LEGIONNEWSCOM – MAKASSAR, Ketua Umum BARAK 145, Illank Radjab, S.H., mengkritik keras beredarnya flyer yang menyebut masa depan Partai Golkar Sulawesi Selatan harus “dikorbankan” akibat konflik pribadi antara Bahlil Lahadalia dan Erwin Aksa. Menurutnya, narasi tersebut merupakan bentuk cara berpikir yang keliru dan tidak mencerminkan kedewasaan dalam berpolitik.
Illank menilai, mengaitkan masa depan organisasi sebesar Partai Golkar dengan dugaan hubungan personal antarelite merupakan penyederhanaan yang menyesatkan.
“Narasi seperti itu menunjukkan cara berpikir yang kekanak-kanakan dalam politik. Ini bukan analisis politik yang sehat, melainkan bentuk sesat pikir yang mengabaikan realitas bahwa Golkar adalah organisasi modern yang memiliki mekanisme, konstitusi, dan tradisi demokrasi,” tegas Illank.

Menurutnya, Musyawarah Daerah (Musda) bukanlah ruang untuk membangun opini berdasarkan relasi personal tokoh, melainkan forum konstitusional untuk menguji kapasitas, integritas, rekam jejak,u dan gagasan setiap calon pemimpin.
Illank mengatakan, seorang politisi semestinya membangun argumentasi yang bertumpu pada data, fakta, dan kepentingan organisasi, bukan pada asumsi yang berpotensi menggiring persepsi kader.
“Sangat disayangkan apabila dinamika politik internal Golkar direduksi menjadi konflik pribadi. Cara berpikir seperti itu mencerminkan kedangkalan sikap politik. Seolah-olah partai sebesar Golkar kehilangan kemandiriannya dan hanya bergantung pada hubungan antarindividu. Padahal yang menentukan arah partai adalah mekanisme organisasi dan keputusan kader.”
Ia menegaskan bahwa kader Golkar Sulawesi Selatan memiliki kedewasaan politik untuk menentukan pilihan berdasarkan kemampuan calon dalam memimpin organisasi, bukan berdasarkan narasi yang dibangun melalui sentimen personal.
“Golkar tidak boleh dipaksa memilih berdasarkan rasa suka atau tidak suka terhadap seseorang. Demokrasi internal harus dijaga tetap rasional dan berorientasi pada kepentingan organisasi. Membawa isu personal ke dalam ruang Musda justru berpotensi menyesatkan cara berpikir kader,” ujarnya.
BARAK 145 mengajak seluruh kader untuk menjaga kualitas demokrasi internal Golkar dengan mengedepankan adu gagasan, visi, dan program kerja. Menurut Illank, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh dibangun melalui narasi yang merendahkan kualitas diskursus politik.
“Politik yang dewasa melahirkan argumentasi. Politik yang kekanak-kanakan melahirkan asumsi. Karena itu, mari kita hentikan sesat pikir yang menjadikan konflik personal sebagai ukuran masa depan Golkar Sulawesi Selatan. Yang menentukan masa depan Golkar bukan relasi antarelite, melainkan kualitas kepemimpinan yang dipilih secara demokratis oleh kader.”
Illank menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa Musda Golkar Sulawesi Selatan harus menjadi momentum memperkuat persatuan dan menghadirkan kepemimpinan terbaik, bukan menjadi arena memperluas polarisasi melalui narasi yang tidak memberikan nilai tambah bagi kemajuan organisasi. (*)






















