Sukmayadi, Kita Kalah Oleh Corona

233

Penulis : Sukyamadi Maeruddin Adalah salah satu alumni Universitas Hasanuddin Makassar saat ini tengah menyelesaikan pendidik program S2 di Universitas Hasanuddin Makassar.

Memahami semesta, Berarti harus memahami dengan melepaskan ke egoisan , memahami sekitar berarti merelakan sisi exclusivitas, bahwa hanya kita mahluk sempurna yang menurut konteks alkitab diserahi menjadi khalifah menjadi pewaris Tuhan di bumi. Konsep konsep absurd yg terbawa dalam berbagai dogma yg ditelan mentah mentah.

Corona juga adalah makhluk, mempunyai hak hidup , yang dalam konteks evolusi di adalah bagian paling penting dalam proses ini. Dia struggling dalam race perebutan supremasi, Ikut dalam lintasan perlombaan “siapa yg paling bertahan” dengan kaidah yang sama dengan yang lain , survival dan reproduksi.

Siapa nyana Corona juga berdoa layaknya kita dan doanya kali ini mungkin lebih diaccept dibanding Manusia, Dan mereka berhasil mengusir kita dari mimbar mimbar peribadatan kita yang suci. Menghentaskan ubun ubun kita di ubin ubin mesjid yg senantiasa dingin saat tubuh menhempas terhadapnya. Melemparkan nyanyian nyanyian merdu kita di depan Altar peribadatan gereja menjadi nyanyian lirih tak bermakna. “Mereka Sukses mereka menang”.

Tidakkah moment ini seperti menonjok kita manusia, Memaksa memalingkan kita dari keteguhan hati dari kesesatan berfikir. Sudah terlalu lama dengan kejumawaan dengan pangkat Khalifah, terlalu lama mendaku sebagai yang hanya punya Tuhan bahkan berseteru hanya karena itu.

Sudah saatnya kita harus memaksa diri untuk tidak selalu berfikir dengan kalimat tanya yang sama dan selalu seragam, Bagaimana kita bagaimana saya? Kacamata yg selalu sama dengan menggunakan kaca mata Manusia, Sesekali lah berfikir bagimana semesta bekerja, bagaimana bumi berprilaku, agar kita jadi bijaksana. Tidak serta merta mengutuki diri saat terjadi gempa, banjir , tidak serta merta mengutuki Tuhan karena telah jauh dari rahmat saat banyak kesulitan menghampiri.

Corona bukan seteru, Dia hanya DNA pembangkang, protein cerdas yg tak ingin terbungkus substansi sel, itulah kemudian dia tak bisa hidup sendiri, dia menjadi menjadi pelancong dari tubuh ketubuh dari inang ke inang. Dan siapa sangka ini adalah cara paling cerdas untuk surviv.

Cara hidup yang sangat merepotkan organisme besar terrmasuk hewan dan manusia.

Mungkin bagi hewan, Mereka sudah berdamai dengan cara hidup ini, tapi mereka melawan dengan cara paling bijak, yakni diam, tanpa statistik tanpa grafik , prinsip SES (Strategi Evolusi stabil) adalah perlawanan yang paling baik. 1% populasi diberi pada Virus untuk jadi inang. 1 kematian karena virus akan dibalas dengan 10 kelahiran.impas plus 10.

Tapi kita Manusia, Subyek unik. Setiap individu sangat penting, setiap individu bernama dan berTuhan, punya emosi, itulah kenapa cara hidup Corona ini memaksa manusia membuat Grafik dan statistik, satu kematian akan sangat mengenaskan. Lebih dari itu pandemic ini seakan menentang determinasi Manusia terhadap semesta, sudah lama dominasi dan supremasi ini ditangan kita dan tantangan ini harus dijawab, pertaruhannya adalah eksistensi.
Corona harus dilawan titik.

Tapi sebagaimana Kita melawan angin begitu juga upaya kita melawan virus, melawan yang tak tampak memang sangat menyulitkan, kita menjadi kelihatan sangat lucu karena itu. Menutup jalan dengan Portal, menutup Toko, menutup segala hal yang bisa di tutup. Sampai mulut kita saluran masuk setiap nutrisi untuk sel sel supaya kita bisa hidup juga di tutup. Corona belum datang kita mungkin sdh mati duluan . Dan akhirnya timbul perseteruan baru penanganan Virus ini dari cara pandang ekonomi atau kesehatan hal yg belum terjawab..tapi di ujungnya sama , ancaman pada eksistensi Manusia yakni Mati.

Tapi tahukah kita ? Manusia bisa mendominasi bumi karena kemampuan adaptasinya yang menakjubkan. Tahukah kita? bahwa selain sukses mendomestikasi hewan, Manusia sudah pernah sukses mendomestikasi Mikroba, Tahukah kita bahwa sepanjang Usus kita yang sehari hari dipakai untuk menyerap nutrisi dari Makanan ,berisi Bakteri baik yang membantu mencerna makanan tersebut, mungkin dulu bakteri tersebut juga menjadi Patogen buat Manusia dan karena genom kita punya kemampuan menetralisir patogen itu bahkan bisa merubahnya menjadi menguntungkan buat kita.

Ilmu kuno tentang strategi perang mengatakan, “Jika kamu sulit untuk menaklukkan seterumu , maka bersekutulah”  Mungkin adagium ini perlu dipakai dalam melawan Corona  Sampai suatu saat nanti kita bisa mendapatkan cara melawan yang paling baik. Mereka sedang diatas angin, dan kita terpaksa mengajukan klausul damai dengan berbagai syarat.
berdamai dengan Corona adalah jalan paling baik saat ini, sembari menunggu keajaiban genom cerdas dalam sel kita mempersiapkan senjata terbaik.(**)

Advertisement