Jelang Musda: Belajar dari Kegagalan NH dan TP di Pemilu 2019-2024, Siapa Layak Ketua DPD I Golkar Sulsel?

0
FOTO: Partai Golkar (istimewa)
FOTO: Partai Golkar (istimewa)

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Partai berlambangkan pohon beringin (Golkar) anjlok di urutan tiga besar sejak Pemilu digelar masa orde baru dan hingga era reformasi.

Tahun 1999, 2024, 2009, 2014, Partai Golkar mendominasi perolehan suara terbesar di provinsi sulawesi selatan (Sulsel), Bahkan dijuluki “Lumbung Suara” partai berlambangkan pohon beringin rindang itu.

Gejala kekalah perolehan suara partai Golkar di Sulsel terlihat di Pemilu 2019, Makassar sebagai barometer kemenangan justru dikalahkan oleh partai Nasdem.

Advertisement

Tahun 2019, Partai Nasdem berhasil merebut kursi Ketua DPRD Makassar. Kalah itu Nurdin Halid (NH) sebagai pelaksana tugas (Plt) DPD I Partai Golkar.

Naasnya di Tahun 2024 saat Taufan Pawe (TP) Ketua DPD I Golkar Sulsel, Kursi Ketua DPRD Sulawesi Selatan direbut partai Nasdem.

Bahkan dibeberapa kabupaten kota di Sulawesi Selatan partai golkar tak menguasai kursi Ketua DPRD.

Mengutip keputusan KPU Provinsi Sulawesi Selatan, Nomor: 740 Tahun 2024 tentang perolehan suara partai politik peserta Pemilu, Terdapat 5 partai politik yang memiliki suara terbesar, diantaranya;

  • Partai NasDem perolehan suara, 887.682
  • Partai Gerindra perolehan suara, 812.563
  • Partai Golkar perolehan suara, 770.454
  • PKB perolehan suara 389.706
  • PDI Perjuangan 326.328

Musda ke XI Partai Golkar Sulsel 2026

DPP Partai Golkar belum menjadwalkan gelaran Musyawarah Daerah (Musda) hingga Jepang pertengahan tahun 2026.

Tiga nama dipastikan sebagai calon kuat mereka di antaranya, Fungsionaris Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Munafri Arifuddin (APPI) dan Andi Ina Kartika Sari.

Pandangan Pengamat Politik Terhadap 3 Calon Ketua Golkar Sulsel

Asratillah, Direktur Profetik Institut menilai Kemunduran suara Golkar di Sulawesi Selatan dalam dua pemilu terakhir menunjukkan bahwa partai ini sedang mengalami penurunan pengaruh yang cukup serius.

“Dulu Golkar dikenal sebagai kekuatan dominan dan menjadi simbol politik paling kuat di Sulsel. Namun sejak 2019 hingga 2024 terlihat jelas bahwa dominasi itu mulai digeser oleh Nasdem dan partai lain.” ujar Direktur Profetik Institut.

Kata Asratillah, Ini bukan hanya soal angka elektoral, tetapi juga menandakan bahwa daya ikat emosional Golkar terhadap pemilih mulai melemah terutama di wilayah perkotaan seperti Makassar.

“Saya melihat bahwa Musda Golkar 2026 bukan sekadar memilih ketua baru, tetapi menjadi titik penentuan arah masa depan partai di Sulsel. Jika salah memilih figur, Golkar bisa semakin tertinggal pada Pemilu 2029. Karena itu, partai membutuhkan pemimpin yang bukan hanya kuat secara internal, tetapi juga mampu merebut kembali kepercayaan publik dan membangun energi baru di akar rumput.” tutur Asratillah. Jumat (7/5/2026)

Asratillah menyebutkan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) memiliki kelebihan pada pengalaman dan kemampuan membaca peta politik. Ia adalah figur senior dengan jejaring luas dan pengalaman panjang dalam mengelola kekuatan politik di Sulsel.

Sementara itu kata Direktur Profetik Institut, Sosok calon Ketua Golkar unsur perempuan, Andi Ina Kartika Sari membawa simbol regenerasi dan memiliki kekuatan struktural yang cukup diperhitungkan. Kedua figur ini tetap punya kapasitas besar untuk memimpin Golkar Sulsel dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Namun saya menilai bahwa Munafri Arifuddin [Appi] memiliki keunggulan yang cukup relevan dengan tantangan Golkar hari ini.” katanya.

“Appi merepresentasikan kombinasi antara kekuatan organisasi, kedekatan dengan generasi pemilih baru, dan kemampuan membangun komunikasi politik yang lebih modern.” imbuhnya.

“Dukungan mayoritas DPD II yang disebut mengarah kepadanya menunjukkan bahwa ia memiliki penerimaan yang kuat di bawah. Dalam situasi Golkar yang sedang mencari momentum kebangkitan, figur seperti Appi terlihat lebih dekat dengan kebutuhan pembaruan partai.” ucap Asratillah.

Pada akhirnya, Direktur Profetik Institut memandang bahwa siapa pun ketua terpilih nanti harus mampu membawa Golkar keluar dari nostalgia kejayaan masa lalu.

“Politik hari ini tidak cukup hanya mengandalkan nama besar partai. Golkar membutuhkan figur yang mampu bekerja cepat membangun konsolidasi dan mengembalikan kepercayaan publik. Dari tiga nama yang ada, IAS kuat dalam pengalaman, Andi Ina kuat dalam simbol regenerasi, tetapi Appi terlihat memiliki peluang besar untuk menjadi jembatan antara tradisi lama Golkar dan tuntutan politik masa depan.” tutup Asratillah. (LN)

Advertisement