Dari Warung Kaki Lima ke Restoran Mewah: QR Code Menyatukan, NU Malah Bertikai
Oleh: Makmur Idrus (Mantan Ketua GP. Ansor Makassar)
Ada ironi besar di depan mata kita. Sebuah kotak kecil berwarna hitam-putih bernama QR Code mampu diterima oleh hampir semua lapisan masyarakat. Dari pedagang kaki lima, warung kopi sederhana, tukang bakso, penjual gorengan, toko kelontong, minimarket, restoran mewah, hotel, bandara, sampai pusat perbelanjaan modern, semuanya bisa terhubung dalam satu sistem.
QR Code tidak punya muktamar. Tidak punya konferensi wilayah. Tidak punya konfercab. Tidak punya ranting, MWC, cabang, wilayah, atau pengurus besar. Ia juga tidak punya kiai sepuh, tidak punya tim sukses, tidak punya kubu, tidak punya barisan pendukung, dan tidak punya pengeras suara untuk saling menyalahkan. Tetapi anehnya, ia mampu mempersatukan banyak kepentingan.
Sementara NU, organisasi besar yang lahir dari rahim ulama, pesantren, sanad keilmuan, perjuangan umat, dan sejarah panjang bangsa, justru sering terlihat sibuk dengan pertengkaran internal. Mulai dari rebutan pengaruh, tarik-menarik kepentingan, saling jegal, saling curiga, sampai saling klaim paling sah dan paling NU. Akhirnya, energi besar yang seharusnya dipakai untuk mengurus umat, pendidikan, ekonomi warga, pesantren, kaderisasi, dan pelayanan sosial, habis untuk urusan siapa menang dan siapa kalah.
QR Code diterima karena ia memudahkan hidup orang. Pedagang kecil tidak perlu banyak teori untuk menggunakannya. Restoran besar juga tidak merasa turun derajat karena memakai sistem yang sama dengan warung kaki lima. Semua merasa terbantu. Tidak ada yang merasa paling mulia hanya karena transaksinya lebih besar. Tidak ada pula yang merasa paling rendah hanya karena dagangannya sederhana.
Di situlah pelajaran penting bagi NU. Organisasi akan dihormati kalau ia hadir sebagai jalan kemudahan, bukan sumber kerumitan. Jam’iyah akan dicintai kalau ia membuka ruang, bukan menutup jalan. Struktur akan dihargai kalau ia melayani warga, bukan menekan kader. Aturan akan ditaati kalau ia dipakai secara adil, bukan dijadikan alat untuk memenangkan kelompok tertentu.
Masalah NU hari ini bukan karena NU kekurangan orang pintar. NU tidak kekurangan ulama, akademisi, aktivis, profesional, birokrat, santri, pengusaha, guru, petani, nelayan, dan kader kultural. Justru NU terlalu kaya dengan sumber daya manusia. Yang sering menjadi masalah adalah kekayaan itu tidak selalu dikelola menjadi kekuatan bersama. Banyak potensi daerah yang tidak diberi ruang. Banyak kader lama yang berproses dari bawah merasa tersisih. Banyak orang yang sungguh-sungguh ingin mengabdi justru ditarik kakinya karena dianggap mengganggu peta kekuasaan.
QR Code tidak bertanya asal-usul orang. Ia tidak bertanya apakah pengguna itu dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, Maluku, atau Papua. Ia tidak bertanya apakah pemilik warung itu dekat dengan elite atau tidak. Ia bekerja dengan prinsip sederhana: yang terhubung, dilayani.
NU seharusnya jauh lebih mulia dari itu. NU punya nilai, adab, sanad, akhlak, fikrah, harakah, dan jam’iyah. Tetapi kalau dalam praktik organisasi yang dipakai justru logika kedekatan, bukan kapasitas; logika kubu, bukan khidmah; logika jabatan, bukan pengabdian; maka NU bisa kehilangan ruh besarnya.
Jangan sampai NU hanya besar di spanduk, tetapi kecil dalam keadilan organisasi. Jangan sampai NU lantang bicara kebangsaan, tetapi gagap membangun persaudaraan internal. Jangan sampai NU fasih bicara moderasi kepada bangsa, tetapi keras dan kasar kepada sesama kader sendiri. Jangan sampai NU mengajarkan tasamuh ke luar, tetapi gagal mempraktikkan tasamuh ke dalam.
Inilah yang perlu direnungkan. QR Code menyatukan karena standarnya jelas. Semua pihak tahu cara memakainya. Tidak ada tafsir suka-suka. Tidak ada aturan yang berubah tergantung siapa yang berkepentingan. Sistemnya sederhana, terbuka, dan bisa diuji. Sedangkan dalam organisasi, jika aturan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka yang lahir bukan ketaatan, melainkan kekecewaan.
NU perlu kembali kepada semangat awalnya: mengurus umat, menjaga ulama, membesarkan pesantren, memperkuat pendidikan, membela masyarakat kecil, dan merawat bangsa. Bukan sekadar menjadi kendaraan jabatan. Bukan pula tempat transit orang-orang yang baru datang ketika ada peluang kekuasaan.
