Oleh: H. Makmur Idrus
Mantan Ketua PC. GP. Ansor Makassar dan mantan Sek. PW. Ansor Sulsel
“Sebuah catatan tentang keberanian moral, etika kritik, dan marwah elite NU dalam menjaga rumah besar para kiai”
LEGIONNEWS.COM – OPINI, Terungkapnya penulis opini yang menyudutkan Gus Ipul dengan menggunakan nama samaran “Istiqomah” patut menjadi alarm serius bagi warga Nahdliyin. Ini bukan sekadar soal tulisan opini. Ini menyangkut adab, tanggung jawab, dan keberanian moral dalam berorganisasi.
Berdasarkan pemberitaan Inilah.com, dalam forum klarifikasi Dewan Pers terkait pengaduan Gus Ipul atas dua opini di Jakarta.Suaramerdeka.com, pihak Teradu menyampaikan bahwa penulis opini yang menggunakan nama samaran “Istiqomah” adalah Amin Said Husni, Wakil Ketua Umum PBNU. Dewan Pers juga menilai opini yang diadukan memuat pendapat yang menyudutkan Gus Ipul, bahkan pada salah satu tulisan terdapat narasi yang merendahkan martabat pengadu.
Jika keterangan tersebut benar sebagaimana terungkap dalam proses Dewan Pers, maka persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan pendapat biasa. Ini menjadi ujian etik bagi elite organisasi. Seorang tokoh di jajaran PBNU seharusnya memberi teladan keterbukaan, kejernihan argumen, dan tanggung jawab atas pendapatnya.
Kritik dalam NU itu biasa. Perbedaan pendapat dalam organisasi sebesar NU juga bukan hal aneh. NU justru besar karena tradisi musyawarah, bahtsul masail, tabayyun, dan perdebatan ilmiah. Tetapi kritik yang disampaikan dengan nama samaran, apalagi jika isinya dinilai menyudutkan pribadi seseorang, tentu patut dikritisi secara serius.
Kalau memiliki data, sampaikan secara terbuka. Kalau memiliki argumen, bangun dengan nalar yang sehat. Kalau memiliki sikap, nyatakan dengan tanggung jawab. Sebab dalam tradisi santri, keberanian bukan hanya lantang berbicara, tetapi juga berani menanggung akibat dari ucapan sendiri.
NU bukan ruang komunikasi yang gelap. NU adalah rumah besar ulama, pesantren, santri, dan warga Nahdliyin yang menjunjung adab di atas ambisi. Karena itu, setiap elite organisasi semestinya menjaga cara menyampaikan kritik agar tidak merusak martabat jam’iyah.
Kasus ini menjadi pelajaran penting menjelang dinamika Muktamar NU. Pertarungan gagasan boleh keras, tetapi harus tetap terang. Kritik boleh tajam, tetapi harus tetap beradab. Berbeda pilihan boleh, tetapi jangan sampai merusak kepercayaan warga Nahdliyin kepada para pemimpinnya.
Dewan Pers telah memberi jalan koreksi melalui mekanisme etik pers. Pelajaran besarnya jelas: media harus menjaga etikanya, penulis harus bertanggung jawab, dan elite NU harus menjaga marwah organisasi.
NU membutuhkan pemimpin yang terang sikapnya, jelas tanggung jawabnya, dan selesai dengan dirinya. Bukan sekadar pandai menyusun narasi, tetapi juga berani berdiri di depan publik dengan nama dan sikap yang jelas.
Kalau sebuah pendapat diyakini benar, mengapa harus disamarkan?
Kalau sebuah kritik memiliki dasar kuat, mengapa tidak disampaikan secara terbuka?
Kalau sebuah sikap lahir dari tanggung jawab moral, mengapa harus bersembunyi di balik nama lain?
Jangan membawa pola komunikasi anonim ke dalam rumah besar para kiai.
Sebab NU terlalu besar untuk dikotori oleh cara-cara kecil.
Disclaimer: Rubrik Kolom adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya danatau Naskah rilis/Keterangan Pers ataupun Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis naskah seperti Kolom Opini, Memberi Keterangan pers dan legion-news.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ataupun pemberitaan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini/Rilis berita/Keterangan Pers Redaksi legion-news.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
























