Pembelaan, Asuransi Politik, dan Pintu yang Sengaja Tidak Ditutup

0
FOTO: Makmur Idrus, Mantan ketua GP. Ansor Makassar. 
FOTO: Makmur Idrus, Mantan ketua GP. Ansor Makassar. 

Oleh: Makmur Idrus Assegaf
Aktivis NU/Mantan Auditor Pemerintah

Oleh: Makmur Idrus Assegaf
Aktivis NU/Mantan Auditor Pemerintah

Membaca strategi politik di balik sikap membela pihak yang sebenarnya bukan berada dalam barisan sendiri.

Advertisement

Dalam politik, sikap seseorang tidak selalu dapat dibaca secara hitam-putih. Orang yang membela belum tentu mendukung. Sebaliknya, orang yang tidak menyerang juga belum tentu berada dalam satu barisan.

Politik memiliki banyak lapisan kepentingan.

Karena itu, sebuah pembelaan terhadap figur yang secara politik berada di kubu berbeda dapat memiliki lebih dari satu makna. Bisa jadi pembelaan tersebut benar-benar lahir dari sikap objektif dan penghormatan terhadap fakta. Namun dalam situasi tertentu, ia juga dapat dibaca sebagai bagian dari strategi menjaga hubungan politik.

Dalam bahasa sederhana:

“Dalam politik, pembelaan kepada lawan belum tentu dukungan. Kadang ia hanya asuransi politik: kalau jagoannya kalah, pintu sebelah belum tertutup.”

Kalimat tersebut tentu bukan rumus pasti untuk menilai setiap perilaku politik. Ia lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu kerangka analisis.

Politik Tidak Selalu Tentang Kawan dan Lawan

Dalam kompetisi politik maupun organisasi, seseorang sering berada dalam situasi yang tidak sederhana.

Ia mungkin memiliki kandidat yang diperjuangkan, tetapi pada saat bersamaan tetap membangun komunikasi dengan kandidat lain.

Strategi seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing.

Seorang aktor politik yang rasional biasanya akan mempertimbangkan beberapa kemungkinan sekaligus. Ia tentu menginginkan kandidat yang didukungnya menang. Namun ia juga harus menghitung apa yang terjadi apabila hasil akhirnya berbeda dari harapan.

Karena itu, sebagian politisi memilih tidak membakar seluruh jembatan.

Mereka tetap menjaga hubungan personal, komunikasi, bahkan sesekali memberikan pembelaan terhadap figur yang sebenarnya berada di luar barisan politiknya.

Dalam konteks inilah muncul apa yang dapat disebut sebagai political insurance atau asuransi politik.

Tujuannya sederhana: mengurangi risiko apabila konfigurasi kekuasaan berubah.

Menjaga Pintu Tetap Terbuka

Dalam politik, kekalahan kandidat tidak selalu berarti berakhirnya kepentingan politik.

Setelah kompetisi selesai, organisasi tetap berjalan.

Struktur baru terbentuk.

Koalisi baru lahir.

Hubungan kekuasaan juga berubah.

Karena itu, aktor politik yang berpengalaman biasanya berhati-hati agar konflik pada masa kompetisi tidak berubah menjadi permusuhan permanen.

Di sinilah pembelaan terhadap pihak lain dapat memiliki fungsi strategis.

Pembelaan tersebut dapat menjadi sinyal bahwa:

“Saya memang berada di kubu lain, tetapi saya tidak memusuhi Anda.”

Pesan semacam ini penting dalam politik.

Sebab hari ini seseorang bisa menjadi pesaing, tetapi besok mungkin menjadi mitra.

Hari ini berada di luar lingkaran kekuasaan, besok justru menjadi pusat kekuasaan.

Politik memang sering memiliki kemampuan luar biasa mengubah posisi orang lebih cepat daripada kursi rapat dipindahkan setelah acara selesai.

Impression Management

Ada pula pendekatan lain yang menarik, yaitu konsep impression management.

Dalam kehidupan politik, aktor tidak hanya memperjuangkan kepentingan. Mereka juga membangun citra tentang dirinya di hadapan publik dan kelompok-kelompok politik lainnya.

Seseorang mungkin ingin dikenal sebagai figur moderat, objektif, tidak emosional, dan tidak membenci lawan.

Karena itu, sesekali ia menunjukkan pembelaan terhadap pihak yang sedang diserang, sekalipun pihak tersebut bukan kandidat yang didukungnya.

Secara etis, tindakan seperti ini tentu dapat bernilai positif apabila benar-benar didasarkan pada fakta dan keadilan.

Namun dari sudut analisis politik, publik juga berhak mengamati apakah sikap tersebut konsisten.