Kader NU yang tumbuh dari ranting, MWC, cabang, banom, pesantren, majelis taklim, dan masyarakat kultural harus dihargai. Jangan setelah mereka puluhan tahun menjaga NU di akar rumput, tiba-tiba dikalahkan oleh orang yang baru muncul membawa akses dan kepentingan. NU bukan panggung karbitan. NU adalah rumah pengabdian panjang.
Kalau QR Code bisa menghubungkan pedagang kecil dengan sistem keuangan modern, maka NU seharusnya bisa menghubungkan kader kampung dengan kepemimpinan nasional. Kalau QR Code bisa membuat warung kecil merasa setara dalam satu ekosistem transaksi, maka NU seharusnya bisa membuat cabang-cabang di daerah merasa diakui dalam rumah besar jam’iyah.
Masalahnya, NU sering terlalu sibuk mengatur siapa yang boleh naik dan siapa yang harus ditahan. Akibatnya, organisasi yang mestinya menjadi lautan luas kadang terasa seperti kolam kecil yang dijaga beberapa orang. Siapa yang tidak sejalan dianggap ancaman. Siapa yang berbeda pendapat dianggap pembangkang. Siapa yang mengkritik dianggap musuh. Padahal kritik dalam organisasi adalah tanda masih ada cinta. Yang berbahaya justru diam karena sudah tidak peduli.
NU harus berani melakukan pembenahan besar. Pertama, aturan organisasi harus dijalankan secara konsisten. Kedua, kaderisasi harus diperkuat bukan hanya sebagai syarat formal, tetapi sebagai pembentukan ideologi, akhlak, dan tanggung jawab. Ketiga, daerah harus diberi ruang lebih adil dalam kepemimpinan. Keempat, jabatan di NU harus dipahami sebagai amanah, bukan tangga menuju kekuasaan. Kelima, budaya musyawarah harus dikembalikan sebagai jalan mencari maslahat, bukan sekadar alat mengesahkan keputusan yang sudah disiapkan sebelumnya.
NU juga perlu membangun budaya organisasi yang lebih sehat. Jangan semua forum berubah menjadi arena adu otot. Jangan pimpinan sidang merasa lebih tinggi dari peserta. Jangan keputusan penting dipukul palu sebelum akal sehat diberi ruang bicara. Dalam NU, palu sidang seharusnya menjadi alat menegakkan musyawarah, bukan palu godam untuk membungkam perbedaan.
Kita harus jujur, sebagian konflik NU bukan karena perbedaan fikrah, tetapi karena perebutan posisi. Bukan karena perbedaan mazhab, tetapi karena perbedaan kepentingan. Bukan karena membela umat, tetapi karena menjaga akses. Di sinilah penyakit organisasi harus diobati dengan keberanian moral.
NU tidak boleh kalah dari QR Code. Masa sebuah kotak hitam-putih bisa menyambungkan pedagang kaki lima dengan restoran mewah, sementara organisasi ulama justru sulit menyambungkan hati sesama pengurus? Masa teknologi bisa membuat orang saling percaya dalam transaksi, tetapi jam’iyah besar sulit membangun kepercayaan dalam musyawarah?
Tentu NU tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan QR Code. NU adalah organisasi hidup, penuh manusia, nilai, sejarah, emosi, dan dinamika. Tetapi justru karena NU hidup, maka ia harus lebih mampu belajar, memperbaiki diri, dan memperluas kemanfaatan. Jangan sampai NU hanya hebat dalam sejarah, tetapi lemah dalam tata kelola masa depan.
NU besar bukan karena banyaknya baliho. NU besar bukan karena banyaknya jabatan. NU besar bukan karena dekat dengan kekuasaan. NU besar karena umat merasa teduh di dalamnya. Kader merasa dihargai. Ulama merasa dihormati. Daerah merasa diakui. Pesantren merasa dilindungi. Warga kecil merasa dibela.
Pada akhirnya, pertanyaan ini harus kita jawab dengan jujur: mengapa QR Code bisa menyatukan kaki lima sampai restoran mewah, sedangkan NU masih sering bertikai di rumah sendiri?
Jawabannya mungkin pahit: karena QR Code bekerja untuk melayani sistem, sementara sebagian orang di NU kadang ingin sistem melayani dirinya.
Maka sudah saatnya NU kembali kepada khittah pengabdian. Kembali menjadi rumah besar, bukan rumah kubu. Kembali menjadi penghubung, bukan pemutus silaturahim. Kembali menjadi pelayan umat, bukan arena perebutan elite.
Sebab jika NU ingin tetap menjadi kekuatan moral bangsa, maka NU harus mampu membuktikan bahwa dirinya bukan hanya besar dalam sejarah, tetapi juga dewasa dalam mengelola perbedaan.
QR Code hanya kotak kecil. Tetapi ia memberi pelajaran besar: yang sederhana, adil, terbuka, dan bermanfaat akan diterima semua orang. NU pun seharusnya begitu.
























