Lagi Ponpes di Makassar Makan Korban Jiwa Karena Ulah Senior

FOTO: Keluarga Andi Alfian Rezky (14) saat berada di RS Grestelina
FOTO: Keluarga Andi Alfian Rezky (14) saat berada di RS Grestelina
Advertisement

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Andi Alfian Rezky (14) salah satu santri di pondok pesantren tahfizhul qur’an, Al Imam Ashim, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi korban kekerasan salah satu oknum santri berinisial MAAN yang merupakan senior dari korban.

Andi Alfian Rezky, pria kelahiran, Makassar 26 Maret 2009 silam itu menghembuskan nafas terakhirnya Selasa dini hari (20/2/2024) sekitar pukul 01:00 WITA di RS Grestelina, Jalan Hertasning, Makassar setelah menjalani operasi akibat kekerasan yang dialaminya.

Menurut keterangan H. Rizaldi Jamaluddin, Paman dari Andi Alfian Rezky (Korban) mengungkapkan keponakannya itu mengalami kekerasan yang dilakukan oleh MAAN di pondok pesantren Al Imam Ashim. Namun dirinya dan orang tua korban tidak mengetahui kapan peristiwa kekerasan itu terjadi terhadap korban.

“Keponakan saya itu diketahui mengalami kekerasan setelah diberi tau pihak pondok pesantren ke saudara perempuan saya bahwa anaknya sedang dalam perawatan pihak klinik di pesantren,” ungkap Rizaldi.

Advertisement

Dijelaskannya keluarga mendapatkan kabar dari pihak pondok pesantren tentang kondisi korban yang terus memburuk setelah mendapat kekerasan dari pelaku yang juga seniornya di Ponpes itu.

“Korban mengalami kejang-kejang saat masih di klinik pondok pesantren. Lalu pihak pesantren menghubungi keluarga korban agar Andi Alfian dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan medis lanjutan, korban mengalami kejang kejang sehingga Kamis 8 Februari lalu keponakan saya itu dilarikan ke rumah sakit (RS) Grestelina,” ucap Rizaldi.

“Cuman sangat disayangkan pihak pondok pesantren seolah-olah ingin mengaburkan persoalan ini. Mereka sempat menanyakan soal BPJS, Apakah keluarga korban ikut program BPJS. Dikatakan tidak memiliki BPJS,” terang Haji Rizaldi

“Alasan mempertanyakan BPJS dengan dalih biaya operasi pecahnya pembuluh darah di bagian otak itu sangat mahal. Bahkan yang sangat aneh itu pihak pesantren menawarkan diri untuk mengurus BPJS keluarga korban,” ungkap Rizaldi saat ditemui awak media di RS Grestelina Selasa (20/2) dini hari tadi.

Dijelaskan kembali oleh H. Rizaldi bahwa keluarga korban menolak tawaran pihak pesantren. Dikarenakan pihak pondok pesantren seolah-olah ingin menutupi persoalan.

“Pihak keluarga menolak tawaran pihak Ponpes Al Imam Ashim. Masa dikatakan oleh mereka tujuan dibuatkan BPJS agar pihak keluarga tidak membayar mahal biaya operasi. Kemudian mereka katakan agar klaim BPJS dapat dibayar kronologis kejadian diubah diganti dengan kecelakaan. Tentu kami keluarga korban menolak itu,” tegas Paman dari Andi Alfian Rezky ini.

Paman korban mengaku pihak keluarga telah melaporkan resmi atas tindakan kekerasan itu ke pihak polrestabes makassar.

“Sudah dilakukan laporan kekerasan terhadap anak dibawa umur di Polrestabes makassar. Dan telah dilakukan olah kejadian tempat perkara,” imbuh Rizaldi.

Hingga berita ini diturunkan belum ada penjelasan resmi pihak pondok pesantren tahfizhul qur’an, Al Imam Ashim.

Awak media telah berupaya mendatangi Ponpes tersebut yang berada di Jembatan 3 Aroepala yang masih masuk wilayah administrasi kecamatan manggala, kota makassar, sekitar pukul 02:00 WITA dini hari, namun kondisi Ponpes tidak terdapat aktivitas sama sekali mengingat waktu istirahat. (LN)

Advertisement