Maroso Group Akan Ekspansi Bisnis Penerbangan Perintis di Kawasan Sulsel

0
FOTO: CEO Maroso Group, Saleh Ramli. (Istimewa)
FOTO: CEO Maroso Group, Saleh Ramli. (Istimewa)

LEGIONNEWS.COM – PT Maroso Group berencana membeli 20 pesawat perintis N219 dan pesawat kargo N-219 amfibi yang akan digunakan untuk mengangkut penumpang dan mengangkat potensi perikanan dan potensi budi daya lain dari kawasan Sulawesi.

Menurut CEO Maroso Group, Saleh Ramli rute penerbangan perintis akan menghubungkan beberapa daerah seperti Makassar, Mamuju, Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, Kendari dan kabupaten yang memiliki destinasi wisata dan potensi perikanan di seluruh Sulawesi. Untuk rute penerbangan tersebut saat ini sudah dimulai studi kelayakannya.

Maroso Group yang selama ini sudah memiliki beberapa bidang usaha akan melakukan ekspansi usaha dalam bisnis penerbangan perintis. Dengan akan dimulainya proses pemesanan pesawat produksi PT DI tersebut juga sudah mulai melakukan proses pengurusan perijinannya.

“Kami sedang mempelajari spesifikasi pesawat yang paling cocok untuk penerbangan perintis di wilayah Sulawesi. Dan dalam waktu dekat kami akan melakukan konsultasi dengan PT DI,” demikian kata Saleh Ramli lewat keterangan tertulisnya.

Sebagaimana diketahui bahwa PT DI memproduksi beberapa jenis pesawat perintis, dengan yang paling umum adalah N219 “Nurtanio” , N219 Ampibi dan NC212. Dan khusus pesawat N-219 jenis amfibi memiliki kelebihan yang secara langsung menjawab kebutuhan pengangkutan hasil laut premium dari daerah terpencil yang tidak ada bandara.

Pesawat ini juga memiliki kemampuan Short Take-off and Landing  (STOL) bisa langsung mendarat di air sehingga tidak memerlukan  runway darat. Bisa menjangkau nelayan di pesisir pulau-pulau terpencil.

Sedangkan Pesawat N219 “Nurtanio” sebagai pesawat penumpang dan serba guna dirancang khusus untuk penerbangan perintis di wilayah terpencil. Dengan kapasitas 19 penumpang atau kargo hingga 1.550 kg. Pesawat N219 dengan dua mesin turboprop Pratt and Whitney PT6A-42 (masing-masing 850 shp) dengan ecepatan maksimum 210 knot (≈389 km/jam), terendah 59 knot (≈109 km/jam) yang dirancang untuk operasi di daerah pegunungan.

“Kami sudah mendapatkan informasi awal bahwa proses pemesanan pesawat produksi PT DI itu memakan waktu sekitar 3 – 4 tahun setelah MOU. Maka diperkirakan pada tahun 2030 nanti usaha penerbangan perintis kami sudah bisa beroperasi,” demikian keterangan penutup Saleh Ramli. (*)

Advertisement