LEGIONNEWS.COM| MOJOKERTO, – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Mojokerto, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ‘Majapahit Heritage Fun Run‘ yang digelar pada Minggu, 31 Mei 2026, bersifat mandiri dan kolaboratif.
Untuk itu, pihak pengurus menjamin tidak ada satu rupiah pun anggaran pendapatan dan belanja daerah atau APBD, yang digunakan untuk membiayai acara tersebut. Langkah ini diambil, guna mendukung pengembangan olahraga, tanpa membebani keuangan organisasi maupun kas daerah.

Bryan Setiawan selaku Humas Media, Litbang, dan Data KONI, dalam wawancara melalui pesan singkat WhatsApp pada Sabtu (23/5/2026), mengungkapkan hal tersebut dengan tegas. “Betul. Itu salah satu komitmen kita, agar kegiatan tidak tergantung keuangan organisasi. Biar bisa dimaksimalkan untuk cabor (cabang olahraga), harusnya didukung ya, karena bentuk kemandirian kita,” terangnya optimis.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama dengan para mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya. Hal ini dibenarkan sepenuhnya oleh Bryan sebagai bentuk tugas akhir dari kegiatan pembelajaran mereka. “Betul, itu tugas akhir dari kegiatan magang. Ini terlaksana mandiri, dan Alhamdulillah didukung sama pak Ketua KONI secara moril,” bebernya, menegaskan konsep swadaya murni yang dijalankan oleh tim pelaksana.

Ide besar itu, lahir dari keinginan mahasiswa untuk mempromosikan potensi olahraga dan pariwisata daerah, bukan merupakan program kerja rutin lembaga. “Kegiatan ini murni gagasan anak-anak muda yang magang di KONI dan berkeinginan mempromosikan potensi olahraga dan wisata. Tentunya, KONI harus menyambut niat baik tersebut,” tandasnya.
Pihaknya juga memastikan seluruh aturan administrasi dan prosedur kerja sudah ditelaah matang jauh-jauh hari agar setiap langkah penyelenggaraan berjalan lurus dan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Itu swadaya kolaborasi anak magang, Rp 0 APBD yang digunakan. Sudah kami pelajari betul-betul sebelum bertindak. Sebelum kita melaksanakan, sudah kami telaah dan kaji dulu agar sesuai dengan aturan, dan segala mekanisme perizinan, sudah kami tempuh,” paparnya panjang lebar.
Terkait beredarnya salinan surat permohonan dukungan yang dikaitkan dengan PT Sinar Sosro, Bryan memberikan penjelasan gamblang dan lugas. Ia menegaskan bahwa tindakan untuk mengirimkan berkas ke alamat perusahaan, tidak pernah dilakukan.
“Itu foto lembaran loh pak, masih ada di kantor kita. Nggak ada itu kita kirim ke PT Sinar Sosro seperti yang di jadikan sampul. Saya juga heran, kok bisa ada salinan itu. Sedangkan saya pastikan PT Sinar Sosro belum atau tidak menerima salinan itu. Sempat tercetak, cuman tidak dikirim,” ujarnya meluruskan fakta yang simpang siur di masyarakat.
Penjelasan tersebut, disampaikan ke awak media demi mengoreksi anggapan keliru dari para ‘komunitas terbatas’, yang seolah-olah lembaga memaksa meminta sumbangan kepada pihak perusahaan. “Itu tanpa paksaan, dan saya berterima kasih sama pihak yang berkolaborasi mensukseskan kegiatan ini. Artinya, banyak pihak yang ‘aware’ peduli dengan keolahragaan,” tambahnya.
Kejelasan tersebut menjadi bukti nyata, bahwa penyelenggara sangat berhati-hati dalam setiap urusan administrasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Kami tidak mau dianggap dan dicap abai terkait administrasi,” imbuhnya. Dalam keterangan berikutnya, Bryan menerangkan bahwa dana kegiatan seluruhnya bersumber dari biaya pendaftaran peserta dan dukungan sponsor yang diperoleh secara sukarela.
