Armin: Musda Golkar Sulsel Digelar Sebelum Wukuf di Arafah

0
FOTO: Armin M Toputiri, Politisi Partai Golkar Sulawesi Selatan. (Dok Armin via Facebook)
FOTO: Armin M Toputiri, Politisi Partai Golkar Sulawesi Selatan. (Dok Armin via Facebook)

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Armin M Toputiri, Steering Committee (SC) mengungkapkan pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan bakal digelar sebelum hari raya Idul Adha 1447 Hijriah atau di pertengahan bulan Mei 2026.

Bakal digelarnya Musda ke XI itu setelah dirinya disampaikan oleh pelaksana tugas (Plt) Ketua DPD Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel), Muhidin M.Said.

“Informasi dari Plt Ketua, sebelum Idul Adha,” ungkap Armin, Minggu (3/5) 2026).

Advertisement

“Atau sebelum wukuf di Arafah,” ujar Steering Committee Musda Golkar Sulsel sambil tersenyum.

Jelang Musda Golkar ke XI berbagai isu berkembang, Misalnya pernyataan Plt Wakil Sekretaris, DPD Golkar Sulsel, Arif Rosyid yang menyebutkan DPP telah merestui dua nama sebagai calon ketua yang telah direkomendasikan ketua umum yakni Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari.

Sementara itu terpisah Ketua DPD II Golkar Tana Toraja, Victor Datuan Batara diberitakan mengungkapkan salah satu calon Ketua DPD Golkar Sulsel Munafri ‘Appi’ Arifuddin dipanggil khusus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia.

Katanya, Pertemuan tersebut disebut berlangsung setelah adanya instruksi dari Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M Said, serta Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Idrus Marham.

“Betul. Pak Appi sekarang di Jakarta. Beliau dipanggil oleh DPP Golkar,” ujar Victor merespon kabar Munafri temui Bahlil Lahadalia jelang Musda Golkar Sulsel, Minggu (3/5/2026) dikutip dari pemberitaan.

Pengamat Politik

Pengamat politik dari Profetik Institute, Asratillah mengatakan mengerucutnya dua nama calon Ketua Golkar Sulsel bukan hanya sekadar hasil popularitas atau dukungan kader di bawah.

Tetapi kata Direktur Profetik Institute juga adanya faktor akses dan komunikasi politik dengan elite di tingkat pusat dalam hal ini Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar.

Hal itu menunjukkan bahwa dinamika internal partai sudah memasuki tahap seleksi yang sangat elitis.

“Ini menandakan bahwa proses politik tidak lagi sepenuhnya berlangsung di tingkat daerah, tetapi telah ditarik ke level pusat,” ujar Direktur Profetik Institute itu. Jumat (1/5/2026).

“Dalam perspektif kelembagaan partai, hal ini mencerminkan kuatnya peran DPP dalam menentukan arah kepemimpinan di daerah,” tambah Asratillah.

Asratillah lalu menjelaskan, Dirinya melihat bahwa munculnya dua nama tersebut bukan sekadar hasil popularitas atau dukungan kader di bawah, tetapi juga karena faktor akses dan komunikasi politik dengan elite pusat.

“Dalam banyak kasus di partai besar, legitimasi formal melalui Musda seringkali berjalan beriringan dengan legitimasi informal berupa restu dari DPP. Ini yang membuat kontestasi terlihat lebih terkendali dibandingkan terbuka,” katanya.

Di sisi lain kata Asratillah, kondisi ini bisa dibaca sebagai upaya untuk menjaga stabilitas internal partai. Dengan membatasi kandidat pada figur tertentu, potensi konflik bisa ditekan.

Namun konsekuensinya adalah ruang kompetisi menjadi lebih sempit, sehingga kader lain yang mungkin memiliki kapasitas tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tampil.

“Saya juga menilai bahwa publik perlu memahami bahwa politik internal partai tidak selalu berjalan linear. Meskipun saat ini hanya dua nama yang menguat, tetap terbuka kemungkinan munculnya dinamika tak terduga menjelang Musda.” katanya.

“Bisa saja terjadi perubahan dukungan, muncul kompromi baru, atau bahkan keputusan berbeda dari pusat jika situasi dianggap belum sepenuhnya stabil.” beber Direktur Profetik Institute.

Pada akhirnya, Direktur Profetik Institute memandang situasi ini sebagai cerminan dari model politik partai yang masih bertumpu pada keseimbangan antara kekuatan pusat dan daerah.

“Hasil akhirnya memang cenderung dapat diprediksi, tetapi politik selalu menyisakan ruang kejutan. Justru di ruang itulah sering muncul manuver manuver yang tidak terbaca sejak awal.” tutup Asratillah. (LN)

Advertisement