
LEGIONNEWS.COM – FAKFAK TIMUR, Bertempat di Aula Koramil Kawasan Transmigrasi Weri–Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, rangkaian program pendampingan masyarakat kembali bergulir melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Ke-2: Social Mapping pada Kamis (3/9/2026).
Mengusung tema besar “Penguatan Kohesi Sosial Masyarakat Lokal dan Masyarakat Nusantara melalui Pendampingan Ekonomi Kolaboratif di Kawasan Transmigrasi Weri–Saharey, Papua Barat”, forum terarah yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIT ini menjadi sarana perumusan langkah konkret dalam mengurai tantangan sosial-ekonomi kawasan.
Kegiatan ini digagas oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Universitas Hasanuddin di bawah kepemimpinan Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos., M.Sc., dengan pelaksana lapangan yang dikoordinir oleh Nur Vidiah Rachmadani bersama tim: Andi Farhan Fauzi, Vilia Glaudya Paays, Azzahra Zainal, dan Sudirman M.
Pertemuan ini dihadiri oleh 25 peserta representatif, mencakup Kepala Distrik Fakfak Timur Gani Samai, S.E., Kepala Kampung Weri Marteen Fuad, jajaran dewan adat, pengurus BUMKam Saharey, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta para tokoh masyarakat lokal dan transmigran.
Acara diawali secara khidmat melalui doa bersama yang dipimpin oleh Abdul Samai,
Kepala Distrik Fakfak Timur, Gani Samai, S.E., dalam sambutan sekaligus pemaparan materinya menegaskan bahwa peningkatan taraf hidup masyarakat tidak semata-mata bertumpu pada kekayaan alam, melainkan pada kemauan kolektif untuk beradaptasi terhadap perubahan zaman.
“Peningkatan kesejahteraan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi sangat dipengaruhi oleh pola pikir dan kemauan masyarakat untuk berinovasi,” ujar Kepala Distrik Fakfak Timur.
“Kita harus mulai meninggalkan pola konvensional dan terbuka pada peluang baru. Inovasi tidak harus rumit atau mahal, melainkan dimulai dari perubahan cara bekerja, cara mengolah komoditas agar bernilai tambah, dan cara membangun kerja sama melalui BUMKam yang profesional,” tutur Gani Samai.
Narasumber Ahli dari Universitas Hasanuddin, Andi Nurlela, S.Sos., M.Si., turut menekankan pentingnya kesadaran adaptif dan penguatan etos kerja di tingkat tapak.
Menurutnya, masyarakat tidak boleh terjebak dalam sikap pasif, melainkan harus proaktif memanfaatkan program pendampingan untuk meningkatkan disiplin dan menangkap peluang usaha baru berbasis potensi lokal.
Menyambung hal tersebut, Kepala Kampung Weri, Marteen Fuad, membedah kesenjangan nyata antara melimpahnya hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan dengan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang ada.
“Sumber daya alam kita berlimpah, tetapi belum menghasilkan nilai tambah optimal karena keterbatasan keterampilan pengolahan, manajemen usaha, dan pemasaran,” imbuh Kepala Kampung Weri, Marteen Fuad.
Di sinilah BUMKam harus difungsikan secara tepat bukan sekadar formalitas administratif, melainkan jembatan penggerak ekonomi yang dikelola transparan demi kepentingan warga,” tutur Marteen Fuad.
Sesi eksplorasi masalah yang berlangsung hangat di bawah panduan fasilitator menghadirkan pandangan kritis dari berbagai pemangku kepentingan desa:
Akses Jalan dan Ketahanan Lingkungan:
Perwakilan Dewan Adat, Ibu Mince Gosgos, menyoroti hambatan mobilitas harian warga akibat rusaknya jalur transportasi darat menuju Kampung Weri dan Saharey. Rusaknya akses ini memicu tingginya ongkos angkut hasil bumi menuju pusat pasar luar kampung.
Di samping itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian kampung sebagai modal dasar kenyamanan serta meminta agar ruang keterlibatan pemuda diperluas dalam agenda-agenda pelatihan.
Dilema Tata Kelola BUMKam Saharey:
Sekretaris BUMKam Kampung Saharey, Abdul Samay, secara terbuka memaparkan kendala kelembagaan yang dialami. Kendati badan usaha kampung telah dibentuk, operasionalisasinya belum berjalan produktif akibat keterbatasan modal awal, minimnya kekompakan pengurus, serta belum terbangunnya mekanisme penyerapan hasil panen yang menguntungkan kedua belah pihak.
Imbasnya, sebagian besar petani dan nelayan memilih menjual langsung hasil komoditasnya ke kota daripada melalui BUMKam.
Vakumnya Wadah Kreativitas Pemuda:
Diskusi mendalam juga menyingkap fakta minimnya ruang pembinaan generasi muda di kampung. Belum adanya organisasi pemuda yang aktif serta ketiadaan fasilitas olahraga dan pelatihan keterampilan menyebabkan potensi kepemudaan terabaikan.
Forum menyepakati pentingnya melembagakan kelompok pemuda desa agar memiliki program mandiri di bidang sosial, olahraga, dan rintisan ekonomi kreatif.
Menutup jalannya forum pada pukul 16.00 WIT, hasil pemetaan sosial (social mapping) ini menghasilkan rumusan strategis yang akan menjadi pijakan Tim 16 TEP Unhas pada fase intervensi berikutnya:
Revitalisasi BUMKam:
Menyusun tata kelola transparan, memperjelas unit usaha yang sesuai potensi unggulan lokal, serta membangun skema bagi hasil yang memulihkan kepercayaan warga.
Peningkatan Nilai Tambah Komoditas:
Melakukan pendampingan teknis pascapanen agar komoditas tidak lagi dilepas mentah dengan harga rendah.
Pengorganisasian Kelompok Pemuda: Memfasilitasi pembentukan wadah kepemudaan dan penyediaan ruang ekspresi guna mendorong lahirnya wirausaha muda desa.
Advokasi Infrastruktur dan Integrasi Pasar: Mendorong koordinasi lintas dinas teknis pemerintah daerah guna mendukung perbaikan jalan penghubung kawasan transmigrasi.
Koordinator TEP Tim 16, Nur Vidiah Rachmadani, menyampaikan apresiasi mendalam atas kejujuran dan partisipasi aktif warga. Seluruh catatan dan peta masalah ini akan dirumuskan menjadi dokumen kerja resmi yang segera disinkronkan dengan program instansi teknis terkait di Kabupaten Fakfak menjelang pelaksanaan pelatihan kolaboratif lapangan. (*)






![Taufik Hidayat Adukan Dr Makkah di Polda Sulsel Soal Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Fitnah FOTO: Kantor Mapolda Sulsel, Tamalanrea Indah, Jl. Perintis Kemerdekaan No.KM.16, Pai, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). [Istimewa]](https://legion-news.com/wp-content/uploads/2024/06/IMG-20240628-WA0151-218x150.jpg)










![Taufik Hidayat Adukan Dr Makkah di Polda Sulsel Soal Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Fitnah FOTO: Kantor Mapolda Sulsel, Tamalanrea Indah, Jl. Perintis Kemerdekaan No.KM.16, Pai, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). [Istimewa]](https://legion-news.com/wp-content/uploads/2024/06/IMG-20240628-WA0151-100x70.jpg)





