Muhammadiyah dan Peran Sosialnya di Tengah Masyarakat Indonesia

123
Romo Van Lith (kiri) dan KH Ahmad Dahlan (kanan) saat bertemu di Kolese Xaverius (saat ini SMA Pangudi Luhur Van Lith di Muntilan, Magelang)

EDUKASI||Legion-news.com Organisasi Muhammadiyah dan peran sosial kemasyarakatan di Indonesia, Setidaknya ada tiga lembaga atau organisasi masyarakat yang punya sejarah panjang dalam karya social di bidang pendidikan dan kesehatan di Indonesia: Katolik, Kristen, dan Muhammadiyah.

Jika karya sosial yayasan Katolik atau Kristen terdiri dari begitu banyak nama Yayasan, Muhammadiyah mampu mengelola ratusan rumah sakit dan puluhan ribu sekolah serta perguruan tinggi dalam satu wadah tunggal.

Muhammadiyah dilahirkan oleh K.H. Ahmad Dahlan sebagai organisasi pembaharu Islam. KH Ahmad Dahlan ingin mendobrak kejumudan kehidupan umat Islam-Jawa. Saat itu ia melihat umat Islam dijajah secara politik, tak berdaya secara ekonomi, dan tidak mendapat edukasi yang baik. Ia ingin memperjuangkan wajah umat Islam yang lebih progresif.

Kiai Ahmad Dahlan tergerak karena melihat para misionaris Eropa yang mendirikan banyak sekolah dan rumah sakit. Sedikit banyak, hal ini mengusik hati Kiai Ahmad Dahlan.

Beliau gelisah, mestinya rakyat pribumi yang kebanyakan merupakan umat Islam tidak diam saja dan berpangku tangan. Rakyat pribumi harus berusaha bangkit dari ketertinggalan dan kelak harus bisa mengurus dirinya sendiri.

Untuk menggapai mimpinya tersebut, Kiai Ahmad Dahlan tidak segan-segan mendatangi para misionaris untuk berdiskusi.

Terinspirasi Romo Van Lith

Salah satu yang tercatat dalam kronik sejarah, K.H. Ahmad Dahlan pernah mendatangi Kolese Xaverius (saat ini SMA Pangudi Luhur Van Lith di Muntilan, Magelang) untuk menemui Romo Van Lith. Di sana beliau bertukar gagasan dengan Romo Van Lith mengenai bentuk pendidikan yang ideal bagi rakyat pribumi.

Dari perjalanan ke Muntilan inilah Kiai Ahmad Dahlan mendapat inspirasi mengubah nama sekolahnya menjadi Kweekschool Islam, agar sekolahnya dipandang setara dengan sekolah-sekolah Belanda.

Kelak nama ini berganti lagi menjadi Kweekschool Muhammadijah. Sepeninggal Kiai Ahmad Dahlan, sekolah ini kembali beralih nama menjadi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Nama terakhir ini masih dipergunakan sampai sekarang.

Melalui sekolah tersebut, Kiai Ahmad Dahlan menyisipkan pemikiran modernnya. Beliau mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan sekaligus ilmu-ilmu umum kepada murid-muridnya. Nyata jika sekolah Muhammadiyah ini berbeda dari pondok pesantren tradisional yang jamak dijumpai ketika itu.

Pendidikan Sekuler ala Barat
Tentu saja ide ini bukannya tanpa pertentangan. Kiai Ahmad Dahlan dituduh sesat karena mengajarkan pendidikan sekuler ala Barat. Murid-muridnya yang belajar dengan fasilitas meja dan kursi juga tak luput dari tudingan menyerupai orang-orang kafir. Namun demikian, Kiai Ahmad Dahlan tetap bertekun dengan pilihannya membesarkan Muhammadiyah.

Kelak di kemudian hari, kitalah yang mengetahui kalau karya Kiai Ahmad Dahlan memang membuahkan hasil.

Muhammadiyah berhasil tumbuh besar dan dikenal khalayak sebagai organisasi Islam yang memiliki lembaga-lembaga pendidikan yang berkualitas mumpuni.

Rumah Sakit (RS) Katolik dan Kristen pun kini memiliki partner untuk menjalankan misi sosial di bidang kesehatan. Mimpi sang pendiri Muhammadiyah telah terwujud dengan eksistensi ratusan RS PKU Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Muhammadiyah telah berjasa membuat umat Islam mengejar ketertinggalannya tanpa perlu memusuhi keberadaan umat Katolik dan Kristen.

Sebaliknya, hari ini justru RS-RS Katolik, Kristen, dan PKU Muhammadiyah saling bekerja sama. RS-RS swasta ini sekarang menjadi garda depan untuk menangani pasien Covid-19 yang jumlahnya belum tampak mengalami penurunan signifikan di Indonesia.

Dengan segala pengabdian dan karya sosial telah dilaksanakan oleh Muhammadiyah selama 108 tahun ini.