dibawa dosen dan adik-adik mahasiswa selama empat bulan di sini, ini ilmu yang sangat mahal,” pesannya.

Kepala Kampung Saharey, Zainuddin Arbakala, menyambut baik arahan tersebut dan meminta seluruh perwakilan warga menyerap arahan teknis dari narasumber ahli secara bersungguh-sungguh, sekaligus mendorong penguatan sinergi antara pemerintah kampung dan masyarakat dalam mengaktifkan kelembagaan ekonomi.

Penguatan Kolaborasi Ekonomi dan Integrasi Arah Kebijakan Nasional
Narasumber Ahli dari Universitas Hasanuddin, Hariashari Rahim, memaparkan bahwa pendekatan Tim 16 difokuskan pada integrasi sosial-ekonomi. Ia mengaitkan agenda FGD ini dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto pada Sidang Paripurna DPR RI tanggal 14 Agustus 2026, khususnya terkait 8 Program Prioritas Nasional (PKPN) yang menekankan kedaulatan komoditas domestik, hilirisasi, serta pembangunan dari desa.

“Penyelenggaraan transmigrasi hari ini telah bertransformasi, bukan sekadar perpindahan penduduk secara fisik, melainkan pembangunan kohesi sosial dan kolaborasi ekonomi yang berkelanjutan. Kuncinya ada pada ‘trust’ atau kepercayaan sosial dan rasa kepemilikan bersama antar-warga,” jelas Hariashari.

Ia menambahkan bahwa komoditas unggulan seperti Pala Tomandin, hasil laut pesisir Saharey, serta produk hortikultura (cabai, tomat, sayuran) memerlukan strategi hilirisasi dan diversifikasi produk turunan agar masyarakat tidak terjebak menjual bahan mentah dengan harga murah.

Curahan Masalah Lapangan:

Dari Rantai Pasar, BUMKam, hingga Infrastruktur, Dalam sesi interaktif yang berlangsung hangat selama hampir tujuh jam, para tokoh masyarakat menyampaikan berbagai realitas dan persoalan mendasar di lapangan:

Kemitraan Transparan: 

Membangun forum koordinasi antara petani dan pedagang pengumpul yang difasilitasi oleh pemerintah kampung dengan prinsip transparansi informasi harga pasar.

Inovasi Produk Turunan: 

Mendorong kelompok masyarakat memproduksi produk bernilai tambah, seperti sambal botol olahan cabai/tomat, kerupuk ikan, aneka olahan pisang, hingga arang tempurung pala.

Standardisasi & SOP BUMKam:

Menyusun SOP operasional BUMKam dan skema pembiayaan bergulir yang terstruktur dengan bimbingan Tim Patriot.

Koordinator TEP Tim 16, Nur Vidiah Rachmadani, mengapresiasi keaktifan seluruh peserta dan menegaskan bahwa seluruh poin diskusi telah dirangkum menjadi dokumen rekomendasi resmi.

“Hasil FGD ini akan menjadi basis kami untuk berkoordinasi langsung dengan Dinas Pertanian, Dinas Ketransmigrasian, dan instansi teknis di Fakfak. Kami berkomitmen agar ruang diskusi ini melahirkan aksi nyata yang akan kita tindak lanjuti bersama pada FGD Ke-2 mendatang,” tutup Nur Vidiah.

Kegiatan FGD 1 ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Imam Kampung Saharey, menandai langkah awal komitmen bersama seluruh elemen masyarakat Weri-Saharey dalam membangun kemandirian ekonomi dan mempererat kohesi sosial kawasan. (*)

Advertisement