LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Kader muda partai golkar sulawesi selatan, Ian Kamarudin merespon pernyataan Ketua DPD II Golkar Toraja Victor Datuan Batara.
Ia menyebutkan pernyataan Victor Datuan Batara adalah narasi yang dinilai mencoba membangun framing intimidatif terhadap Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.
Sebelumnya diberitakan Victor mengungkapkan bahwa Golkar Sulsel pernah melalui dua Musda yang dipaksakan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Golkar.
Akibatnya, Hasilnya suara Golkar mengalami penurunan hingga kehilangan kursi ketua DPRD Sulsel.
“Nah kali ini, tolonglah DPP untuk mendengarkan kami juga di tingkat kabupaten kota ini karena kamilah yang panglima-panglima yang sesungguhnya di lapangan. Tolonglah kami untuk didengarkan,” ujar Victor.
Pemilik akronim VDB itu menegaskan bahwa jika aspirasi akar rumput didengar, ia optimis Sulsel akan kembali jadi lumbung suara Golkar jika karena kader tetap solid setelah Musda digelar.
Kader muda partai golkar, Ian Kamarudin sangat menyayangkan pernyataan VDB itu. Pandangan Ketua DPD II Golkar Toraja yang menyebut penurunan suara partai di Sulawesi Selatan (Sulsel) disebabkan oleh sikap DPP yang dianggap kerap “memaksakan kehendak” dalam momentum Musda sebelumnya.
Menurutnya, argumentasi tersebut keliru dan menunjukkan ketidakpahaman terhadap doktrin karya kekaryaan Partai Golkar.
“Jangan mencoba mengintimidasi DPP dengan narasi seolah-olah setiap keputusan pusat menjadi penyebab turunnya suara partai. Itu argumentasi simplistis dan tidak mencerminkan semangat kaderisasi Golkar,” ujar Ian, Kamis. (28/5).
Menurut pria, yang biasa disapa Ian Anarki, problem utama Golkar di sejumlah daerah justru terletak pada lemahnya konsolidasi internal di tingkat DPD II. Banyak elite daerah, kata dia, lebih sibuk menyusun skema politik menjelang Musda dibanding memperkuat kerja-kerja organisasi dan menjaga militansi kader di akar rumput.
“Kalau hari ini ada penurunan elektoral di beberapa wilayah, maka yang harus dievaluasi adalah kepemimpinan daerah yang gagal melakukan konsolidasi partai secara maksimal. Jangan semua dibebankan ke DPP,” tegasnya.
Ian menilai, tradisi Partai Golkar sejak dahulu dibangun melalui garis komando organisasi yang solid, kolektif, dan berjenjang. Karena itu, komunikasi politik antara DPD dan DPP tidak semestinya dibangun dengan bahasa tekanan ataupun insinuasi politik.
“Golkar ini partai karya, bukan forum gertak politik. Kader yang memahami sejarah dan doktrin Golkar pasti tahu bahwa loyalitas organisasi dan kemampuan membesarkan partai di daerah adalah ukuran utama,” katanya.
Ia bahkan menegaskan bahwa kandidat atau kelompok yang membangun framing politik dengan nuansa intimidatif terhadap DPP tidak layak memimpin Golkar Sulawesi Selatan ke depan.
“Saya kira kandidat yang melakukan skema framing intimidatif terhadap DPP tidak layak memimpin Golkar Sulawesi Selatan ke depan. Golkar membutuhkan pemimpin pemersatu yang mampu membangun konsolidasi partai, bukan figur yang sibuk memainkan tekanan opini demi kepentingan Musda,” lanjut Ian.
Menurutnya, Musda seharusnya menjadi momentum memperkuat soliditas partai menuju agenda politik nasional mendatang, bukan justru memperuncing ketegangan internal antara daerah dan pusat.
“Jangan karena ambisi Musda lalu energi partai habis untuk saling menekan. Yang dibutuhkan Golkar Sulsel hari ini adalah kerja konsolidasi nyata, memperkuat kaderisasi, dan mengembalikan kekuatan partai di tengah masyarakat,” tutupnya. (*)
























