Opini: NDP HMI Sebagai Suatu Ikhtiar Umat Beragama dalam Bergotong Royong di Indonesia

Sulaiman Yamlean (Aktivis HMI)

Oleh: Sulaiman Yamlean (Aktivis HMI)

LEGION NEWS.COM, JAKARTA – Indonesia merupakan bangsa majemuk yang membutuhkan sebuah instrumen pemersatu untuk menjaga keutuhan NKRI sebagai fondasi dalam melakukan gerakan bersama untuk memajukan peradabannya.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak awal kemerdekaan hingga sekarang konsisten dalam merawat persatuan-kesatuan bangsa. Spirit Keislaman-Keindonesiaan kader HMI merupakan kepribadian lahiriah dan batiniah dalam rangka melakukan perjuangan di tengah-tengah masyarakat.

“Kedewasaan beragama setiap umat beragama bermula pada pemahaman, penghayatan dan pengamalan agama yang diyakininya secara benar,” kata Sulaiman Yamlean, Rabu (29/9/2021).

Advertisement

Menurutnya, kedewasaan beragama dalam memahami dan meyikapi kehidupan bangsa yang pluralitas seperti Indonesia, merupakan suatu keniscayaan yang harus selalu dikembangkan dan disebarluaskan serta diimplementasikan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia.

Kedewasaan beragama disini dapat dipahami sebagai suatu titik dimana umat beragama telahkeluar dari ekslusivisme menuju kepada inklusivisme, pada titik ini juga umat beragama harus disertai sikap tulus menerima kenyataan kemajemukan sebagai yang bernilai positif.

“Dimana menegaskan diri akan pengakuan pada penganut agama lain untuk hidup bersama danmenjalankan ajaran agama masing-masing sesuai dengan apa yang menjadi dasar iman masing-masing umat beragama,” katanya.

Karena itu, kedewasaan beragama merupakan usaha utama guna menumbuhkan kesadaran akan persatuan dan kesatuan bangsa untuk mewujudkan kerukunan hidup umat beragama di Indonesia. Salah satu komponen bangsa yang sangat penting pada era saat ini untuk mengembangkan, menyebarluaskan dan mengimplimentasikan kedewasaan beragama adalah organisasi keagamaan.

Termaksud didalamnya Himpunansuatu Mahasiswa Islam (HMI). HMI merupakan organisasi mahasiswa Islam tertua dan tersebar luas di Indonesia.

“Dua tahun setelah kemerdekan Indonesia, HMI resmi menjadi salah satu organisasi mahasiswa Indonesia dan satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia ketika itu,” jelasnya.

Tepat tanggal 5 Februari 1947, HMI menjadi warna baru mahasiswa Indonesia atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 mahasiwa Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia).

Sampai usia 69 tahun, organisasi mahasiswa ini masih tetap mempertahankan eksitensi sebagai wadah candradimuka mahasiswa. Anggota HMI saat ini tersebar di seluruh Indonesia.

Hal ini setidaknya memberi pandangan bahwa organisasi ini menarik untuk dipahami secara komperensif sebagai suatu kajian studi agama. Bila dilihat secara historis awal berdirinya, HMI tidak memiliki arah intelektual yang jelas terhadap asas Islam yang menjadi dasar dan landasan organisasi dalam berjuang.

Asas Islam yang digunakan HMI pada awal berdirinya hanya sebatas semangat, tanpa suatu pemahaman mendalam atas Islam itu sendiri.

Lebih jauh fenomena yang terjadi di HMI semakin memprihatinkan, karena selama pertumbuhannya sampai tahun 60-an, HMI lebih banyak telibat dalam gerakan-gerakan fisik dan politik praktis daripada gerakan-gerakaan yang bersifat intelektual.

Baru ketika bulan Mei 1969, yang pada saat itu Pengurus Besar HMI dipimpin Nurcholish Madjid mengadakan kongres ke-IX di Malang. Dalam kongres tersebut, Nurcholish Madjid memberikan presentasi mengenai Nilai-Nilai Dasar Islam.

Selanjutnya peserta kongres mengamanahkan untuk disempurnakan draf Nilai-Nilai Dasar Islam itu dengan menugaskan Sakib Mahmud, Endang Saifudin Ashari serta konseptornya Nurcholish Madjid.

Setelah disempurnakandalam waktu beberapa bulan, akhirnya draf Nilai-nilai Dasar Islam tersebut dikukuhkan dengan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan yang disingkat NDP pada kongres ke-X di Palembang tahun 1971.

NDP dalam tubuh HMI ialah sebagai landasan ideologi dari setiap gerak perjuangan para kader HMI baik dalam individu-individu kader HMI maupun dalam organisasi keseluruhan. NDP HMI yang memuat nilai-nilai ajaran al-Qur’an yang universal untuk memberi panduan bagi kader HMI agar bisa memahami Islam dengan baik dan bisa menerjemahkannya dalam dimensi ruang dan waktu.

“Sehingga NDP HMI ini dibangun dalam rangka menjadikan Islam yang rahmah lil alamin.Karena itu, dapat dikatakan bahwa NDP HMI bagaikan “ruh” dari jasad HMI untuk melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan di dunia,” jelasnya.

Ada tiga aspek yang terdapat dalam Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI untuk mewujudkan kerukunan hidup umat beragama di Indonesia dalam menjawab tantangan zaman pertama, aspek ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa), dalam aspek ini terdapat beberapa pemahaman HMI terkait dengan ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) yaitu pemahaman bahwa bertuhan merupakan fitrah manusia.

Pemahaman bahwa manusia harus bertuhan pada Tuhan Yang Maha Esa, dan pemahaman bahwa semua manusia satu Tuhan.

Kedua, aspek kemanusiaan, dalam aspek ini terdapat beberapa pemahaman HMI terkait dengan kemanusiaan yaitu pemahaman bahwa manusia merupakan khalifah Tuhan di bumi dan pemahaman bahwa pada fitrahnya semua manusia adalah baik.

Ketiga, aspek kemasyarakatan, dalam aspek ini terdapat beberapa pemahaman HMI terkait dengan kemasyarakatan yaitu pemahaman bahwa manusia merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

“Pemahaman bahwa gotong royong merupakan dasar kehidupan masyarakat dan pemahaman akan pentingnya keadilan dalam kehidupan masyarakat,” pungkasnya. **

Advertisement