Membaca Jejaring Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad dalam Dinamika NU Sulawesi Selatan

0
FOTO: Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad
FOTO: Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad

“Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi.”

Oleh: Makmur Idrus, Sesepuh GP Ansor Sulsel.

LEGIONNEWS.COM – OPINI, okoh senior tidak selalu berada di depan panggung. Dalam dinamika NU, pengaruh terkadang justru bekerja melalui kewibawaan, pengalaman, jejaring, dan komunikasi yang tidak selalu terlihat publik.

Advertisement

Menjelang Muktamar NU ke-35, perhatian publik lebih banyak tertuju kepada kandidat Ketua Umum PBNU, pertemuan antarpengurus, kunjungan tokoh ke daerah, hingga berbagai bentuk pernyataan dukungan.

Namun dinamika Nahdlatul Ulama tidak selalu dapat dibaca hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Di lingkungan NU terdapat tokoh-tokoh senior yang mungkin tidak berdiri di barisan depan, tidak tampil sebagai bagian dari tim pemenangan, bahkan tidak pernah menyatakan dukungan secara terbuka. Tetapi rekam jejak, pengalaman, hubungan personal, dan jaringan sosial-keagamaannya membuat pandangan mereka tetap mempunyai bobot.

Dalam konteks Sulawesi Selatan, salah satu figur yang menarik untuk dibaca adalah Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad, M.S., APU.

Jejak Panjang di NU

Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad bukan nama baru dalam perjalanan NU di Sulawesi Selatan.

Beliau pernah memimpin PCNU Kota Makassar dan saat ini berada dalam jajaran Mustasyar PWNU Sulawesi Selatan.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa Prof. Kadir bukan sekadar akademisi yang mengamati NU dari luar. Ia pernah berada langsung dalam struktur organisasi, memahami dinamika internal, serta berinteraksi dengan berbagai generasi pengurus NU.

Dalam tradisi NU, pengaruh seorang senior memang tidak selalu identik dengan jabatan formal.

Ada sesuatu yang terkadang lebih sulit diukur: otoritas moral, pengalaman panjang, kepercayaan, serta kemampuan memberikan pertimbangan ketika organisasi menghadapi keputusan penting.

Di sinilah posisi tokoh senior sering kali menjadi menarik.

PMII dan Jaringan Alumni

Lapisan berikutnya adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Prof. Kadir Ahmad pernah memimpin IKA PMII Sulawesi Selatan. Pengalaman tersebut menempatkannya dalam jaringan alumni PMII yang tersebar di berbagai sektor: akademisi, birokrasi, politik, pesantren, organisasi kemasyarakatan, hingga kepengurusan NU.

Dalam konteks ini, hubungan historis dengan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menarik untuk dicermati.

Prof. Nasaruddin bukan figur asing bagi lingkungan PMII dan akademisi Sulawesi Selatan. Persinggungan tersebut sudah berlangsung jauh sebelum dinamika Muktamar NU ke-35.

Tetapi di sinilah analisis harus tetap berhati-hati.

Kedekatan historis dan hubungan jaringan tidak otomatis berarti kesamaan pilihan politik.

Seseorang dapat mempunyai hubungan baik dengan beberapa figur sekaligus tanpa harus menjadikan hubungan tersebut sebagai pilihan dalam Muktamar.

Karena itu, hubungan antara Prof. Kadir Ahmad dan Prof. Nasaruddin Umar lebih tepat dibaca sebagai jejak komunikasi dan kedekatan jaringan, bukan sebagai bukti dukungan politik.

JATMAN dan Jaringan Keulamaan

Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah keterlibatan Prof. Kadir Ahmad dalam lingkungan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN).

Jaringan tarekat memiliki pola komunikasi yang berbeda dengan politik organisasi konvensional.

Pengaruh tidak selalu bergerak melalui pertemuan terbuka, deklarasi, baliho atau publikasi media. Ia dapat bergerak melalui hubungan antara mursyid, kiai, pesantren, Syuriyah, serta tokoh-tokoh agama di daerah.

Karena itu, kekuatan seorang tokoh tidak selalu dapat diukur dari berapa banyak orang yang hadir dalam sebuah pertemuan.

Dalam tradisi pesantren dan NU, kadang satu percakapan dengan seorang kiai senior mempunyai arti lebih besar daripada sebuah pertemuan besar yang ramai di media sosial.

Dalam pengertian seperti inilah Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad dapat dibaca sebagai salah satu silent influencer di lingkungan NU Sulawesi Selatan.

Bukan dalam pengertian mengendalikan suara, melainkan karena pandangan dan pertimbangannya berpotensi didengar oleh mereka yang telah lama mengenal rekam jejaknya.

MUI, BRIN dan Dunia Akademik

Jejak Prof. Kadir Ahmad tidak berhenti pada organisasi NU.

Beliau mempunyai perjalanan panjang sebagai akademisi dan peneliti kehidupan keagamaan. Setelah lama berkiprah dalam lingkungan penelitian Kementerian Agama, beliau tercatat sebagai Peneliti Ahli Utama pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Posisi tersebut memperlihatkan bahwa ruang pengabdiannya tidak hanya berada pada organisasi keagamaan, tetapi juga pada dunia riset nasional yang mengkaji agama, kepercayaan, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Dalam dunia pendidikan tinggi, beliau juga mempunyai jejak penting di Universitas Islam Makassar (UIM) dan pernah menjadi Dekan Fakultas Agama Islam UIM.

