‘Long life education’, Tak Banyak Orang yang Masih Menganut Semboyan ini

1114
Advertisement

Penulis: Ria Labuh Karyawan PT. (Perseroan) Perusahaan Listrik Negara PLN Manggarai

EDUKASI||Legion News – ‘Long life education’, Tak banyak orang yang masih menganut semboyan ini.

Sebagian besar orang merasa bahwa kebutuhan pendidikan sudah cukup terpenuhi ketika sudah mengenyam pendidikan selama 12 tahun di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Foto: Almarhumah Dra. Hj. ST Hamsatang, S. Pdi

Sebagian besar orang lagi merasa mendapat gelar sarjana sudah cukup untuk bekal mencari kerja, tanpa pernah berpikir tentang esensi dari pendidikan itu sendiri. Bagi segelintir orang, usia pendidikan yang normal adalah pendidikan yang berkesinambungan.

Advertisement
Foto: Pimpinan Akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen LPI Makassar saat mengunjungi rumah Almarhuma di Kabupaten Barru Sulawesi selatan

Sekolah Dasar dari usia 6 sampai 12 tahun, kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Menengah Pertama selama 3 tahun sesudahnya, dilanjutkan dengan Sekolah Menengah Atas, dan setelah itu Perguruan Tinggi hingga jenjang Strata 1, jika mampu dilanjutkan lagi dengan Pasca Sarjana. Dan semua itu dijalani tanpa ada “istirahat” yang lama-paling lama setahun atau dua tahun-supaya tidak dimakan usia. Banyak faktor, antara lain, mengejar usia untuk mencari pekerjaan atau usia menikah.

Siapakah Ibu Hj. ST Hamsatang?

Tidak demikian dengan Ibu Hamsatang, Beliau adalah seorang ustadzah dan seorang single namun dikenal sebagai pejuang pendidikan. Bagaimana tidak, ia berjuang untuk menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana hingga ia tutup usia.

Beliau adalah seorang mahasiswa pasca sarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen LPI Makassar.

Nama lengkapnya Dra. Hj. ST Hamsatang, S. Pdi (Pendidikan Islam). Dengan modal pendidikan yang ia punya, sudah banyak prestasi yang ia ukir.

Ia sudah mendirikan sebuah yayasan di bidang pendidikan yaitu Yayasan Al-Jihad yang di dalamnya ada 2 sekolah yaitu SPS/TPQ Miftahul Khair Galung dan TK Al-Jihad Galung.

Selain punya yayasan sendiri, beliau juga menjabat sebagai seorang Kepala Sekolah di MDA DDI Galung, sebagai seorang Apartur Sipil Negara (ASN) di Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Barru dan Tak hanya itu, ia juga mendirikan sebuah tempat Pengajian Dasar Alquran Misbahul Arqam Galung.

Saat jelang akhir pendidikan program pasca sarjananya Almarhuma mengalami kecelakaan tunggal bersama keponakannya saat akan kembali ke kediamanya di Barru, Ia mengalami patah tulang dan dirawat dirumah sakit.

Namun dengan kecelakaaan yang iya alami tidak menghilangkan rasa spirit, ia meminta pihak kampus untuk mengikutkan dirinya menyelasaikan ujian akhirnya/tutup saat sedang berbaring dirumah sakit.

Hamsatang mengikuti ujian penutup dengan mengikuti secara online (Aplikasi Zoom), setelah operasi patah tulang di rumah sakit dimana iya menjalani perawatan setelah sadar dari operasi yang ia jalani, Hamsatang mendapatkan kabar dinyatakan lulus oleh pihak kampus, dan berhak mengikuti Yudisium, Hamsatang pun mengucapkan rasa syukurnya, teramat dalam ‘Alhamdulillah’, perjuangan selama ini tidak sia-sia.

Selang 2 jam setelah mendengar hasil kelulusannya, pihak keluarga mengambarkan kembali ke pihak kampus bahwa, Siti Hamsatang dikabarkan telah meninggal dunia.

Kepribadian Ibu Hamsatang

Di lingkungan STIM LPI Makassar, tokoh perempuan yang akrab disapa Ibu Hamsatang ini dikenal sebagai seorang mahasiswa pasca yang aktif dalam perkuliahan, seorang yang cerdas, cekatan, tekun, semangat dan suka menyemangati teman-teman sekelasnya.

Ia sosok yang murah senyum dan tidak pernah mengeluh tentang perkuliahannya.

Setiap hari Jumat ia mengendarai sepeda motornya dari Kabupaten Barru menuju ke Makassar untuk kuliah dan baru kembali ke Barru pada hari Minggu. Jarak dari Barru ke Makassar dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 sampai 3 jam, hampir tidak pernah ia mengeluh, Sungguh menggambarkan sebuah kegigihan.

Di Makassar, ia menginap di rumah kemenakannya di Daya Pecerakang, perumahan BTN KNPI, Biringkanaya, yang kebetulan juga seangkatan dengannya. Melanjutkan pendidikan S2 di STIM LPI Makassar.

Siapa yang mengira, kalau ternyata ia melanjutkan pendidikan S2 di usia yang tidak muda lagi, 53 tahun.

STIM LPI Makassar turut berbangga karena melahirkan seorang pejuang pendidikan yang tak kenal usia, tak kenal lelah untuk menyelesaikan pendidikannya walau banyak tantangan.

Pihak STIM juga berharap, semoga kisah hidup almarhuma Ibu Hamsatang dapat menjadi inspirasi bagi semua kaum muda yang sedang menjalani perkuliahan agar tidak patah semangat dan tekun berjuang hingga akhir dan ilmu yang dipelajari dapat bermanfaat bagi sesama dan bangsa Indonesia.

Advertisement