Kisah Perjalanan Hertasning, Putra Pallangga

0
FOTO: Letjen Hertasning dan Keluarga. (Dok via media sosial)
FOTO: Letjen Hertasning dan Keluarga. (Dok via media sosial)

“Anak Kampung yang Menjadi Jenderal, Diplomat, dan Pejuang Bangsa”

LEGIONNEWS.COM – SEJARAH, Pada pagi hari tanggal 19 Desember 1922, di sebuah kampung bernama Taeng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak akan mengukir namanya dalam sejarah bangsa.

Anak itu diberi nama Haeruddin Tasning.

Advertisement

Ia adalah putra kedua dari pasangan H. Tasning Daeng Muntu dan Hj. Bonto Daeng Kunjung, keluarga bangsawan Gowa yang hidup dalam kuatnya tradisi masyarakat Makasaar. Ia hanya dua bersaudara. Kakaknya bernama Hj. Balobo Daeng Ugi, yang sejak kecil menjadi sosok terdekat dalam perjalanan hidupnya.

Sebagaimana adat yang diwariskan turun-temurun, selain nama pemberian orang tua, seorang anak juga memperoleh “paddaengang” gelar kehormatan keluarga yang menjadi identitas dalam kehidupan sosial masyarakat Makassar.

Maka kepada Haeruddin Tasning disematkan nama Daeng Toro. Nama itu kemudian melekat sepanjang hidupnya.

Kelak orang mengenalnya sebagai Haeruddin Tasning Daeng Toro. Namun bagi keluarga, sahabat, prajurit, dan masyarakat Sulawesi Selatan, ia lebih akrab dipanggil dengan satu nama yang sederhana namun penuh wibawa:

Hertasning.

Seiring berjalannya waktu, Hertasning membangun keluarganya sendiri. Dari pernikahannya lahirlah empat orang anak yang menjadi kebanggaannya, yaitu Bambang, Hetty, Anto, dan Indra. Di tengah kesibukannya sebagai prajurit, pejabat militer, hingga diplomat negara, Hertasning tetap dikenal sebagai seorang ayah yang mencintai keluarganya dan selalu berusaha memberikan teladan melalui tindakan, bukan sekadar kata-kata.

Tak seorang pun pada hari kelahirannya mengetahui bahwa anak yang lahir di sudut kampung Taeng itu suatu hari akan menjadi pejuang kemerdekaan, perwira tinggi TNI, hingga Duta Besar Republik Indonesia.

Tak ada yang menyangka bahwa langkah-langkah kecilnya di jalanan kampung akan membawanya melintasi medan perang, ruang-ruang komando militer, hingga meja diplomasi antarnegara.

Yang tampak saat itu hanyalah seorang anak Makassar biasa.

Namun sejarah diam-diam sedang menyiapkan perjalanan luar biasa baginya.

Perjalanan yang akan membawanya menghadapi penjajahan, revolusi, pergolakan militer, hingga pengabdian kepada negara sampai akhir hayatnya.

Lebih dari setengah abad kemudian, tepat ketika sedang menjalankan tugas negara, takdir menutup perjalanan panjang itu. Pada 1 Juli 1978, di kawasan pegunungan Bedugul, Bali, Hertasning berpulang setelah mengalami kecelakaan helikopter dalam rangkaian tugas kenegaraan, putranya Anto turut mendampinginya dalam perjalanan tersebut. Dalam kecelakaan helikopter di kawasan Bedugul yang merenggut nyawa Hertasning, Anto juga ikut gugur bersama sang ayah.
Seolah takdir mempertemukan keduanya dalam pengabdian terakhir.

Ayah dan anak itu meninggalkan dunia pada peristiwa yang sama, menjadi bagian dari duka yang tidak hanya dirasakan keluarga besar Hertasning, tetapi juga bangsa yang kehilangan salah satu putra terbaiknya. Ia wafat sebagaimana ia hidup.

Mengabdi kepada bangsa.

Tetapi kisah seorang Hertasning sesungguhnya tidak dimulai di Bedugul.

Kisah itu dimulai jauh sebelumnya, di sebuah kampung kecil bernama Taeng, ketika seorang anak lelaki memilih jalan hidup yang tidak biasa.

Suara tembakan terdengar memecah kesunyian pagi di sebuah kampung di Sulawesi Selatan.

Asap mesiu bercampur debu beterbangan di udara. Di tengah ketakutan yang melanda masyarakat, seorang pemuda berdiri tegak dengan senjata di tangan. Wajahnya tenang, matanya tajam menatap ke arah pasukan penjajah yang masih berusaha mempertahankan kekuasaan mereka.

Pemuda itu bernama Hertasning Daeng Toro.

Saat itu ia bukan jenderal, Bukan pula duta besar.

Ia hanyalah seorang anak bangsa yang menolak melihat tanah kelahirannya diinjak-injak oleh bangsa asing.

Padahal jalan hidup yang tersedia baginya jauh lebih nyaman.

Di masa penjajahan Belanda, hanya sedikit pribumi yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan. Hertasning termasuk di antara mereka yang beruntung. Dengan kecerdasan dan pendidikannya, ia memiliki peluang untuk meniti karier yang terhormat dalam sistem pemerintahan kolonial.

Tetapi ada panggilan yang lebih kuat daripada jabatan.

Ada suara hati yang lebih nyaring daripada janji kehidupan nyaman.

Ketika rakyatnya berjuang mempertahankan harga diri dan kemerdekaan, Hertasning memilih meninggalkan segala kemungkinan itu. Ia memutuskan berdiri bersama bangsanya.

Pilihan tersebut membawanya memasuki perjalanan panjang yang penuh tantangan.

