Jelang Musda XI: Mayoritas DPD II Dukung Appi, Pengamat Politik: Golkar Sulsel Butuh Kepemimpinan Baru

0
FOTO: Partai Golkar (istimewa)
FOTO: Partai Golkar (istimewa)

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel yang direncanakan berlangsung usai Lebaran 1447 H, suasana internal partai tampak semakin kondusif untuk membangun soliditas dan visi ke depan yang lebih kuat.

Di tengah semangat konsolidasi yang sedang berjalan di berbagai daerah, termasuk upaya menyatukan kekuatan di tiga daerah pemilihan (Dapil) yang masih memerlukan perhatian leyan.

Momentum pasca-Lebaran ini menjadi kesempatan emas bagi partai golkar di Sulawesi Selatan untuk melangkah maju dengan kepemimpinan yang visioner, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan rakyat serta kemajuan daerah.

Advertisement

Secara umum, kontestasi kini cenderung mengerucut, dengan Munafri Arifuddin memimpin pergerakan arus dukungan, sementara kandidat lain berupaya menarik perhatian pusat atau mencari momentum pasca-lebaran.

Musda masih menunggu penetapan DPP, tapi dinamika menunjukkan persaingan tetap hidup untuk menjaga semangat demokrasi di internal partai.

Terkait itu berikut pandangan Direktur Profetik Institute, Asratillah melihat situasi menjelang Musda Golkar Sulsel memang sedang bergerak ke arah yang relatif lebih kondusif.

“Konsolidasi yang dilakukan di berbagai daerah memberi sinyal bahwa kader sedang berusaha menata kembali barisan setelah beberapa waktu terakhir diwarnai dinamika internal.” ujar Direktur Profetik Institute kepada media Minggu (8/2/2026)

“Bagi saya ini penting karena Musda bukan hanya soal memilih ketua baru tetapi juga soal menyatukan kembali energi partai agar mampu bergerak bersama menghadapi agenda politik ke depan,” ucap Asratillah

Katanya, Momentum setelah Lebaran juga biasanya memberi ruang psikologis yang lebih tenang bagi kader untuk berdialog dan membangun kesepahaman.

Lanjut Direktur Profetik Institute itu, Dalam tradisi politik kita suasana setelah hari raya sering dimanfaatkan untuk memperkuat silaturahmi politik.

“Saya melihat ini sebagai kesempatan yang baik bagi Golkar Sulsel untuk meredakan potensi ketegangan sekaligus membangun komunikasi yang lebih terbuka di antara para kandidat dan pengurus daerah.” tutur Asratillah.

“Soal peta dukungan yang mulai mengerucut saya kira itu juga bagian dari proses alami dalam setiap kontestasi internal partai. Dari berbagai dinamika yang terlihat memang ada kesan bahwa Munafri Arifuddin sedang memimpin arus dukungan dari sejumlah daerah.”

“Namun saya melihat kontestasi ini belum sepenuhnya selesai karena kandidat lain masih memiliki ruang untuk membangun komunikasi dengan kader maupun dengan pimpinan pusat.” terang dia.

“Dalam pengalaman saya mengamati politik Golkar satu faktor penting selalu datang dari keputusan dan sikap DPP. ” tutur Direktur Profetik Institute.

Asratillah menjelaskan, Penetapan jadwal Musda serta sinyal politik dari pimpinan pusat sering kali mempengaruhi arah akhir kontestasi. Karena itu dirinya melihat kandidat yang mampu membangun keseimbangan antara dukungan kader di daerah dan komunikasi yang baik dengan DPP biasanya memiliki peluang yang lebih besar.

Pada akhirnya yang paling penting adalah bagaimana seluruh proses ini tetap menjaga semangat demokrasi di internal partai.

“Saya percaya kompetisi di antara kader tidak harus berujung pada perpecahan.” ucapnya.

“Jika semua pihak menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maka Musda ini justru bisa menjadi momentum bagi Golkar Sulsel untuk melahirkan kepemimpinan baru yang lebih solid dan siap membawa partai menghadapi tantangan politik di masa depan.” tutup Direktur Profetik Institute. (LN)

Advertisement