Oleh: Abdul Rahman Daeng Gus Dur, Aktivis Difabel, Penggiat Isu Inklusi Sulawesi Selatan, dan Direktur Balla Inklusi Sulawesi Selatan
LEGIONNEWS.COM – OPINI, 12 Juni 2026 bukan sekadar penanda waktu, melainkan vonis atas kegagalan kolektif bangsa ini. Sejak dicanangkan pertama kali pada tahun 2002, Hari Dunia Menentang Pekerja Anak seharusnya menjadi momentum koreksi, namun kenyataannya ia hanya menjadi ritual tahunan yang hampa makna. Di balik statistik pembangunan nasional yang megah, terdapat jutaan anak Indonesia yang masa kecilnya dirampas paksa, sebuah kejahatan yang dilakukan secara sistematis dan diam-diam disetujui oleh kita semua.
Kepada para orang tua di seluruh penjuru negeri, kritik ini ditujukan dengan keras: berhenti meromantisasi penderitaan. Menyebut anak yang bekerja sebagai “tangguh” atau “mandiri” adalah euphemisme berbahaya yang menutupi realita eksploitasi. Kemiskinan memang nyata, namun menjadikan anak sebagai tumpuan ekonomi adalah pengkhianatan terhadap kodrat parentalitas. Anda tidak sedang mengajarkan mereka bertahan hidup; Anda sedang menjual masa depan mereka demi kelangsungan hari ini. Itu bukan kasih sayang, melainkan keputusasaan yang mengorbankan hak asasi paling dasar seorang anak: hak untuk bermimpi, bermain, dan belajar.
Kepada Pemerintah, tuduhan ini jauh lebih berat karena Anda memegang mandat perlindungan. Mengapa anak-anak masih berkeringat di perkebunan, tambang ilegal, dan jalanan kota? Karena negara gagal menjamin kesejahteraan keluarga. Kebijakan sosial yang setengah hati dan penegakan hukum yang tumpul adalah bentuk komplicitas. Negara seolah berdamai dengan realita bahwa sebagian roda ekonomi bangsa ini digerakkan oleh tenaga kerja murah yang tak bersuara: anak-anak. Absennya jaminan sosial yang memadai dan lapangan kerja layak bagi orang dewasa membuat negara turut bertanggung jawab atas hilangnya masa kecil generasi penerus bangsa.
Ini bukan lagi soal simpati, melainkan soal tanggung jawab moral dan politik. Hentikan kemunafikan kebijakan. Hentikan budaya menormalisasi eksploitasi. Anak-anak Indonesia bukanlah alat produksi; mereka adalah wajah peradaban kita di masa depan. Jika hari ini kita membiarkan mereka hancur demi upah murahan, besok jangan harap negeri ini akan dipimpin oleh manusia-manusia utuh yang berempati dan cerdas.
Lindungi mereka, atau bersiaplah menghadapi generasi yang patah mimpi. Stop pekerja anak, sekarang juga.
