Ia juga memastikan setiap peserta yang membayar Rp 150 ribu, akan mendapatkan perlengkapan dan fasilitas yang sepadan nilainya. “Dapat baju, medali, racepack, BIB, nomer dada, konsumsi, refreshment, dan pengawalan dari tim profesional event lari. Saya pastikan kembali utuh kepada peserta,” janjinya, seraya menegaskan tidak ada keuntungan berlebih bagi panitia.
Mengenai penggunaan kop surat organisasi, Bryan mengaku sudah berkoordinasi dan mendapat izin dari ketua umum. Langkah itu diambil, semata-mata demi efisiensi administrasi dan meyakinkan mitra akan keabsahan kegiatan, dengan pertimbangan pengalaman di tempat lain.
“Sudah dapat izin dengan pertimbangan, ini adalah kegiatan swadaya anak magang Unesa dengan KONI. Pertimbangan kami untuk meyakinkan kegiatan, adalah kegiatan yang legal dan pasti terlaksana. Karena pernah kejadian di event yang sama, gagal terlaksana seperti di trawas bulan lalu, karena penyelenggaranya kurang legitimate,” tulisnya rinci.
Sebagai wadah pembinaan, KONI memang berkewajiban mendukung kegiatan positif tersebut, namun prinsipnya tetap memisahkan keuangan lembaga dan kepanitiaan agar bersih. “KONI punya kewajiban mendukung kegiatan olahraga yang positif, tetapi tetap memisahkan keuangan lembaga dan kepanitiaan. Dan itu yang sudah kami kerjakan,” aku Bryan.
Sampai saat ini, antusiasme warga Kabupaten Mojokerto sangat tinggi dan banyak yang bertanya, namun jumlah peserta dibatasi guna menjaga kualitas layanan yang profesional.
“Saya kagum dengan antusiasme para runner di Mojokerto. Sampai hari ini banyak banget yang DM dan WA saya terkait ingin daftar kegiatan ini. Namun kami mempertimbangkan, karena ini event run pertama kita, maka jumlah peserta kita batasi agar pelaksanaannya tetap berjalan profesional. Kita batasi 400 dan sepertinya itu sudah memenuhi,” urainya.
Acara tersebut rencananya digelar di kawasan Wisata Desa BMJ Majapahit, Dlanggu, dengan tujuan mengenalkan sejarah sekaligus mempromosikan gaya hidup sehat sekaligus persembahan istimewa kepada hari jadi Bumi Wilwatikta.
“Kami menyelenggarakan kegiatan ini, karena kita ingin mempersembahkan untuk hari jadi Mojokerto, bahwa memperingati hari jadi, kan tidak harus dari pemerintah. Maka bisa dari kami anak muda yang cinta akan daerahnya,” pesannya bersemangat.
Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata sinergi antara dunia pendidikan, pemuda, dan organisasi olahraga. Pengelolaan keuangan acara ini, tentunya dijalankan sangat ketat dan transparan tanpa ada tumpang tindih maupun pencampuran anggaran hibah.
“Dipastikan tidak ada tumpang tindih anggaran. Jadi ini murni dari registrasi peserta dan sponsorsip guna menjaga kepercayaan publik tentang KONI yang Alhamdulillah dan insyaallah selalu baik,” timpalnya menanggapi mekanisme pengelolaan keuangan.
Kehadiran kegiatan berbasis swadaya itu, kini menjadi contoh baik bagaimana inisiatif mandiri bisa berjalan beriringan dengan aturan resmi, dimana dukungan nama besar hanya sebagai payung kelembagaan dan operasional sepenuhnya dijalankan tim mandiri.
“Kehadiran kegiatan seperti ini, diharapkan bisa menggugah pelaku olahraga agar terus kreatif, inovatif, dan mandiri. Itu bisa lo dikerjakan. Sebagai payung kelembagaan dan tetap operasionalnya, dijalankan oleh tim secara mandiri,” lontarnya.
Pola seperti itu, dinilai sangat positif dan patut dikembangkan demi mengurangi ketergantungan pada anggaran negara serta merubah pola pikir masyarakat. “Ini sangat positif agar perlahan merubah pola pikir bahwasanya bikin kegiatan tidak harus menggunakan anggaran daerah,” pungkas Bryan Setiawan menutup perbincangan.
Pewarta: Agung Ch























