Saat Ahok dan Tom Lembong Berdiskusi Dengan Generasi Muda di Millenium Public Pulse 28

0
FOTO: DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga bersama Millennium Public Pulse 28 menggelar dialog antargenerasi pada Rabu (28/10/2026). (Foto: Monang Sinaga)
FOTO: DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga bersama Millennium Public Pulse 28 menggelar dialog antargenerasi pada Rabu (28/10/2026). (Foto: Monang Sinaga)

LEGIONNEWS.COM – JAKARTA, Memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda, DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga bersama Millennium Public Pulse 28 menggelar dialog antargenerasi pada Rabu (28/10/2026).

Forum itu menghadirkan Tom Lembong, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Saddam Permana, dan Gustika Jusuf Hatta, dimoderatori M. Syaeful Mujab.

Empat narasumber dari lintas generasi itu berbicara pada satu titik yang sama: masa depan orang muda, khususnya Generasi Z, tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan yang mengabaikan data dan pengalaman mereka sendiri.

Advertisement

Peneliti Gustika Jusuf Hatta membuka dengan kritik soal data yang dikumpulkan susah payah tetapi tidak pernah dipakai. “Banyak data yang dikumpulkan dengan banyak tenaga yang selalu disodorkan ke pembuat kebijakan tapi selalu kayanya nggak pernah dilihat,” katanya.

Ia juga menolak orang muda diperlakukan sebagai satu kelompok seragam. Menurutnya, Generasi Z dan milenial punya persoalan berbeda, sementara akses terhadap teknologi belum merata.

Yang paling ia soroti adalah cara negara merespons sikap kritis: “Orang muda ketika kritis bukan hanya dibungkam tapi juga dikriminalisasi.”

Gustika menyebut tekanan itu juga berlangsung di ruang digital, termasuk serangan terhadap orang muda yang bersuara. Ia mengingatkan bahwa di dalam kelompok orang muda terdapat beragam profesi — peneliti, dokter, petugas pemadam kebakaran, seniman, wirausaha — yang kebutuhannya tidak sama.

Dari sisi ekonomi, kreator konten Saddam Permana membongkar narasi bahwa Indonesia sedang baik-baik saja. “Orang yang beli iPhone itu tidak merepresentasikan seluruh ekonomi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Ia memakai pelajaran kebutuhan primer untuk menjelaskan persoalan: saat kebakaran hutan dan lahan membuat seratus ribu orang terpapar infeksi saluran pernapasan akut, udara bersih adalah kebutuhan primer, sementara berlibur ke luar negeri bukan.

Bagi Saddam, pendidikan adalah persoalan paling mendasar. “Pendidikan itu adalah dasar yang merupakan hak asasi manusia kita bersama,” tegasnya, seraya menyebut anak-anak di Aceh dan Lombok yang terhambat bersekolah.

Ahok menawarkan sisi lain: kepemimpinan yang mau mendengar. Ia menyebut seluruh permintaan dan pengaduan warga harus direspons, termasuk dengan cara yang santun. Pengalamannya memimpin Jakarta, kata dia, memberi pelajaran bahwa kebijakan tanpa kajian dan dialog bisa merugikan warga.

Ia mencontohkan relokasi warga ke rumah susun yang justru mematikan usaha kecil dan merusak jejaring sosial antar-tetangga. “Dulu kita pindahkan orang, kita berpikir untuk kebaikan dia, ternyata orang yang tinggal di gang-gang sempit itu dia bisa dagang,” ujarnya.

Pelajaran itu, kata Ahok, membuatnya mengubah rancangan rumah susun agar menyediakan ruang usaha.”Jadi kita harus jadi pejabat adalah administrator untuk mewujudkan keadilan sosial,” kata Ahok.

Sementara Tom Lembong menilai generasi muda akan menghadapi tekanan terberat bila perekonomian goyah. Ia memperkirakan potensi krisis dalam 6-12 bulan ke depan. “Hitungan saya mungkin potensi kita krisis dalam 6 bulan-12 bulan ke depan itu di atas 50%,” ujarnya.

Namun ia menolak berhenti pada pesimisme. Menurutnya, sejarah menunjukkan krisis kerap memicu reformasi yang menyelamatkan generasi berikutnya, seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa dan di Indonesia setelah 1998.

Dialog ini merupakan rangkaian peringatan Sumpah Pemuda yang digelar PDI Perjuangan. Millennium Public Pulse 28 dirintis sebagai ruang dialektika setiap tanggal 28, dan akan berlanjut hingga puncak satu abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028. Bagi para narasumber, taruhannya jelas: apakah generasi muda hari ini mendapatkan ruang yang sama untuk menentukan masa depannya sendiri. (*)

Advertisement