JAKARTA – Ketua Umum Logis 08, Anshar Ilo, menilai keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara hingga saat ini belum menunjukkan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Anshar, sejak dibentuk, BPI Danantara belum mampu menghadirkan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi masyarakat maupun penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Selama lebih dari satu tahun berdiri, Danantara belum terlihat memberikan kontribusi efektif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hari ini mencapai 5,61 persen,” ujar Anshar Ilo, Jumat (08/05).
Ia menilai investasi yang dijalankan Danantara belum sepenuhnya menyentuh sektor-sektor strategis yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas maupun memperkuat ekonomi nasional secara berkelanjutan.
“Investasi yang dilakukan juga belum tepat sasaran. Harusnya Danantara hadir dengan investasi produktif yang berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja, penguatan industri nasional, dan peningkatan daya beli masyarakat,” katanya.
Anshar menegaskan, Danantara tidak boleh hanya berhenti sebagai lembaga pengelola aset negara atau perusahaan BUMN semata.
Menurutnya, jika hanya menjalankan fungsi pengelolaan aset, maka keberadaannya dinilai tidak memiliki perbedaan signifikan dengan Kementerian BUMN.
“Jangan sampai Danantara hanya menjadi pengelola aset negara saja. Kalau demikian, apa bedanya dengan Kementerian BUMN. Harusnya Danantara menjadi instrumen pencipta pertumbuhan ekonomi baru,” tegasnya.
Ia mendorong agar Danantara mulai fokus pada investasi di sektor riil yang memiliki efek berganda terhadap ekonomi nasional, seperti hilirisasi industri, pangan, energi, perikanan, hingga pengembangan UMKM.
Menurut Anshar, Indonesia membutuhkan lembaga investasi negara yang agresif namun tepat sasaran dalam membangun fondasi ekonomi jangka panjang.
“Danantara harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi baru, bukan hanya simbol pengelolaan aset negara,” tutupnya. (**)

























