Mulia Itu Memanusiakan: Membaca Gestur Politik “Mulia” di Kota Makassar

0
FOTO: Logo pasangan Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham (MULIA) di Pilwakot Makassar 2024. (Dok via media sosial)
FOTO: Logo pasangan Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham (MULIA) di Pilwakot Makassar 2024. (Dok via media sosial)

Oleh: Maulana Ilyas, Mantan Pejuang Mulia

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Ada satu hal yang sering luput dalam setiap perhelatan politik: manusia.

Semua orang sibuk bicara strategi, kemenangan, elektabilitas, citra, bahkan kemuliaan. Tapi sedikit yang benar-benar mau mengingat orang-orang yang pernah berdiri paling belakang, paling lelah, paling setia, saat semua belum menjadi apa-apa.

Advertisement

Tulisan ini terinspirasi dari cerita beberapa orang yang saya temui. Orang-orang yang dulu hadir bukan karena proyek, bukan karena jabatan, bukan karena kepentingan. Mereka hadir karena keyakinan. Karena percaya pada sebuah gagasan bernama “Makassar Mulia”.

Namun setelah kemenangan datang, sebagian dari mereka justru perlahan hilang dari ruang komunikasi. Tereliminasi secara sunyi. Dilupakan tanpa penjelasan.

Sebut saja Edo nama samaran.
Di kalangan komunitas sosial dan relawan di Kota Makassar, Edo bukan nama asing. Banyak orang tahu bagaimana loyalitasnya dalam perjuangan politik “Mulia”. Ia hadir dalam banyak momentum, bergerak tanpa banyak bicara, menjaga komunikasi akar rumput, menjadi salah satu wajah yang selalu membela narasi “Mulia” di tengah serangan politik.

Edo bukan pejabat. Bukan elit. Ia hanya seorang pejuang biasa yang percaya bahwa perjuangan politik harus melahirkan hubungan kemanusiaan.

Namun satu peristiwa membuatnya perlahan memahami bahwa politik sering kali hanya membutuhkan tenaga, bukan perasaan.

Suatu waktu, orang tua Edo meninggal dunia.

Sebagai orang yang selama ini dikenal sebagai loyalis “Mulia”, harapan Edo sebenarnya sederhana. Ia tidak berharap jabatan. Tidak meminta proyek. Bahkan bukan bantuan materi.

Ia hanya berharap ada perhatian kecil.

Mungkin sebuah karangan bunga.
Mungkin pesan singkat WhatsApp bertuliskan “turut berduka cita”.
Atau setidaknya sebuah sapaan yang membuatnya merasa tidak sendirian.

Namun itu pun tidak datang.

Jangankan karangan bunga, ucapan belasungkawa pun tidak pernah tiba.

Dan di situlah Edo mulai merasa asing dengan perjuangan yang dulu ia bela mati-matian.

Bayangkan bagaimana perasaan seseorang yang selama bertahun-tahun berdiri di barisan perjuangan, tetapi ketika sedang kehilangan, ia merasa seperti tidak pernah dianggap ada.

Edo pernah berkata dengan nada lirih, “Barangkali saya memang hanya dibutuhkan saat mereka belum menang.”

Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan luka yang panjang.

Sebab bagi sebagian orang, politik bukan hanya soal menang dan kalah. Politik juga tentang hubungan batin, penghargaan, dan rasa manusiawi. Ketika semua itu hilang, maka slogan sebesar apa pun akan terdengar hampa.

Cerita lain datang dari Itzan, seorang aktivis yang juga ikut bergerak dalam gelombang perjuangan “Makassar Mulia”. Namanya cukup dikenal di lingkaran pejuang. Ia aktif membangun opini, menggalang dukungan, bahkan ikut menghadapi berbagai tekanan sosial dan politik saat masa perjuangan.

Namun setelah semuanya selesai, setelah kemenangan diumumkan, setelah ruang kekuasaan mulai dipenuhi wajah-wajah baru, Itzan merasa dirinya perlahan dilupakan.

Tak pernah lagi disapa.
Tak pernah lagi diajak berdiskusi.
Tak pernah lagi dianggap bagian dari perjuangan.

Padahal dulu, orang-orang seperti Itzan selalu dicari saat dibutuhkan.

Ironisnya, dalam banyak momentum seremonial, kata “Mulia” terus digaungkan. Tetapi di saat yang sama, ada orang-orang yang pernah berjuang justru merasa tidak dimuliakan.

Di sinilah pertanyaan etik itu muncul: Apakah pemimpin yang membawa slogan “Mulia” benar-benar telah memuliakan manusia?

Karena kemuliaan sejatinya bukan hanya soal pembangunan fisik, baliho besar, atau pidato yang terdengar indah. Kemuliaan yang paling dasar adalah kemampuan menghargai manusia terutama mereka yang pernah ikut berdiri saat perjuangan belum menghasilkan apa-apa.

Dalam etika kepemimpinan, penghargaan terhadap loyalitas bukan diukur dari besar kecilnya pemberian, tetapi dari kehadiran empati. Pemimpin yang baik tidak harus memenuhi semua harapan orang, tetapi setidaknya mampu menjaga rasa kemanusiaan dalam relasi sosialnya.

Empati adalah inti dari kepemimpinan moral.

Sebab seorang pemimpin boleh lupa nama, tetapi jangan sampai lupa rasa.

Dan hari ini, mungkin Edo dan Itzan hanyalah dua dari banyak nama yang memilih diam. Menyimpan kecewa tanpa gaduh. Menelan rasa asing di tengah narasi “kemuliaan” yang dulu mereka perjuangkan sendiri.

Tulisan ini bukan untuk menyerang siapa pun. Bukan pula untuk merendahkan sebuah pemerintahan.

Ini hanya catatan kecil tentang bagaimana kekuasaan terkadang membuat orang-orang yang pernah berjuang merasa kehilangan tempat.

Sebab sejarah politik selalu menyisakan dua kelompok: mereka yang menikmati kemenangan, dan mereka yang diam-diam terlupakan setelah kemenangan itu datang.

Maka ke depan, masyarakat harus lebih hati-hati dalam memilih. Jangan hanya terpukau oleh slogan yang terdengar indah. Karena ukuran kemuliaan seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa hebat narasinya, tetapi pada bagaimana ia memperlakukan manusia di sekitarnya.

Sebab pada akhirnya, “Mulia” bukan sekadar kata. Mulia adalah cara memanusiakan manusia.

Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi.

Advertisement