Pengalaman itu memperlihatkan perjumpaan panjang antara dunia organisasi, pendidikan Islam, penelitian, dan pembentukan generasi intelektual.

Beliau juga aktif dalam MUI Sulawesi Selatan, sehingga lingkaran pengabdiannya semakin luas.

Jika digambarkan secara sederhana, terdapat sejumlah ruang yang beririsan dalam perjalanan Prof. Kadir Ahmad:

NU, PMII, JATMAN, MUI, BRIN, UIM, Kementerian Agama, Perguruan Tinggi, Pesantren.

Persinggungan inilah yang membuat Prof. Kadir menarik dibaca tidak hanya sebagai tokoh organisasi, tetapi juga sebagai intelektual dan peneliti senior dalam kehidupan sosial-keagamaan Sulawesi Selatan.

Apakah Menjadi Simpul Prof. Nasaruddin Umar?

Menjelang Muktamar, mungkin muncul pertanyaan:

Apakah Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad merupakan salah satu simpul Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar di Sulawesi Selatan?

Menurut saya, kesimpulan seperti itu masih terlalu cepat.

Hubungan historis dan persinggungan jaringan memang dapat ditemukan. Tetapi dalam membaca politik NU, kita perlu membedakan sedikitnya empat hal:

hubungan personal, hubungan organisasi, komunikasi politik, dan keputusan memilih.

Keempatnya tidak selalu berjalan dalam satu garis.

Seseorang dapat dekat dengan kandidat A, mempunyai hubungan lama dengan kandidat B, menghormati kandidat C, tetapi ketika sampai pada keputusan organisasi ia masih dapat mengambil sikap berbeda.

Itulah sebabnya Muktamar NU tidak selalu mudah dipetakan hanya melalui foto pertemuan, kunjungan kandidat, atau siapa yang duduk semeja dengan siapa.

Dalam bahasa sederhana:

silaturahmi belum tentu dukungan, dukungan belum tentu pilihan.

Mengapa AHWA Menjadi Menarik?

Menurut saya, figur seperti Prof. Kadir Ahmad bahkan lebih menarik bila dibaca dalam konteks AHWA.

AHWA berada pada ruang yang erat dengan otoritas keulamaan, Syuriyah, pesantren, senioritas, dan kepercayaan personal.

Di wilayah semacam itulah rekam jejak seorang tokoh senior dapat mempunyai arti.

Karena itu, membaca peta Muktamar NU ke-35 tidak cukup hanya dengan menghitung berapa kali kandidat datang ke Sulawesi Selatan atau berapa banyak PCNU yang hadir dalam sebuah pertemuan.

Ada satu variabel yang jauh lebih sulit dipotret:

kepada siapa para kiai dan pemegang suara meminta pandangan sebelum mengambil keputusan?

Pertanyaan tersebut mungkin justru lebih penting daripada menghitung jumlah foto bersama.

Genealogi Intelektual NU Sulawesi Selatan

Ada dimensi lain yang menurut saya menarik untuk dikaji lebih dalam, yaitu genealogi intelektual dan jaringan kader NU-PMII Sulawesi Selatan.

Nama-nama seperti Prof. Rahman Idrus, Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dan sejumlah tokoh NU serta PMII generasi sebelumnya mempunyai persinggungan sejarah melalui berbagai ruang.

Ada yang bertemu melalui PMII.

Ada melalui NU.

Ada melalui dunia perguruan tinggi, penelitian, Kementerian Agama, pesantren, maupun organisasi keagamaan.

Jejaring semacam ini tidak boleh serta-merta diterjemahkan sebagai satu blok politik. Namun ia penting untuk memahami bagaimana komunikasi, kepercayaan, dan hubungan antargenerasi terbentuk dalam NU Sulawesi Selatan.

Muktamar hanya berlangsung beberapa hari.

Tetapi jaringan sosial dan intelektual yang memengaruhi cara seseorang melihat organisasi dibangun selama puluhan tahun.

Penutup

Menjelang Muktamar NU ke-35, kita mungkin terlalu sibuk memperhatikan apa yang ramai di permukaan.

Padahal dinamika NU jauh lebih kompleks.

Yang ramai belum tentu memilih.
Yang diam belum tentu tidak bergerak.
Yang dekat belum tentu mendukung.
Dan yang tidak tampil di panggung belum tentu tidak didengar.

Prof. Dr. KH. Abd. Kadir Ahmad adalah salah satu contoh bagaimana pengaruh seorang tokoh senior dapat terbentuk melalui rekam jejak, pengalaman, jaringan keilmuan, hubungan keulamaan, dan kepercayaan yang dibangun dalam waktu panjang.

Jejaknya di NU, PMII, JATMAN, MUI, BRIN, UIM, Kementerian Agama, dunia penelitian, serta pendidikan tinggi membuat sosoknya menarik untuk dibaca dalam dinamika NU Sulawesi Selatan.

Karena itu, menjelang Muktamar NU ke-35, mungkin kita tidak cukup hanya bertanya:

“Siapa bertemu siapa?” Atau:
“Siapa mendukung siapa?”

Ada pertanyaan yang jauh lebih dalam:

“Kepada siapa para kiai dan pemegang suara meminta pertimbangan sebelum menentukan pilihan?”

Barangkali dari situlah kita mulai dapat membaca peta yang tidak terlihat dalam Muktamar NU.

Advertisement