Apakah pembelaan dilakukan karena prinsip?

Ataukah hanya muncul ketika secara politik menguntungkan?

Pertanyaan seperti itu sah diajukan sepanjang tetap diletakkan sebagai analisis, bukan tuduhan.

Strategic Ambiguity

Politik juga mengenal strategi menjaga posisi agar tidak terlalu mudah dibaca.

Dalam praktik komunikasi politik, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep strategic ambiguity, yaitu mempertahankan tingkat ketidakjelasan tertentu agar seseorang tidak sepenuhnya terkunci pada satu posisi.

Caranya bermacam-macam.

Ada yang mendukung kandidat tertentu tetapi tidak menyerang kandidat lain.

Ada yang berada dalam satu jaringan politik tetapi tetap memuji figur dari kubu berbeda.

Ada pula yang memberikan kritik sekaligus pembelaan kepada figur yang sama dalam waktu berbeda.

Dari luar, sikap seperti ini terlihat membingungkan.

Tetapi dari perspektif strategi, ketidakjelasan justru dapat memberikan ruang gerak.

Semakin banyak pintu yang tetap terbuka, semakin banyak pilihan yang tersedia apabila situasi berubah.

Cara Membedakan Pembelaan Prinsip dan Pembelaan Strategis

Tentu tidak adil apabila setiap pembelaan langsung dicurigai sebagai manuver politik.

Karena itu, analisis harus dilakukan dengan hati-hati.

Yang perlu diperhatikan bukan satu pernyataan, melainkan pola perilaku.

Pertama, lihat konsistensinya.

Apakah seseorang membela prinsip yang sama ketika menimpa kawan maupun lawan?

Jika iya, pembelaan tersebut lebih mungkin lahir dari prinsip.

Kedua, lihat posisi politiknya.

Siapa kandidat yang sebenarnya diperjuangkan?

Dengan siapa ia bergerak?

Jaringan mana yang selama ini paling dekat dengannya?

Ketiga, lihat waktunya.

Apakah pembelaan muncul ketika kekuatan politik mulai berubah?

Apakah terjadi ketika kandidat tertentu mulai menguat atau ketika kandidat yang didukungnya mulai menghadapi kesulitan?

Keempat, lihat perilaku setelah kompetisi selesai.

Di sinilah sering terlihat apakah pembelaan sebelumnya memang merupakan sikap prinsip atau bagian dari strategi menjaga hubungan politik.

Jangan Terlalu Cepat Menuduh

Analisis politik sebaiknya tidak berubah menjadi penghakiman.

Kita tidak dapat mengetahui secara pasti isi pikiran seseorang hanya berdasarkan satu tulisan, satu pernyataan, atau satu pertemuan.

Karena itu, istilah seperti political insurance, impression management, atau strategic ambiguity sebaiknya digunakan sebagai alat membaca kemungkinan, bukan sebagai vonis.

Bahasanya pun harus dibedakan.

Lebih aman mengatakan:

“Sikap tersebut dapat dibaca sebagai upaya menjaga ruang komunikasi politik.”

Daripada langsung menyimpulkan:

“Dia sengaja berpura-pura membela karena ingin mencari aman.”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara akademik dan etis sangat penting.

Yang pertama adalah analisis.

Yang kedua sudah berubah menjadi tuduhan mengenai motif pribadi yang belum tentu dapat dibuktikan.

Politik Selalu Menyimpan Rencana Cadangan

Pada akhirnya, politik adalah seni mengelola kemungkinan.

Seorang politisi atau aktor organisasi yang berpengalaman jarang hanya menyiapkan satu skenario.

Ada rencana utama.

Ada rencana kedua.

Kadang bahkan ada rencana ketiga yang tidak pernah dibicarakan di depan publik.

Karena itu, pembelaan terhadap lawan politik tidak selalu berarti berpindah dukungan.

Ia mungkin merupakan bentuk penghormatan terhadap prinsip.

Ia bisa merupakan cara menjaga komunikasi.

Ia juga mungkin menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko apabila konfigurasi politik berubah.

Publik tentu tidak perlu terlalu cepat mencurigai.

Tetapi publik juga tidak harus terlalu polos membaca politik.

Sebab dalam politik, yang penting bukan hanya siapa yang dibela melalui kata-kata, tetapi juga siapa yang diperjuangkan melalui tindakan.

Dan kadang-kadang, pembelaan kepada lawan bukan berarti seseorang telah menyeberang.

Ia hanya sedang memastikan bahwa jika suatu hari harus mengetuk pintu sebelah, pintu itu belum dikunci dari dalam.

Advertisement