Jelang Musda Golkar Sulsel Kader Partai Pecah: K21 Solid Dukung Appi VS “Kanda Senior” ke IAS

0
FOTO: Bendera Partai Golkar (istimewa)
FOTO: Bendera Partai Golkar (istimewa)

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Kelompok 21 atau K21 adalah istilah bagi mereka Ketua DPD II Partai Golkar se Kabupaten-Kota di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang konsisten mendukung Munafri Arifuddin (Appi) menahkoda partai berlambangkan pohon beringin rindang.

Sementara itu kelompok senior partai golkar di Sulawesi Selatan lebih cenderung mendukung Ilham Arief Sirajuddin mantan Ketua DPD II Golkar Kota Makassar.

Terjadinya dua kubuh dukungan kader partai golkar jadi perhatian, Direktur Profetik Institut, Asratillah.

Advertisement

Kata Asratillah melihat isu bahwa partai Golkar Sulsel pecah jelang Musda perlu dibaca secara lebih hati hati.

“Saya melihat isu bahwa Golkar Sulsel pecah jelang Musda perlu dibaca secara lebih hati hati. Perbedaan dukungan seperti yang terjadi antara kelompok 21 dan kelompok senior bukanlah hal yang otomatis berarti perpecahan.” ujar Direktur Profetik Institut itu.

“Ini lebih tepat dipahami sebagai fragmentasi sementara dalam proses kontestasi. Setiap kelompok sedang memperjuangkan preferensi politiknya masing masing.” imbuh Asratillah. Rabu (22/4)

Menurutnya, Kehadiran kelompok 21 yang solid mendukung Appi menunjukkan adanya kekuatan riil di tingkat daerah.

“Ini penting karena DPD II adalah pemilik suara dalam Musda. Dukungan seperti ini biasanya lahir dari kedekatan kerja, komunikasi yang intens, dan harapan terhadap arah kepemimpinan ke depan.” katanya.

“Di sisi lain, kelompok senior yang cenderung mendukung IAS juga memiliki basis pengaruh tersendiri, terutama dari sisi pengalaman, jejaring lama, dan kedekatan historis di tubuh Golkar,” beber Asratillah.

Asratillah melihat situasi ini sebagai tarik menarik antara dua sumber legitimasi.

Satu berbasis dukungan struktural di daerah dan satu lagi berbasis otoritas moral dan pengalaman di tingkat elite senior.

Lanjutnya, Dalam banyak kasus di Golkar, dua kekuatan ini tidak selalu berhadapan secara keras, tetapi pada akhirnya akan mencari titik temu. Karena itu, yang terjadi sekarang lebih merupakan proses negosiasi politik daripada konflik terbuka.

“Namun memang tidak bisa diabaikan bahwa jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan ini bisa berkembang menjadi gesekan yang lebih dalam. Apalagi jika masing masing pihak merasa paling berhak menentukan arah partai.” imbuhnya.

“Di titik ini, peran DPP menjadi sangat penting untuk menjembatani kepentingan tersebut agar tidak berkembang menjadi polarisasi yang merugikan Golkar Sulsel ke depan.” pungkas Direktur Profetik Institut ini.

Pada akhirnya, soliditas Golkar Sulsel akan sangat ditentukan oleh bagaimana proses Musda ini diselesaikan.

“Jika ada ruang dialog dan kompromi yang sehat, maka perbedaan ini justru bisa menjadi kekuatan. Tetapi jika dibiarkan tanpa arah, maka potensi retak bisa muncul. Karena itu, semua pihak perlu menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan kelompok agar Golkar tetap kuat menghadapi tantangan politik ke depan.” kunci Asratillah. (LN)

Advertisement