Ia bertempur sebagai pejuang kemerdekaan.

Ia menjalani kehidupan sebagai prajurit tanpa pendidikan militer formal.

Ia menghadapi kecemburuan, keraguan, bahkan hambatan dalam kariernya.

Namun setiap rintangan justru menempa dirinya menjadi pribadi yang semakin kuat.

Dan di antara lembaran sejarah bangsa ini, nama Mayor Jenderal TNI (Purn.) Haeruddin Tasning Daeng Toro tetap berdiri sebagai pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun oleh orang-orang yang berani mengorbankan kepentingan pribadi demi tanah air yang mereka cintai.

Sebagai tentara lokal yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal militer, Hertasning menghadapi berbagai hambatan. Pada masa itu, kesempatan naik pangkat lebih banyak diberikan kepada mereka yang memiliki pendidikan militer resmi. Sementara para pejuang lokal, meski telah mempertaruhkan nyawa di medan perang, sering kali harus menerima kenyataan pahit bahwa pengorbanan mereka kurang dihargai.

Hertasning merasakan sendiri keadaan itu.

Bersama sejumlah pejuang Sulawesi Selatan lainnya, ia berkali-kali menghadapi kesulitan dalam meniti karier militer. Namun keterbatasan itu tidak membuat semangatnya surut. Ia tetap mengabdi dengan penuh loyalitas, membuktikan bahwa kemampuan tidak selalu lahir dari bangku pendidikan formal, melainkan dari keberanian, disiplin, dan dedikasi.
Waktu terus berjalan.

Tahun 1957 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Pemerintah melakukan reorganisasi militer yang memberi kesempatan lebih besar kepada putra-putra daerah untuk menduduki posisi strategis. Saat Kodam XIV/Hasanuddin dibentuk, Hertasning dipercaya menduduki jabatan penting sebagai Kepala Staf. Sejak 1 Juni 1957, ia menjadi orang nomor dua di jajaran Kodam Hasanuddin.

Kepercayaan itu bukan hadiah.
Itu adalah buah dari perjalanan panjang yang ditempa oleh perjuangan, pengabdian, dan kerja keras selama bertahun-tahun.
Kariernya terus menanjak. Nama Hertasning semakin dikenal hingga akhirnya ia dipercaya mengemban tugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura.

Di negeri jiran itu, ia dikenal sebagai sosok yang teliti, disiplin, dan tidak pernah membiarkan pekerjaan selesai setengah hati. Baginya, tugas negara adalah amanah yang harus dijalankan dengan sempurna.
Sifat itu pula yang mengantarkannya pada hari-hari terakhir pengabdiannya.

Pada awal Juli 1978, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew dijadwalkan melakukan kunjungan ke Indonesia dan bermain golf bersama Presiden Soeharto di Bedugul, Bali.

Sebagai Duta Besar RI untuk Singapura, Hertasning ingin memastikan seluruh persiapan berjalan tanpa cela.
Ia melakukan inspeksi langsung.
Bersama beberapa orang, ia menaiki helikopter menuju Bedugul. Tugas negara yang diembannya hampir selesai. Namun takdir memiliki rencana lain.

Dalam perjalanan pulang dari Bedugul menuju Denpasar, helikopter yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan jatuh.
Di sanalah pengabdian panjang seorang pejuang bangsa berakhir.
Mayor Jenderal TNI (Purn.) Hertasning Daeng Toro gugur saat masih menjalankan tugas untuk negaranya.

Kabar duka itu mengguncang Indonesia dan Singapura. Sebagai bentuk penghormatan, bendera kedua negara yang sedang berkibar penuh diturunkan menjadi setengah tiang.

Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang mendalam.
Namun warisan yang ditinggalkannya jauh lebih besar daripada sekadar jabatan atau pangkat. Ia meninggalkan teladan tentang keberanian memilih jalan yang benar, tentang kesetiaan kepada bangsa, dan tentang pengabdian yang tidak pernah berhenti hingga akhir hayat.

Hertasning telah membuktikan bahwa seseorang tidak dikenang karena seberapa tinggi kursi yang didudukinya, melainkan karena seberapa besar manfaat yang ia berikan bagi negerinya.
Dan hingga hari ini, namanya tetap hidup sebagai salah satu putra terbaik Sulawesi Selatan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk Indonesia.

Di balik seragam jenderal dan jabatan diplomatik yang tinggi, Hertasning tetaplah seorang manusia biasa.

Seorang ayah bagi anak-anaknya.

Seorang suami bagi keluarganya.

Seorang sahabat bagi rekan-rekannya.

Seorang pemimpin yang dikenal teliti dan tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja.

Mereka yang mengenalnya mengingat ketegasan sekaligus kehangatan pribadinya. Sebagian mengenang keberaniannya di medan tugas. Sebagian lain mengenang senyumnya, nasihatnya, dan perhatian kecil yang sering luput dari catatan sejarah.

Karena itu, kisah Hertasning bukan sekadar cerita tentang seorang jenderal.

Ini adalah kisah tentang seorang anak kampung yang berani bermimpi.

Kisah tentang seorang pejuang yang menolak menyerah.

Kisah tentang seorang pemimpin yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara.

Melalui cerita ini, kita akan menelusuri jejak perjalanan hidupnya. Dari lorong-lorong kampung di Sulawesi Selatan, medan perjuangan kemerdekaan, ruang-ruang komando militer, hingga panggung diplomasi internasional.

Sebuah perjalanan panjang yang membuktikan satu hal:

Bahwa kehormatan sejati bukanlah jabatan yang diraih, melainkan pengabdian yang diberikan kepada bangsa hingga akhir hayat.

Advertisement