Gas Pool, Usai Puasa dan Lebaran KPU Makassar Kembali Gelar KP3

54
FOTO: Salah satu peserta yang hadir dalam kegiatan Kelurahan Peduli Pemilu dan Pemilihan (KP3), di Hotel Horison Ultima Makassar. Kamis, (12/5)
FOTO: Salah satu peserta yang hadir dalam kegiatan Kelurahan Peduli Pemilu dan Pemilihan (KP3), di Hotel Horison Ultima Makassar. Kamis, (12/5)
Advertisement

LEGION NEWS.COM – KPU Kota Makassar terus menjalankan pendidikan pemilih melalui program Kelurahan Peduli Pemilu dan Pemilihan (KP3), kegiatan KP3 sudah memasuki angkatan ke-10. Kegiatan ini terus menunjukkan konsistensinya, dapat dilihat pasca jeda puasa dan libur hari raya idul fitri 1433 H dan akan terus berlanjut kedepannya.

KP3 kali ini bekerjasama dengan Kesbangpol Kota Makassar dan dilaksanakan di Hotel Horison Ultima Makassar yang dihadiri oleh kader KP3 dan tokoh masyarakat Kecamatan Mamajang. Kamis, (12/05/2022)

KP3 kembali menghadirkan tiga Komisioner KPU Kota Makassar sebagai pemateri antara lain, M. Faridl Wajdi (Ketua KPU kota Makassar), Romy Harminto (Kordiv Perencanaan, Data, dan informasi, dan Abd Rahman (Kordiv Hukum dan Pengawasan).

Materi pertama yaitu persiapan menghadapi pemilu 2024, oleh Ketua KPU Kota makassar (M. Faridl Wajdi), ia menyampaikan dasar pelaksanaan pemilu adalah UU No.7 Tahun 2017, tentunya melaksanakan pemilu perlu persiapan yang baik, dengan tugas KPU menyampaikan informasi yang terbuka seluas-luasnya kepada masyarakat terkait pemilu.

Advertisement

Sementara Pasal 167 ayat (6) menyebutkan: “Tahapan penyelenggaraan pemilu sebagaimana di maksud pada ayat(4) dimulai paling lambat 20 (dua puluh) bulan sebelum hari pemungutan suara”, artinya amanah UU menghendaki persiapan pemilu terkonsolidasi dengan baik. Persiapannya harus matang dengan mengajak masyarakat tertib administrasi sehingga partisapinya bisa maksimal, tutupnya.

Materi ke dua hari ini politisasi sara dan ancaman Keberagaman, Romy Harminto memaparkan bahwa bangsa indonesia adalah negara yang majemuk dan multikultural (beragam), baik keberagaman suku, agama, anggota golongan, ras, serta partai politik.

Sebagai bangsa yang majemuk tentu banyak perbedaan yang sangat rentan menimbulkan konflik, maka Romy menekankan bahwa toleransi dan tenggang rasa menjadi solusi dari politisasi sara.

Materi terakhir dibawakan oleh Abd Rahman yaitu bahaya politik uang pada pemilu dan pemilihan. Dalam materinya ia menyampaikan bahwa biasanya gelaran pemilu sering di sebut gelaran “pesta rakyat”, namun dibalik pesta yang megah itu ada yang berbahaya yaitu “money politic”.

Karena sejatinya politik itu adalah hal yang baik, hanya saja biasanya ada oknum yang merusak sistem politik dengan melakukan politik uang, sehingga sebagai masyarakat yang bijak politik uang harus di hindari karena menyebabkan dampak yang buruk untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Advertisement