Bukan PKI, Cendekiawan NU Sebut Justru TNI Disusupi Konservatif Agama, Ulil: Karena Patung di Haramkan

533
FOTO: Cendekiawan Nahdatul Ulama (NU), Ulil Abshar Abdallah

LEGION NEWS.COM, JAKARTA – Ramai soal pernyataan mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo bahwa TNI telah disusupi PKI, saat menghadiri diskusi publik secara daring beberapa waktu lalu.

Atas pernyataan tersebut sontak membuat beragam komentar terkait pernyataan Gatot bahwa 3 patung Jenderal TNI AD di museum Kostrad telah dirubuhkan.

Penilai lain datang dari Cendekiawan Nahdatul Ulama (NU), Ulil Abshar Abdallah.

Dia mengaku sedih dan menyayangkan ada kelompok masyarakat Islam yang mengharamkan kegiatan-kegiatan tertentu, seperti musik dan membuat patung.

Advertisement

“Sedih sekali jika akhir-akhirnya ini ada orang-orang yang berpendapat, musik haram, patung haram, dan sebagainya. Ya boleh saja seseorang meyakini seperti itu. Itu bagian dari hak dia. Tetapi saya tetap menyayangkan. Di pesantren tradisional NU, hal-hal begini sudah selesai. Eh muncul di Islam kota. Sedih!” kata Ulil dikutip akun Twitter-nya, Rabu (29/9/2021).

Ulil menilai, saat ini konservatif agama mulai menyusup ke TNI dan Polri. Hingga dua institusi ini berlahan balik mulai haram-haramkan sesuatu.

“Dan anehnya, konservatisme keagamaan ini kok seperti pelan-pelan menyusup ke kalangan TNI dan polisi. Ini kan kalangan abangan sebetulnya, terus berbalik jadi “santri”. Begitu mendadak jadi relijius, terus agak kebablasan, mengharamkan ini, mengharamkan itu. Amat disayangkan,” kata Gus Ulil.

Lebih lanjut, dia menilai ada gelombang peradaban yang menarik di Indonesia. Misalnya, kalangan santri NU tradisional yang berasal dari kampung bergerak ke arah yang lebih progresif dalam pandangan keagamaannya.

Sementara yang Muslim kota bergerak ke arah sebaliknya: makin konservatif.

“Ini gejala yang menarik,” kata Ulil.

Adapun hukum membuat patung dalam pandangan Islam, kembali diperbincangkan, setelah Letjen TNI (purn) Azmyn Yusri Nasution mengambil patung tokoh nasional di Museum Pangkostrad. Patung yang diprakarsainya itu, kembali ditarik dengan alasan takut dosa membuat patung makhluk bernyawa.

Advertisement