Operasi Trikora: Saat Pasukan Indonesia Lebih Takut Kelaparan daripada Peluru Belanda

0
FOTO: Operasi infiltrasi ke wilayah Irian Barat dimulai setelah Panglima Mandala, Mayor Jenderal TNI Soeharto, menandatangani perintah operasi penerjunan pada 11 April 1962. (Ist)
FOTO: Operasi infiltrasi ke wilayah Irian Barat dimulai setelah Panglima Mandala, Mayor Jenderal TNI Soeharto, menandatangani perintah operasi penerjunan pada 11 April 1962. (Ist)

LEGIONNEWS.COM – SEJARAH, Ketika berbicara tentang perjuangan merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda pada tahun 1962, banyak orang membayangkan pertempuran sengit, tembakan meriam, dan baku tembak di medan perang. Namun bagi para prajurit yang terlibat langsung dalam Operasi Trikora, musuh terbesar ternyata bukan hanya tentara Belanda, melainkan rasa lapar yang terus menghantui di tengah belantara Papua.

Operasi infiltrasi ke wilayah Irian Barat dimulai setelah Panglima Mandala, Mayor Jenderal TNI Soeharto, menandatangani perintah operasi penerjunan pada 11 April 1962. Sebelum keberangkatan, Soeharto berpesan kepada pasukan gabungan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) agar menghindari kontak senjata langsung. Misi utama mereka bukanlah bertempur secara terbuka, melainkan menyusup ke wilayah musuh dan membangun kekuatan gerilya di belakang garis pertahanan Belanda.

Untuk mengelabui lawan, AURI menjalankan berbagai operasi pengalihan perhatian. Pesawat pembom B-25 Mitchell dan pesawat tempur P-51 Mustang diterbangkan ke wilayah yang diawasi Belanda agar perhatian musuh terpusat pada sasaran yang salah. Strategi tersebut membuka jalan bagi pesawat Dakota yang membawa pasukan infiltrasi menuju wilayah Papua.

Advertisement

Meski rencana berjalan dengan cermat, kenyataan di lapangan jauh lebih berat. Hutan Papua yang lebat, pegunungan terjal, rawa-rawa luas, serta minimnya jalur logistik membuat kehidupan para prajurit menjadi sangat sulit. Banyak penerjun tersangkut di puncak-puncak pohon raksasa setelah mendarat. Beberapa harus berjam-jam bahkan berhari-hari mencari jalan turun sebelum bisa bergabung kembali dengan rekan-rekannya.

Di Fakfak, pasukan yang dipimpin Letda Agus Hernoto harus bertahan selama berminggu-minggu dalam kondisi kekurangan makanan. Saat disergap tentara Belanda, beberapa prajurit gugur dan Agus Hernoto sendiri tertembak di kedua kakinya sebelum akhirnya ditawan.

Namun yang paling menyiksa bukanlah tembakan musuh.

Para gerilyawan Indonesia justru menghadapi ancaman kelaparan setiap hari. Persediaan logistik yang terbatas membuat mereka harus bertahan hidup dengan apa pun yang ditemukan di hutan. Jika beruntung menemukan kebun penduduk yang berisi talas, pisang, atau tanaman pangan lainnya, mereka akan mengambil secukupnya dan meninggalkan uang gulden Papua sebagai pembayaran agar tidak merugikan masyarakat setempat.

Berbulan-bulan hidup di pedalaman menjadikan para prajurit harus beradaptasi dengan alam yang keras. Mereka berjalan kaki menembus hutan, tidur di bawah pepohonan, menghadapi penyakit tropis, dan hidup dengan makanan seadanya. Bahkan ketika ada rekan yang gugur, mereka terpaksa dimakamkan secara sederhana di tengah hutan demi menjaga kelangsungan misi.

Di tengah perjuangan itu, sejumlah pasukan Indonesia juga menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok perlawanan lokal yang anti-Belanda. Salah satunya adalah kelompok yang dipimpin Mayor Tituler Lodewyk Mandatjan, tokoh masyarakat Arfak yang dikenal sebagai ahli perang hutan dan memiliki pengaruh besar di wilayah Papua Barat.

Tidak sedikit pula kisah heroik yang lahir dari operasi tersebut. Beberapa prajurit tertangkap dan dijadikan alat propaganda oleh Belanda, sementara sejumlah penerbang AURI harus melakukan pendaratan darurat setelah pesawat mereka ditembak jatuh. Meski demikian, semangat perjuangan tidak pernah padam.

Operasi Trikora akhirnya menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Melalui kombinasi operasi militer, diplomasi internasional, dan perjuangan para prajurit di medan yang sangat berat, Irian Barat akhirnya kembali ke pangkuan Republik Indonesia.

Kisah ini mengingatkan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki senjata paling kuat. Dalam banyak kesempatan, kemenangan justru ditentukan oleh ketahanan, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah para prajurit yang rela menghadapi lapar, sakit, dan maut demi Merah Putih. (Sumber : Intisari.grid.id)

Advertisement