
LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Pergerakan komoditas pertanian, perikanan, dan peternakan yang semakin terbuka antar wilayah maupun negara, membawa peluang ekonomi sekaligus risiko terhadap sumber daya hayati. Di balik distribusi komoditas tersebut, terdapat potensi perpindahan hama, penyakit hewan, hingga organisme pengganggu tumbuhan yang dapat mengancam produksi pangan, lingkungan, dan biodiversitas.
Risiko tersebut membutuhkan sistem pencegahan yang mampu mengidentifikasi dan mengendalikan ancaman sejak awal. Pemahaman mengenai biosekuriti semakin penting, termasuk bagi generasi muda yang berhadapan dengan perkembangan teknologi, perdagangan global, dan perubahan lingkungan.
Persoalan itu merupakan salah satu perhatian dalam Karantina Goes to Campus 2026 yang diselenggarakan Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan. Mengangkat tema “Think Global, Protect Local: Peran Generasi Muda Menuju Indonesia Emas”, kegiatan tersebut mengajak mahasiswa memahami peran karantina dalam menjaga sumber daya hayati Indonesia.
Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan, Ir. Sitti Chadidjah, M.Si., menjelaskan bahwa kehadiran Badan Karantina Indonesia di kampus merupakan ruang dialog dengan dunia akademik mengenai tantangan perlindungan sumber daya hayati di tengah meningkatnya mobilitas manusia dan komoditas.
“Komoditas pertanian, perikanan, maupun peternakan dari Sulsel dapat bergerak dan menjangkau berbagai negara, hal tersebut membuka peluang ekonomi yang besar. Namun, mobilitas tersebut juga membawa risiko penyebaran hama dan penyakit yang dapat mengancam sumber daya alam hayati kita,” jelas Sitti Chadidjah.
Kegiatan resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian, Prof. Ir. Suharman Hamzah, S.T., M.T., Ph.D., HSE. Dirinya menyambut baik kehadiran Badan Karantina Indonesia di lingkungan kampus.
“Kampus membutuhkan kehadiran praktisi. Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini dan berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan, termasuk melalui hadirnya Center Point Karantina di Unhas,” kata Prof. Suharman.
Menurutnya, keberadaan Center Point Karantina di lingkungan Unhas diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dunia akademik dan praktik karantina. Generasi muda perlu melihat dunia yang semakin terbuka dengan memahami teknologi, biosekuriti, perdagangan internasional, standar global, inovasi, dan perubahan lingkungan.
“Pengetahuan dan kemajuan tersebut harus kita gunakan untuk menjaga sumber daya hayati, biodiversitas, produksi pangan, serta berbagai potensi unggulan yang kita miliki di daerah,” tutup Prof. Suharman.
Setelah sambutan, kemudian dilanjutkan dengan paparan materi para narasumber. Salah satu materi disampaikan Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan Karantina Indonesia, Hudiansyah Is Nursal, S.H., M.I.L.I.R.
Dalam materinya, Hudiansyah menjelaskan biosekuriti sebagai upaya mencegah masuk, keluar, dan tersebarnya hama, penyakit hewan, ikan, serta organisme pengganggu tumbuhan yang dapat berdampak pada kesehatan, keamanan pangan, lingkungan, dan keberlanjutan sumber daya alam.
Menurutnya, biosekuriti perlu dipahami sebagai pendekatan pencegahan, bukan sekadar tindakan setelah ancaman muncul. Karena itu, pengelolaannya perlu didukung analisis risiko, surveilans, diagnostik, pemantauan, serta pemanfaatan data dan teknologi untuk mengenali potensi ancaman sedini mungkin.
“Dalam menjalankan fungsi tersebut, Badan Karantina Indonesia menerapkan Multi Layered Defense System yang mencakup pre-border, at-border, dan post-border. Sistem ini menempatkan pengawasan pada beberapa tahapan, mulai dari sebelum komoditas memasuki Indonesia, saat berada di pintu masuk, hingga setelah komoditas berada di dalam wilayah Indonesia,” jelas Hudiansyah.
Pada tahap pre-border, pencegahan dilakukan melalui persyaratan dan tindakan karantina di negara asal. Selanjutnya, at-border mencakup pemeriksaan dokumen, fisik, serta tindakan karantina terhadap komoditas yang masuk, sedangkan post-border memastikan pengawasan tetap berjalan setelah komoditas berada di Indonesia.
Pendekatan berlapis tersebut memungkinkan risiko dikendalikan pada titik yang berbeda sekaligus mendukung efektivitas arus logistik. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas dan banyak pintu masuk, sistem pengawasan semacam ini menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan sumber daya hayati.
Karantina Goes to Campus 2026 berlangsung di Aula Arsjad Rasyid, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Selasa (6/10), sebagai ruang pertemuan antara dunia akademik dan praktik perlindungan sumber daya hayati. (*/mir)
























