Pulang dengan Kesederhanaan: Perspektif Seorang Auditor

0
FOTO: Prof. Hannani (Ilustrasi)
FOTO: Prof. Hannani (Ilustrasi)

Oleh: Makmur Idrus, Mantan Auditor Ahli Madya Inspektorat

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Dalam dunia pengawasan dan audit, kesederhanaan seorang pejabat bukan sekadar gaya hidup. Ia sering menjadi indikator moral tentang bagaimana seseorang memperlakukan jabatan yang pernah berada di tangannya.

Karena auditor sesungguhnya tidak hanya membaca angka. Auditor juga membaca pola hidup, konsistensi perilaku, dan kewajaran antara penghasilan dengan perubahan gaya hidup seseorang.

Advertisement

Itulah sebabnya, ketika seorang mantan rektor seperti Prof. Hannani tetap hidup sederhana dan bahkan diketahui hanya menggunakan kendaraan (KR2,) alias motor butut publik tentu memiliki kesan tersendiri. Apalagi di tengah realitas banyak pejabat yang setelah selesai menjabat justru terlihat semakin mewah.

Dalam audit investigatif dikenal istilah red flag atau tanda-tanda awal yang patut dicurigai. Salah satu indikator yang paling mudah terlihat adalah lonjakan gaya hidup yang tidak sebanding dengan penghasilan resmi.

Auditor biasanya mulai bertanya ketika seseorang yang sebelumnya hidup biasa tiba-tiba memiliki rumah besar, kendaraan mewah, aset bertambah drastis, atau pola hidup yang berubah ekstrem setelah menduduki jabatan tertentu.

Sebab secara logika sederhana, penghasilan pejabat negara maupun pejabat kampus sebenarnya memiliki batas yang jelas. Gaji, tunjangan, dan fasilitas semuanya dapat dihitung. Ketika pertumbuhan kekayaan melampaui kewajaran, di situlah pertanyaan publik mulai muncul.

Karena itu, kesederhanaan seorang pejabat sering kali justru menjadi “jawaban diam” bahwa jabatan tidak digunakan sebagai alat akumulasi kekayaan pribadi.

Memang auditor tidak boleh menilai seseorang hanya dari tampilan luar. Ada orang sederhana tetapi bermasalah, ada pula orang kaya karena usaha dan warisan keluarga yang sah. Namun dalam praktik pengawasan, perubahan gaya hidup tetap menjadi salah satu pintu masuk analisis.

Di sinilah publik membaca sosok Prof. Hannani secara berbeda. Kesederhanaannya menghadirkan pesan moral bahwa tidak semua pejabat menjadikan jabatan sebagai jalan memperbesar kemewahan hidup.

Dari perspektif audit tata kelola, pejabat yang mampu menjaga kesederhanaan biasanya juga lebih mudah menjaga independensi keputusan. Karena ia tidak terlalu dibebani kebutuhan gaya hidup tinggi yang sering kali mendorong penyalahgunaan kewenangan.

Banyak kasus korupsi lahir bukan semata karena kebutuhan hidup, tetapi karena kebutuhan mempertahankan kemewahan. Gaya hidup akhirnya menjadi jebakan. Jabatan dipaksa terus menghasilkan uang untuk menopang citra sosial yang dibangun sendiri.

Itulah sebabnya auditor sering memahami bahwa integritas bukan hanya soal kepatuhan administrasi, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri.

Ketika seseorang selesai menjabat lalu tetap hidup sederhana, publik biasanya lebih mudah percaya bahwa selama memimpin ia bekerja dengan orientasi pengabdian, bukan orientasi memperkaya diri.

Dan sesungguhnya di situlah nilai paling mahal seorang pemimpin. Bukan pada banyaknya fasilitas yang berhasil dinikmati saat berkuasa, tetapi pada sedikitnya pertanyaan yang muncul setelah ia tidak lagi memiliki kekuasaan.

Sebab dalam pengalaman panjang dunia pengawasan, rakyat sebenarnya memiliki naluri audit yang sangat kuat. Mereka mungkin tidak membaca laporan keuangan, tetapi mereka mampu membaca perubahan perilaku dan perubahan kehidupan pejabat.

Ketika masyarakat melihat ada mantan pejabat yang tetap sederhana, tidak berubah drastis, tetap dekat dengan rakyat, dan tidak mempertontonkan kemewahan, maka kepercayaan publik tumbuh dengan sendirinya.

Mungkin karena masyarakat tahu satu hal sederhana: orang yang selesai berdamai dengan jabatan biasanya tidak terlalu sibuk memperlihatkan kekayaan.

Dan dari sudut pandang seorang auditor, kadang kesederhanaan bukan sekadar pilihan hidup. Ia bisa menjadi bentuk pertanggungjawaban moral paling sunyi kepada publik.

Karena pada akhirnya, jabatan bukanlah milik yang akan dibawa pulang selamanya. Semua kendaraan dinas akan dikembalikan, ruang kerja akan ditempati orang lain, ajudan akan pergi, dan papan nama jabatan suatu hari akan dicopot juga. Yang tersisa hanyalah doa atau sumpah serapah masyarakat atas cara kita menggunakan kekuasaan.

Maka berbahagialah pejabat yang ketika pensiun tidak ditakuti, tidak dibenci, dan tidak dicurigai. Sebab kehormatan sejati bukan ketika datang disambut protokoler, tetapi ketika pulang masih dihormati karena kejujurannya.

Sebab sesungguhnya, rakyat tidak pernah terlalu iri pada kekayaan pejabat. Rakyat hanya ingin memastikan bahwa kekuasaan tidak mengubah seseorang menjadi lupa diri. Dan di tengah dunia yang semakin gaduh oleh pencitraan, kesederhanaan adalah warisan moral paling indah yang bisa ditinggalkan seorang pejabat kepada generasi setelahnya.

Advertisement