
LEGION NEWS. COM – RUBRIK, Dinamika hukum dan politik nasional kembali memanas pasca-penggeledahan intensif oleh kepolisian terhadap sejumlah lokasi yang terkait dengan Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.
Di tengah riuhnya isu ini, muncul analisis tajam mengenai keterkaitan erat antara posisi Febrie dengan mantan Presiden Jokowi.
Praktisi intelijen, Kolonel (Purn) Sri Radjasa, menyoroti adanya pergeseran orientasi loyalitas Jampidsus yang kini disinyalir lebih mendekat ke lingkaran Presiden Prabowo Subianto. Hal ini disebut-sebut memicu kecemasan di kubu “kekuasaan lama”.
“Jampidsus yang hari ini sudah mulai bergeser orientasi loyalitasnya kepada Presiden. Nah, semua ini karena ada kedekatan dengan Pak Hasyim Djojohadikusumo. Ketika sekarang sudah mendekati adanya rencana pergantian Jaksa Agung, Jampidsus sudah dipanggil presiden terkait dengan jabatan itu. Ini kan perlu diamputasi, karena loyalitasnya tidak lagi kepada Jokowi,” ungkap Kolonel (Purn) Sri Radjasa dalam perbincangannya.
Lebih lanjut, Febrie yang selama ini dikenal sebagai sosok “algojo” beringas dalam penanganan kasus-kasus besar seperti Asabri dan Jiwasraya, kini justru dinilai menjadi ancaman nyata. Posisinya yang memegang data-data sensitif dianggap berbahaya jika sewaktu-waktu dibuka ke publik.
“Kenapa Jokowi cemas? Karena dia pegang truknya (kasus-kasus krusial). Jokowi tahu bahwa begitu beringasnya Febri kalau dia menangani persoalan hukum. Apalagi dalam kasus Asabri dan Jiwasraya, itu sangat kental sekali nuansa kepentingan politiknya di mana Jokowi ingin mengambil alih Partai Golkar,” tegas Sri Radjasa.
Analisis ini memperkuat dugaan publik bahwa penggeledahan yang terjadi bukan sekadar penegakan hukum murni, melainkan bentuk shock therapy dalam politik sandera. Status hukum Febrie yang hingga saat ini menggantung belum ditetapkan sebagai tersangka meski bukti-bukti telah ditemukan menjadi indikator kuat adanya proses tawar-menawar elit di balik layar. (Sumber: Forum Keadilan TV)























