
LEGIONNEWS.COM – GOWA, Peta persaingan menuju kursi Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Selatan semakin dinamis. Di tengah intensifnya konsolidasi para kandidat, Rezza Pratama Said memilih memperkuat komunikasi dengan salah satu institusi yang memiliki posisi strategis dalam ekosistem industri properti: Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Rezza bertemu Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Gowa, Aksara Alif Raja, S.E., S.H., M.Adm.SDA., QRMP., Kamis (10/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi sorotan karena isu pertanahan, legalitas lahan, serta efektivitas komunikasi dengan pemerintah selama ini menjadi bagian penting dalam aktivitas para pengembang.
Dalam pertemuan itu, Aksara memberikan apresiasi terhadap gagasan yang disampaikan Rezza, khususnya terkait upaya membangun komunikasi yang lebih efektif antara stakeholder properti dengan BPN.
“Misi kerja Saudara Rezza sangat tajam dan tepat sasaran. Dia paham betul apa yang dibutuhkan developer saat ini. Visi Rezza untuk menjembatani dan mempermudah komunikasi stakeholder dengan BPN sangat selaras dengan semangat percepatan layanan kami,” ujar Aksara.
Rezza: REI Harus Jadi Jembatan
Bagi Rezza, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Ia melihat komunikasi langsung dengan stakeholder sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem properti yang lebih responsif.
“Ini bagian dari konsolidasi gagasan. Kami ingin memastikan REI ke depan benar-benar menjadi jembatan komunikasi antara anggota, pemerintah, dan seluruh stakeholder,” kata Rezza.
Ia menilai kepastian pertanahan dan legalitas merupakan salah satu fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis properti.
Karena itu, REI menurut Rezza harus mampu membantu anggotanya memahami sekaligus mengantisipasi berbagai persoalan yang berkaitan dengan pertanahan dan administrasi.
“Urat nadi developer salah satunya ada pada kepastian legalitas dan pertanahan. Maka komunikasi yang baik dengan stakeholder terkait harus terus diperkuat,” ujarnya.
Bukan Sekadar Janji
Rezza mengatakan dirinya tidak ingin membawa REI hanya dengan narasi besar tanpa implementasi.
Menurutnya, organisasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu membuka ruang komunikasi, mempercepat penyelesaian persoalan anggota, sekaligus membangun hubungan kelembagaan yang produktif dengan pemerintah.
“Yang dibutuhkan anggota adalah solusi. Bukan sekadar retorika. Karena itu, kita harus membangun sistem komunikasi dan kolaborasi yang bisa benar-benar dirasakan manfaatnya,” tegasnya.
Pertemuan Rezza dengan Kepala Kantor Pertanahan Gowa menjadi salah satu bagian dari rangkaian konsolidasi yang dilakukan menjelang pemilihan Ketua REI Sulsel.
Dengan mengusung agenda kolaborasi dan percepatan layanan, Rezza kini semakin aktif memperkenalkan gagasannya kepada berbagai stakeholder.
Kontestasi menuju kursi Ketua REI Sulsel pun dipastikan semakin menarik. Pertanyaannya kini, siapa yang mampu menawarkan gagasan paling konkret dan menerjemahkannya menjadi kerja nyata bagi para pengembang di Sulawesi Selatan? (*)






















