
LEGIONNEWS.COM – PAPUA, Sembilan perempuan diculik ke hutan, satu ibu tewas menolak dibawa paksa. Situasi genting ini menuntut operasi militer yang benar-benar matang.
Serma (Purn) Muchtar Effendi menegaskan operasi pembebasan sembilan sandera dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua membutuhkan kemampuan prajurit tingkat tinggi, persiapan matang, dan pengenalan medan mendalam.
Ia pernah terlibat langsung dalam operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Irian Jaya, pada 1996.
Menurutnya, meski secara hukum humaniter internasional penyanderaan anak di bawah umur jelas melanggar HAM, kelompok insurjen dalam perang gerilya cenderung mengabaikan aturan tersebut.
“Yang penting menang. Begitu prinsip mereka,” paparnya, menyebut penanganan kasus penyanderaan tidak boleh dilakukan tergesa-gesa.
Muchtar menekankan setiap prajurit yang diturunkan harus benar-benar menguasai sasaran bidik agar tidak sampai membahayakan sandera yang justru harus mereka selamatkan.
“Komandannya harus mampu menginventarisir jumlah KKB yang menyandera. Berapa yang pegang senjata api? Karena itu yang paling utama harus dilumpuhkan,” tandasnya.
Ia menilai seluruh aksi KKB merupakan bentuk terorisme karena menimbulkan ketakutan di masyarakat dan mengganggu stabilitas nasional, sehingga penanganannya perlu didukung latihan matang dan informasi intelijen akurat soal kekuatan dan medan lawan.
Insiden ini bermula saat sembilan perempuan warga Kampung Pasir Putih, Distrik Jila, Mimika, Papua Tengah, dibawa paksa KKB ke hutan, Selasa (18/8).
Seorang ibu dilaporkan tewas setelah menolak dibawa kelompok bersenjata tersebut. Semoga proses pembebasan berjalan aman dan seluruh sandera bisa segera pulang dengan selamat. (*)
























