Tantangan dan Penguatan Daya Saing UMKM di Tengah Kenaikan BBM, Penurunan Daya Beli, dan Transformasi Digital

0
FOTO: Sri Wahyuni, SE, Staf Bidang Keilmuan BEM FEB Unismuh Makassar. (Ist)
FOTO: Sri Wahyuni, SE, Staf Bidang Keilmuan BEM FEB Unismuh Makassar. (Ist)

Penulis: Sri Wahyuni, SE, Staf Bidang Keilmuan BEM FEB Unismuh Makassar

“Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi.”

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Economic Intellectual Forum yang diselenggarakan oleh BEM FEB UNISMUH tidak hanya berfungsi sebagai ruang pengembangan wacana intelektual melalui rangkaian Seminar Nasional, Dialog Kebangsaan, Lokakarya, dan Bina Akrab, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan 15 tenant UMKM dan pelaku ekonomi kreatif.

Advertisement

Kehadiran tenant tersebut memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan produk mereka kepada khalayak yang lebih luas sekaligus memperkuat eksistensi ekonomi lokal.

Meskipun demikian, produk yang ditampilkan masih didominasi oleh sektor kuliner. Fenomena ini mengindikasikan bahwa pengembangan UMKM di tingkat lokal masih terkonsentrasi pada usaha makanan dan minuman, sementara sektor ekonomi kreatif lainnya seperti kriya, fesyen, desain, maupun produk berbasis inovasi teknologi belum menunjukkan representasi yang signifikan.

Kondisi tersebut mencerminkan masih terbatasnya diversifikasi usaha yang menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan UMKM di tengah dinamika perekonomian yang semakin kompetitif.

Dominasi sektor kuliner dalam ekosistem UMKM bukan tanpa alasan. Usaha kuliner umumnya memiliki hambatan masuk yang relatif rendah, kebutuhan modal yang lebih terjangkau, serta pasar yang tersedia secara langsung di lingkungan masyarakat. Namun, di sisi lain, tingginya jumlah pelaku usaha pada sektor yang sama juga menimbulkan persaingan yang semakin ketat.

Selain itu, kondisi ekonomi yang berfluktuasi turut memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat. Ketika terjadi perlambatan ekonomi, inflasi, atau kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, daya beli masyarakat cenderung menurun. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya dan mengurangi konsumsi terhadap produk-produk yang dianggap bukan kebutuhan utama. Kondisi ini berdampak langsung terhadap pelaku UMKM, khususnya sektor kuliner, yang sangat bergantung pada tingkat konsumsi masyarakat sehari-hari.

Penurunan daya beli masyarakat dapat menyebabkan menurunnya volume penjualan, berkurangnya pendapatan usaha, serta meningkatnya risiko keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

Permasalahan tersebut semakin diperparah oleh kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memiliki dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Kenaikan harga BBM tidak hanya meningkatkan biaya transportasi, tetapi juga memengaruhi biaya distribusi bahan baku, logistik, dan operasional usaha secara keseluruhan.

Bagi pelaku UMKM kuliner, misalnya, kenaikan biaya transportasi menyebabkan harga bahan baku seperti beras, minyak goreng, sayuran, telur, daging, dan berbagai kebutuhan produksi lainnya ikut mengalami kenaikan.

Di sisi lain, pelaku usaha sering kali menghadapi dilema antara menaikkan harga jual produk atau mempertahankan harga agar tetap terjangkau bagi konsumen. Apabila harga produk dinaikkan, terdapat risiko berkurangnya jumlah pembeli akibat menurunnya daya beli masyarakat.

Sebaliknya, apabila harga tetap dipertahankan, margin keuntungan pelaku usaha akan semakin menurun karena meningkatnya biaya produksi.

Dampak kenaikan BBM juga dirasakan oleh UMKM nonkuliner dan pelaku ekonomi kreatif. Biaya pengadaan bahan baku, pengiriman produk kepada konsumen, serta mobilitas dalam menjalankan usaha menjadi lebih tinggi. Pelaku usaha yang bergantung pada distribusi antarwilayah bahkan menghadapi beban biaya logistik yang semakin besar sehingga mengurangi efisiensi usaha.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat ekspansi bisnis, mengurangi kapasitas produksi, serta membatasi kemampuan UMKM untuk melakukan inovasi dan pengembangan produk. Tidak sedikit pelaku usaha yang terpaksa mengurangi jumlah produksi, menekan biaya tenaga kerja, atau menunda investasi usaha akibat meningkatnya biaya operasional.

Tantangan tersebut semakin kompleks di era digital saat ini. Perkembangan teknologi telah mengubah pola konsumsi masyarakat yang semakin bergantung pada platform digital dan perdagangan elektronik. Akan tetapi, tidak semua pelaku UMKM memiliki kemampuan yang memadai dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pemasaran dan pengembangan usaha.

Rendahnya literasi digital, keterbatasan akses terhadap pelatihan, serta minimnya pemahaman mengenai strategi branding dan pemasaran digital masih menjadi persoalan yang dihadapi banyak pelaku UMKM.

Di sisi lain, masuknya produk-produk dari luar daerah bahkan luar negeri melalui marketplace turut meningkatkan tingkat persaingan yang harus dihadapi pelaku usaha lokal.

Selain itu, permasalahan akses permodalan dan penguatan jaringan usaha juga masih menjadi isu yang relevan hingga saat ini. Banyak UMKM memiliki produk yang potensial, namun mengalami kesulitan dalam meningkatkan kapasitas produksi maupun memperluas jangkauan pasar karena keterbatasan sumber daya.

Kenaikan biaya operasional akibat inflasi dan harga BBM yang lebih tinggi juga membuat kebutuhan modal usaha semakin besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi, tetapi juga memerlukan dukungan dalam aspek inovasi, digitalisasi, akses pembiayaan, efisiensi operasional, dan kolaborasi antarpelaku usaha.

Referensi;

Bank Indonesia. (2024). Laporan Perekonomian Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia.

Diakses dari Bank Indonesia – Laporan Perekonomian Indonesia Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Indonesia 2024. Jakarta: BPS. Diakses dari Badan Pusat Statistik Nizar, M. A. (2012). Dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi dan kemiskinan di Indonesia.

Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan, 16(3), 1–15. Development (OECD). (2021).

The Digital Transformation of SMEs. Paris: OECD Publishing.

Diakses dari OECD Digital Transformation of SMEs, Purwana, D., Rahmi, & Aditya, S. (2017). Pemanfaatan digital marketing bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Madani.

Advertisement