Penulis: Illank Radjab, SH
LEGIONNEWS.COM – OPINI, David Easton pernah memandang politik sebagai proses authoritative allocation of values, bagaimana nilai dan sumber daya dialokasikan secara otoritatif dalam masyarakat. Tetapi teori politik selalu memiliki ujian paling sederhana: ketika politik turun dari ruang-ruang rapat dan bertemu dengan kehidupan nyata, apa yang ia dengarkan dan apa yang ia kerjakan?
Pertanyaan itu menjadi relevan dalam membaca roadshow konsolidasi Ilham Arif Sirajuddin (IAS) ke sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Dari perspektif BARAK 145, perjalanan tersebut tidak cukup dibaca sebagai agenda konsolidasi struktur Partai Golkar. Ia dapat menjadi sebuah perjalanan politik untuk membaca kembali denyut daerah.
Politik, dalam pengertian yang paling manusiawi, membutuhkan jarak yang dekat dengan rakyat. Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel statistik. Mereka hidup dalam harga hasil pertanian, hasil tangkapan nelayan, biaya pendidikan anak, kesempatan kerja, persoalan infrastruktur, dan harapan sederhana agar pemerintah serta kekuatan politik tidak hanya hadir ketika membutuhkan suara.
Karena itu, politik harus turun ke jalan.
Ia harus berjalan menuju desa-desa, menyapa masyarakat, mendengar kegelisahan, membaca perubahan dan memahami bahwa setiap daerah memiliki cerita yang berbeda.
Sulawesi Selatan bukan satu wajah. Ia adalah mosaik: desa dan kota, pesisir dan pegunungan, pertanian dan perdagangan, tradisi dan modernitas. Karena itu, konsolidasi politik tidak boleh berhenti pada penyamaan struktur. Yang jauh lebih penting adalah menemukan titik temu gagasan.
Dalam demokrasi, partai politik memiliki fungsi artikulasi dan agregasi kepentingan. Artinya, partai seharusnya mampu menangkap suara yang berserak di masyarakat, merumuskannya menjadi agenda, kemudian memperjuangkannya melalui institusi politik.
Maka ukuran sebuah roadshow tidak semata-mata terletak pada jumlah pertemuan yang dilakukan. Ukurannya adalah berapa banyak suara daerah yang berhasil dibawa pulang menjadi agenda politik.
Di sinilah roadshow IAS seharusnya memiliki makna yang lebih dalam.
Konsolidasi organisasi memang penting. Tetapi struktur yang kuat tanpa gagasan hanya akan melahirkan mesin politik. Sebaliknya, gagasan yang kuat tanpa organisasi akan kehilangan jalan menuju kebijakan.
Keduanya harus bertemu.
Konsolidasi struktur harus melahirkan konsolidasi gagasan.
Bagi BARAK 145, salah satu gagasan penting yang perlu mendapatkan ruang adalah regenerasi politik. Pemuda tidak boleh terus ditempatkan hanya sebagai massa pendukung, pelaksana kegiatan atau penghias panggung politik. Pemuda harus diberi kesempatan untuk menjadi pemikir, penggerak, pengambil keputusan dan calon pemimpin.
Generasi muda Sulawesi Selatan memiliki persoalan yang tidak sederhana: pekerjaan, pendidikan, ekonomi digital, ruang kreativitas, kebudayaan, lingkungan, hingga akses terhadap kesempatan politik. Semua itu membutuhkan kebijakan yang lahir dari pemahaman terhadap realitas generasi baru.
Karena itu, politik anak muda harus naik kelas: dari politik kerumunan menjadi politik gagasan.
Roadshow juga seharusnya menjadi ruang untuk mendengar kelompok-kelompok yang selama ini berada di pinggir percakapan politik: petani kecil, nelayan, pelaku UMKM, perempuan, pemuda desa, pekerja informal dan masyarakat yang hidup jauh dari pusat pemerintahan.
Sebab demokrasi akan kehilangan ruhnya apabila suara rakyat hanya terdengar ketika bilik suara dibuka.
Saya kira di sinilah tantangan IAS dan Golkar Sulawesi Selatan ke depan. Bukan hanya bagaimana memenangkan pertarungan elektoral, tetapi bagaimana membangun kembali kepercayaan politik.
Kepercayaan tidak lahir dari baliho. Ia tumbuh dari pertemuan. Tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari kerja. Tidak lahir dari janji. Ia tumbuh ketika masyarakat melihat bahwa suara mereka benar-benar diperjuangkan.
Maka, roadshow IAS hendaknya tidak berhenti ketika kendaraan meninggalkan satu daerah menuju daerah berikutnya. Yang harus tinggal adalah catatan tentang persoalan rakyat, gagasan pembangunan, kader yang tumbuh, dan pekerjaan yang harus diselesaikan.
Pada akhirnya, politik yang turun ke jalan bukan politik yang kehilangan arah. Justru sebaliknya, ia sedang mencari kembali arah politik itu sendiri.
Dari rakyat ia mendengar. Dari daerah ia belajar. Dari persoalan ia merumuskan gagasan. Dan dari gagasan itulah politik menemukan alasan untuk bekerja.
Itulah perspektif BARAK 145 terhadap roadshow IAS: konsolidasi politik harus menjadi perjalanan menemui rakyat, bukan sekadar perjalanan mengumpulkan kekuatan.
Pada akhirnya, Ilham Arif Sirajuddin sedang membaca kembali politik di Sulawesi Selatan, bukan hanya melalui peta kekuatan partai, tetapi melalui perjalanan menemui daerah, mendengar suara masyarakat, dan memahami perubahan yang bergerak dari bawah. Roadshow menjadi semacam perjalanan membaca ulang denyut politik Sulsel: bahwa kekuatan politik tidak hanya lahir dari struktur, tetapi dari kemampuan merawat hubungan, kepercayaan dan harapan masyarakat.
Ilham Arif Sirajuddin sedang membaca kembali Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Selatan pada saat yang sama sedang membaca kembali bagaimana politik bekerja untuk dirinya. Sebab pada akhirnya, politik bukan sekadar tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang gagasan apa yang dibawa dan perubahan apa yang mampu ditinggalkan.

























