61 Tahun IAS: Dari Barisan BARAK 145, Satu Kata yang Tak Pernah Berubah “Loyalitas Tanpa Batas”

0
FOTO: Kanan Illank Radjab Ketua BARAK 145 dan Ketua DPD I Golkar Sulsel. 
FOTO: Kanan Illank Radjab Ketua BARAK 145 dan Ketua DPD I Golkar Sulsel. 

Penulis: Illank Radjab
Ketua Umum BARAK 145

Assalamu’alaikum, Pak IAS.

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Hari ini, di hari ulang tahunmu yang ke-59, izinkan kami menyampaikan selamat dengan cara yang mungkin tidak biasa.

Advertisement

Kami tidak datang.

Tidak ada barisan. Tidak ada keramaian. Tidak ada tangan yang kami jabat. Tidak ada foto yang kami abadikan.

Maaf, Pak.

Mungkin dari kejauhan, orang akan bertanya: ke mana BARAK 145? Apakah sudah tidak loyal? Apakah sudah tidak militan?

Biarlah.

Sebab pagi ini, di basis utama BARAK 145, kami justru sedang duduk dalam diam. Tidak sedang menyusun barisan, tidak sedang menghitung siapa yang datang dan siapa yang pergi. Kami hanya menyebut satu nama dalam doa:

Ilham Arif Sirajuddin. IAS.

Ada banyak cerita yang telah menempati perjalanan kita. Dari cerita yang paling baik hingga kisah yang paling sentimental. Ada orang-orang yang datang membawa ketulusan, ada yang sekadar memandatkan kebaikanmu, ada yang menyukai pribadimu, dan ada pula yang pernah berdiri begitu dekat, lalu memilih berjalan ke arah yang berbeda.

Begitulah hidup.

Kadang orang datang bukan untuk tinggal. Kadang seseorang yang kita kira saudara hanya sedang singgah. Dan kadang, pengkhianatan justru datang dari pintu yang paling kita percaya.

Namun dari semua itu, ada sesuatu yang membuat kami selalu bertanya:

Mengapa IAS tidak banyak berubah?

Waktu berjalan. Wajah-wajah berganti. Kepentingan berubah. Barisan berpindah. Tetapi engkau tetap menjadi dirimu sendiri.

Mungkin karena 59 tahun telah mengajarkan bahwa tidak semua tepuk tangan adalah penghormatan, tidak semua senyum adalah ketulusan, dan tidak semua yang berdiri di samping kita benar-benar berada di pihak kita.

Tetapi ada satu hal yang juga kami pelajari:

loyalitas tidak selalu berisik.

Ia kadang hanya berupa seseorang yang masih menyimpan nama sahabatnya dalam doa, ketika tidak ada lagi kepentingan yang harus diperjuangkan.

Hari ini, kami tidak datang untuk membuktikan bahwa BARAK masih ada.

Kami hanya ingin mengatakan bahwa kami masih mengingat.

Kami mengingat jalan yang pernah kita lalui. Meja-meja tempat kita pernah berbincang. Tawa yang pernah pecah. Perdebatan yang pernah menghangat. Dan orang-orang yang pernah berada dalam satu lingkaran, sebelum waktu membawa mereka ke jalan masing-masing.

BARAK juga berubah, Pak.

Kami bukan lagi barisan yang sama seperti dulu. Tetapi perubahan tidak selalu berarti kehilangan. Ada nilai yang kami coba simpan dari perjalanan panjang itu:

persaudaraan, solidaritas, dan satu kata yang tidak ingin kami kubur bersama waktu—loyalitas tanpa batas.

Maka hari ini, dari tempat kami pernah menanam banyak cerita, kami menundukkan kepala.

Ya Allah…

Panjangkan usia Pak Ilham Arif Sirajuddin dalam keberkahan. Berikan kesehatan, ketenangan, rezeki yang luas, dan keluarga yang selalu menjadi tempat pulang.

Jika pernah ada luka, sembuhkanlah.

Jika pernah ada pengkhianatan, jangan biarkan ia mengubah kebaikan hatinya.

Jika masih ada perjalanan panjang di depan, pertemukan ia dengan orang-orang yang datang karena ketulusan, bukan karena kepentingan.

Dan ketika suatu hari semua jabatan, keramaian, dan barisan telah menjadi masa lalu, semoga yang tersisa adalah persahabatan yang tidak membutuhkan alasan untuk tetap saling mendoakan.

Pak IAS…

Hari ini kami tidak datang.

Kami hanya duduk.

Kami hanya mengingat.

Kami hanya berdoa.

Mungkin itulah bentuk paling sunyi dari sebuah persaudaraan: tidak selalu berdiri di samping seseorang, tetapi tetap menyimpan namanya di dalam doa.

Selamat ulang tahun ke-59, Pak IAS.

Semoga Allah menjaga langkahmu.

Dan jika suatu hari engkau bertanya di mana BARAK 145, jawabannya mungkin sederhana:

Kami ada—mungkin tidak selalu terlihat, tetapi masih membawa satu kata yang sejak dulu kami kenal:

LOYALITAS TANPA BATAS.

Advertisement