Oleh: Makmur Idrus, Mantan Ketua PC GP. Ansor Makassar/Sekertaris Wilayah GP. Ansor Sulsel
LEGIONNEWS.COM – OPINI, Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi.
Ansor tidak sedang kekurangan kader. Yang dipertaruhkan hari ini adalah arah. Di tengah sebaran kader yang luas, Gerakan Pemuda Ansor justru berada di persimpangan: menjadi kekuatan kolektif, atau larut dalam kompetisi personal yang melemahkan.
Harlah ke-92 Ansor pada 24 April 2026 tidak boleh dimaknai sekadar seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi yang jujur: apakah Ansor masih setia pada jalan perjuangannya, atau mulai larut dalam kenyamanan zaman.
Karena dalam sejarah organisasi kader, yang menentukan bukan jumlah kader tetapi arah perjuangan.
Selama 92 tahun, Ansor menegaskan dirinya sebagai organisasi kader. Ia tidak dilahirkan untuk mengejar jabatan, tetapi untuk menyiapkan pemimpin yang berani, tangguh, dan berpihak kepada umat.
Sejak awal, Ansor tumbuh dari ruang-ruang sederhana: masjid, pesantren, dan kehidupan rakyat. Dari sanalah lahir kader yang tidak dimanjakan fasilitas, tetapi ditempa oleh kerasnya perjuangan.
Sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, Ansor mewarisi nilai keberpihakan kepada umat. Nilai ini bukan simbol, melainkan kompas moral yang harus tercermin dalam sikap dan tindakan nyata.
Di Sulawesi Selatan, Ansor berakar dari embrio gerakan kepemudaan Islam seperti Pandu Laut. Dari kesederhanaan itu lahir militansi—tradisi yang menempatkan pengabdian di atas kepentingan pribadi.
Pada dekade 1960-an, Ansor Sulsel khususnya Makassar menunjukkan watak militannya. Pengkaderan berjalan intens dalam keterbatasan. Dari ruang-ruang sederhana lahir kader yang kelak menjadi tokoh profesional, seperti Birokrat (ASN), Politisi, akademisi, Pekerja Sosial, Aktivis NGO, dan pengusaha. Di posisi itu, mereka masih membawa nilai Ansor… atau sudah larut jadi ‘produk jabatan’?” Kalau masih bawa nilai Ansor akan tetap besar. Kalau tidak Ansor tinggal nama, kadernya ke mana-mana.
Memasuki masa Orde Lama hingga Orde Baru, Ansor menghadapi tekanan sejarah yang tidak ringan. Dalam satu fase panjang, Ansor harus bertahan di tengah konflik ideologi sekaligus menghadapi pembatasan ruang gerak organisasi sebuah ujian antara bertahan atau kehilangan jati diri.
Momentum Reformasi 1998 menjadi titik balik. Di berbagai daerah, kader Ansor turun ke jalan bersama mahasiswa dan elemen masyarakat, menjadi bagian dari gelombang perubahan nasional.
Gerakan itu tidak lahir secara spontan. Ia terorganisir, dengan kader-kader yang mengambil peran di garis depan sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah.
Dalam situasi penuh ketidakpastian, kader Ansor bergerak tanpa jaminan keselamatan dan tanpa kepastian hasil. Namun satu keyakinan tetap teguh: diam bukan pilihan.
Wajah kader saat itu adalah wajah perjuangan bukan wajah pencari jabatan. Mereka siap kehilangan kenyamanan demi perubahan.
Sebagaimana pernah diingatkan Saifullah Yusuf, “Ansor bukan organisasi untuk mencari jabatan, tetapi tempat kader ditempa agar siap memimpin dan berkhidmat.” Pesan ini menegaskan bahwa orientasi utama Ansor adalah pengabdian, bukan kekuasaan.
Nusron Wahid juga pernah menegaskan bahwa kekuatan Ansor terletak pada militansi kader dan soliditas organisasi, bukan pada kedekatan dengan kekuasaan semata.
Semangat yang ditanamkan M. Iqbal Assegaf jelas: kader Ansor harus siap berada di garis depan—bukan sekadar hadir dalam struktur, tetapi hadir dalam perjuangan. Loyal pada organisasi, dan tegas berpihak pada umat.
Hari ini, tantangan Ansor tidak lagi hadir dalam bentuk tekanan terbuka. Ia datang lebih halus: kenyamanan, pragmatisme, dan kedekatan dengan kekuasaan.
Kader Ansor kini tersebar di berbagai lini birokrasi, politik, bisnis, hingga ruang sosial. Namun penyebaran itu masih terlalu sering bersifat personal, berjalan sendiri-sendiri tanpa arah kolektif yang jelas.
Yang tampak bukan kekuatan jaringan, melainkan barisan individu yang sibuk mengamankan posisi masing-masing. Bahkan tidak jarang, yang terjadi bukan kompetisi sehat, tetapi saling sikut yang halus rapi di permukaan, tajam di dalam.
Jika kondisi ini dibiarkan, Ansor berpotensi menjadi organisasi besar yang kehilangan daya. Banyak kader, tetapi tidak terhubung. Banyak jabatan, tetapi tidak berdampak. Besar secara struktur, namun kosong secara pengaruh.
Lebih berbahaya lagi, ketika kedekatan dengan kekuasaan tidak lagi menjadi alat perjuangan, melainkan berubah menjadi tujuan. Di titik ini, Ansor pelan-pelan bisa kehilangan jati dirinya sebagai organisasi kader.
Ansor tidak didirikan untuk melahirkan elite yang sibuk menjaga kursi, tetapi untuk membangun barisan yang siap berjuang bersama.
Karena itu, ke depan Ansor harus melakukan koreksi serius. Bukan lagi ruang saling mengungguli, tetapi ruang saling menguatkan. Bukan lagi arena perebutan panggung, tetapi ekosistem perjuangan bersama.
Sudah waktunya menghentikan budaya saling sikut. Menggantinya dengan budaya saling menopang di mana kader membuka jalan bagi kader lain, bukan menutupnya.
Tanpa arah yang jelas, penyebaran kader hanya akan melahirkan kehadiran tanpa arti. Namun dengan strategi yang tepat, Ansor dapat kembali menjadi kekuatan sosial yang menentukan.
Harlah ke-92 ini harus menjadi titik balik: dari organisasi yang sibuk ke dalam, menjadi gerakan yang hadir ke luar menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, Ansor tidak akan diingat karena banyaknya jabatan kadernya, tetapi karena keberanian sikap dan keberpihakannya.
Jika Ansor hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin naik sendiri, maka ia bukan lagi barisan perjuangan—melainkan arena kompetisi.
Dan ketika itu terjadi, Ansor tidak lagi kehilangan kader tetapi kehilangan alasan untuk ada.

























