Warga Simomulyo Baru Surabaya Garap Film Pendek ‘Si Paman Boyo’, Wadah Jiwa Berkarya dan Nilai Kebangsaan

0
Img 20260712 Wa0026
Img 20260712 Wa0026

LEGIONNEWS.COM|SURABAYA, – Komunitas warga Kelurahan Simomulyo Baru, RW 3, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, meluncurkan proyek pembuatan film pendek berjudul ‘Si Paman Boyo’ berdurasi sekitar 10 menit. Kegiatan ini digagas sebagai upaya nyata membangun jiwa bangsa dan semangat berkarya di lingkungan masyarakat setempat. Minggu, (12/7/2026).

Proyek tersebut melibatkan sederet seniman dan tokoh lokal yang sudah dikenal warga, antara lain Yayak Bonek, Ning Rona, Lupus Suzana, Ning Ita, Ning Karni, dan Ning Ratna. Serta Cak Mamat, Cak Andre, Cak Hartono, dan Cak Agung Ch yang turut memperkuat barisan pemain utama.

Sri Rama Wijaya dipercaya memegang tampuk penyutradaraan, dengan tugas mengarahkan alur cerita serta penampilan seluruh kru dan pemeran agar selaras dengan tujuan awal pembuatan film. Ia berharap narasi yang disajikannya itu dapat menyentuh hati berbagai lapisan masyarakat kota Surabaya.

Advertisement

Kegiatan ini tidak berjalan sendiri, melainkan mendapat dukungan penuh dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Bhakti Asih yang dipimpin langsung oleh Edi Sukiswo. Dukungan tersebut menjadi bukti sinergi antara komunitas seni dan lembaga pendidikan khusus dalam memajukan kreativitas warga.

Selain itu, dukungan materi dan fasilitas datang dari Markat Jonny Doser selaku pengelola CV Rukun Jaya Sejahtera (RJS). Pihak penyelenggara mengakui peran RJS sangat membantu kelancaran persiapan hingga tahap penyelesaian syuting film nanti.

Sementara Kemas Elfiansyah Baky selaku Ketua Squad Nusantara DPW Jawa Timur turut memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan proyek tersebut. Ia menilai inisiatif warga selaras dengan visi memperkuat persaudaraan dan budaya nusantara di wilayah Jatim.

Dukungan juga mengalir dari PT Pacific Angkasa Abadi serta Pabrik Pipe Factory yang turut ambil bagian dalam menyokong keberlangsungan kegiatan ini. Komitmen dunia film itu dinilai penting agar upaya kreatif warga tidak terhalang kendala teknis maupun pendanaan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, latar belakang pemilihan judul Si Paman Boyo merujuk pada karakter lokal yang sarat nilai kearifan khas masyarakat Surabaya. Cerita besar tersebut mengangkat keseharian warga beserta tantangannya yang dihadapi lingkungan perkotaan.

Namun, detail naskah dan pesan spesifik yang ingin disampaikan belum diungkapkan secara lengkap kepada publik saat ini. Tim produksi berencana membeberkan isi cerita secara bertahap seiring berjalannya proses persiapan finishing syuting.

Inisiatif itu menjadi catatan penting, karena jarang ada kegiatan seni berbasis warga yang melibatkan sinergi beragam pihak mulai lembaga pendidikan hingga pelaku usaha. Hal tersebut menunjukkan potensi kolaborasi yang belum tergarap maksimal di banyak wilayah kota Surabaya.

Secara prinsip, gerakan tersebut patut diapresiasi sebagai langkah menjauhkan warga dari aktivitas yang kurang bermanfaat sekaligus memanfaatkan waktu untuk hal produktif. Meski demikian, tantangan konsistensi hingga tahap penyelesaian masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Perlu diperhatikan pula bahwa sejauh ini belum ada laporan adanya keterlibatan pemerintah kelurahan atau kecamatan secara langsung dalam penyelenggaraan proyek pembuatan film ini. Hal itu menjadi catatan agar sinergi dengan kebijakan pembinaan budaya daerah bisa diperkuat untuk ke depannya.

Pihak SLB Bhakti Asih menyatakan dukungan diberikan tanpa syarat dan tidak mengintervensi isi cerita maupun arah kreativitas tim pembuat film. Fokus utama kolaborasi tersebut adalah memberikan ruang partisipasi dan apresiasi terhadap kemampuan setiap insan tanpa terkecuali.

Sementara pengelola CV Rukun Jaya Sejahtera menyatakan dukungan yang diberikan berupa penyediaan fasilitas dan tidak mewakili kepentingan komersial tertentu dalam film itu. Sehingga seluruh hak cipta dan kendali karya tetap berada di tangan tim kreatif dan komunitas warga.

Ketua Squad Nusantara DPW Jatim menegaskan dukungan organisasinya bertujuan memperkuat nilai persatuan dan budaya bangsa, bukan untuk kepentingan kelompok atau kepentingan politik praktis apapun. Hal tersebut penting ditegaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman di kalangan masyarakat.

Tim penyutradaraan mengaku masih terdapat keterbatasan sumber daya manusia maupun peralatan dibandingkan produksi film berskala besar. Namun keterbatasan ini justru dijadikan tantangan untuk menunjukkan bahwa kreativitas tidak terhalang fasilitas yang mewah.

Pemeran Yayak Bonek mengungkapkan antusiasme tinggi karena berkesempatan tampil membawa cerita dari lingkungan sendiri untuk masyarakat sekitar. Ia berharap penonton dapat merasakan keaslian karakter yang dibangun itu dari pengalaman nyata warga.

Belum ada informasi pasti terkait jadwal penayangan perdana maupun lokasi penyebaran film nantinya. Tim produksi berencana menyampaikan kabar terbaru setelah proses pengambilan gambar dan penyuntingan selesai sepenuhnya pada waktunya nanti.

Secara keseluruhan, langkah warga RW 3 Simomulyo Baru menjadi contoh bahwa pembangunan jiwa bangsa tidak harus menunggu inisiatif dari atas. Namun upaya ini perlu didukung pengelolaan transparansi agar keberlanjutan dan manfaatnya dapat dirasakan secara luas. (*)

Advertisement