Zona Merah COVID-19, Ketika Walikota Makassar Lebih Berkonsultasi ke Ahli Tulang Ketimbang Ahli Epidemiolog

Advertisement

Oleh: Redaktur
Anggota PWI 23.00.1361.20 MU

Epidemiolog adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari dan menganalisis tentang penyebaran, pola, dan penentu kondisi kesehatan dan penyakit pada populasi tertentu. Dikutip dari Wikipedia.org

SOROTAN, Legion-news Memperhatikan gaya komunikasi Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto atau biasa disapa Danny Pomanto dan Mantan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Prof Dr dr Idrus Paturusi, kita akhirnya paham, mengapa positivity rate terus mengalami tren kenaikan di kota Makassar.

Seorang Walikota yang pastinya berkuasa dan punya kewenangan atas kota dan segala isi didalamnya, serta idealnya punya kemampuan berkoordinasi dengan level Pemerintahan yang lain.

Advertisement
Infografis hasil tangkap layar dari laman website infocorona.makassar.go.id

Tapi alih-alih berkoordinasi, Walikota Makassar justru berkonsultasi dengan Idrus Paturusi yang spesialis Ahli Bedah Tulang,

Ketimbang berkonsultasi dengan Epidemiolog dari bidang Kesehatan Masyarakat, yang memang menekuni pengetahuan tentang wabah dan pandemi dengan segala bentuk alternatif strategi yang sifatnya taktis dan praktis.

Walikota juga tidak pernah berkonsultasi dengan ahli ekonomi untuk penanganan dampak ekonomi, atau ahli sosial-politik untuk menangani dampak sosial-politik dari pandemi ini.

Dulu sempat beredar kabar, bahwa Pemkot Makassar memang bekerja sama dengan Epidemiolog, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas), akan tetapi Unhas akhirnya menarik kembali keterlibatan Aminuddin Syam (Dekan FKM) dan Anshariadi (Epidemiolog) karena mungkin merasa atau mendengar sendiri bahwa Walikota sudah punya ‘Konsep yang Jitu’ untuk menangani pandemi.

Konsep itu bernama Makassar Recover (MR). Dan publik harus mengakui bahwa program MR ini cukup baik dan cukup berhasil.

Tahap pertama berhasil membuat proposal bernilai Rp370 milyar lebih, tanpa ada kejelasan anggaran sebesar itu dipakai untuk apa? dan bagaimana pengelolaannya?

MR juga cukup berhasil, membuat berbagai macam Satgas yang tidak jelas target dan implementasinya di lapangan, ada Raika, ada Covid Hunter, ada satgas Motivator, dan lainnya.

MR juga cukup berhasil memberdayakan Satgas Detector yang masuk kerumah-rumah warga di saat tingkat penularan sangat tinggi-tingginya, dengan mengambil data penduduk yang tidak jelas akan diapakan, dan akhirnya berhasil membuat banyak kerumunan satgas dimana-mana, yang bermuara pada keberhasilan Walikota dan Pemkot Makassar merubah warna zona penularan COVID-19, dari Oranye ke Merah.

Mengutip dari laman website infocorona.makassar.go.id menunjukkan adanya tren kenaikan kasus positif dan tingkat kematian akibat desiase corona virus atau COVID-19 di kota Makassar

Update per 31 Juli 2021 pukul 23:59 WITA statistik COVID-19 Dinas Kesehatan kota Makassar menampilkan perkembangan terkini penyebaran.

Total Suspek: Tercatat 9.603 orang, Arti Suspek adalah, “Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pada 14 hari sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.”

Sedangkan yang Meninggal mencapai 123 orang (per-31 Juli 2021) pukul 23:59 WITA dikutip dari website infocorona.makassar.go.id Ahad, 1 Agustus 2021.

Sedang menjalani Perawatan sebanyak 4.602 orang,

Sejak awal pandemi hingga Sabtu, 31 Juli 2021. Kesembuhan mencapai 35.149 jiwa, Meninggal 734 orang. Terkonfirmasi mencapai angka 40.485 jiwa.

Advertisement