
LEGIONNEWS.COM – Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang CLS ijazah Jokowi yang digelar di Pengadilan Negeri Surakarta pada Selasa (24/2/2026) lalu.
Keterangan Dokter Tifa di persidangan tersebut dicemooh oleh kuasa hukum Joko Widodo (Jokowi), melalui akun media sosial Facebook diduga milik Josua M Sinambela.
Akun Facebook @Josua M Sinambela dalam unggahannya itu dilihat Kamis (25/2) menyebutkan dr Tifa adalah ahli gadungan yang dihadirkan dalam sidang CLS itu.
“Di sidang CLS, ada hadir ahli gadungan satunya lagi, yang menganalisa foto Jokowi dengan membandingkan foto dari fotocopyan (hitam putih) dan medsos kualitas rendah dengan foto jokowi yang berjarak 40 tahunan.” *** tulis akun Facebook @Josua M Sinambela dilihat Kamis.
“Pekoknya gak kira kira, karena menganalisis FACS berbasis AI (ekspressi/otot wajah).” tutur pengacara Jokowi itu.
“Disini saya kirimkan foto Jokowi dengan resolusi tinggi yang belum pernah dipublish sebelumnya, dan secara kasat mata klo dibandingkan sebenarnya masih Jokowi banget saat muda-nya.” ***
“Bahkan dengan berbagai AI face comparison dengan foto saat jadi Presiden juga masih match. Yang paling mengenali wajah jokowi muda (saat kuliah dan wisuda), tentu saja pihak keluarga yang selalu interaksi dan teman teman kuliah/wisuda.” ***
“Mereka juga punya banyak dokumentasi foto pribadi lainnya. Jika ada pihak lain yang claim lebih mengenal wajah jokowi, dipastikan dungu kwadrat. Semoga bermanfaat,” tutup unggahannya.
Saat menjadi saksi ahli di sidang CLS kasus ijazah Jokowi, Dokter Tifa menerangkan bahwa dirinya merupakan kandidat doktor di dua bidang ilmu.
Yakni, kandidat doktor di bidang ilmu kedokteran di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) dan bidang ilmu politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (UNPAD).
“Saya saat ini adalah kandidat doktor dua bidang ilmu; ilmu kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tentang neurosains, yang kedua saya menjadi doktor pada bidang Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik di Universitas Padjadjaran dalam bidang ilmu politik,” tutur Dokter Tifa dalam sidang.
“Kedua ilmu yang diametral itu, saat ini saya gabungkan menjadi sebuah ilmu baru yang disebut sebagai neuropolitika.”
Sebab, kata Dokter Tifa, jurnal SCOPUS dibutuhkan oleh dosen yang mengumpulkan angka kredit dan ingin naik pangkat, sedangkan dirinya sudah melampaui kebutuhan naik pangkat tersebut.
Wanita yang juga penulis buku Body Revolution dan Nutrisi Surgawi itu menambahkan, dirinya adalah pihak yang mengajari orang-orang yang butuh naik pangkat dan menulis jurnal yang bisa tembus SCOPUS.
“Ini membutuhkan karya untuk membuat SCOPUS ya atau pada jurnal-jurnal yang terindeks Q1, Q2, Q3, Q4 itu,” kata Dokter Tifa.
“Kalau di Indonesia ini adalah orang-orang yang membutuhkan Kum [angka kredit, red] untuk kenaikan pangkat, itu dia punya kewajiban untuk itu. Saya sudah melampaui itu.”
“Posisi saya ini sudah jadi gurunya orang-orang yang membutuhkan jurnal-jurnal itu.”
Kemudian, Dokter Tifa menyebut, dirinya sebagai akademisi yang masuk ke ranah Oracle, atau sosok yang dianggap memberi petunjuk, nasihat, atau prakiraan.
Hal itu, menurut dia, setara dengan filsuf Yunani lebih dari 2.000 tahun lalu, seperti Socrates, Plato, hingga Galileo Galilei.
“Ya, karena itu maka saya sudah beranjak. Kalau dalam bahasa penelitian ini, saya ada di dalam wilayah sebagai Oracle,” ucap Dokter Tifa.
“Oracle itu seperti oracle-oracle di masa lalu 2500 tahun yang lalu, namanya Plato, Socrates ya, Galileo itu mereka mentahbiskan karyanya itu bukan lagi pada jurnal-jurnal, tetapi pada buku-buku.”
Dokter Tifa lantas mengaku sudah menulis buku, sehingga menurutnya dirinya layak dimasukkan ke taraf Oracle.
Salah satu buku yang ditulisnya, kata Dokter Tifa, mengandung 2.000 jurnal.
“Buku saya ini, insyaallah ada 40 buku ya. Yang sudah terbit ada lima. Salah satu buku ini ada 2.000 jurnal. Kalau seandainya satu buku ini kalau mau diterbitkan dalam jurnal, itu bisa 2.000 jurnal ya,” papar Dokter Tifa.
“Jadi, tidak penting untuk seseorang seperti saya itu menerbitkan jurnal lagi. Saya tidak butuh pun. Yang sekarang ini saya butuhkan adalah saya mengajar, membagi ilmu saya.” tutur dr Tifa. (LN/tribun)
























