Video: Ibu Papua Meraup Omzet dari Usaha Tanaman Hias

2776
Advertisement

MERAUKE|Legion-News.com tingginya minat ibu- ibu terhadap keindahan tanaman hias dimanfaatkan sebagai pundi-pundi Rupiah oleh ibu Frederika Debat Ndiken, berawal dari minatnya dengan tanaman dan kejeliannya membaca peluang usaha mengantarkannya menjadi enterpreneur di bidang tanaman hias.

Sejak tahun 2014 ibu Rika memulai usahanya dengan membudidaya tanaman hias berbagai jenis tanaman Mayana dan jenis bunga lokal Papua maupun dari luar Papua.

” Saya memulai tahun 2014 berawal dari tanaman bunga anggin, saya tertarik itu karena kita orang Merauke orang malind setiap acara pakai bunga anggin untuk hias, jadi saya berniat membudidayakan agar tidak punah, kemudian berlanjut 2017 membudidayakan bunga Mayana”

Ibarat kata pepatah kerja keras tidak pernah menghianati hasil, keseriusan dan kerja keras ibu Rikarda memberikan omzet jutaan hingga puluhan juta perbulannya.

Advertisement

“Puji Tuhan dari penjualan Mayana sebelum covid 19 saya mendapat hasil penjualan, kisaran 2-3 juta perhari, Desember mulai kurang, dan sekarang saya mengembangkan berbagai jenis tanaman hias lain”

Koleksi tanaman bunga hias ibu Frederika, yang di budidayakan diatas lahan seluas satu hektar tersebut telah mencapai jumlah ratusan jenis bunga, salah satunya bunga Kris Papua yang sedang diminati masyarakat Indonesia.

” Saya tertarik dengan berbagai jenis bunga, termasuk bunga yang lagi terkenal itu janda bolong, di hutan kita papua juga ada yg tidak kalah bagusnya yaitu Kris Papua, sekarang saya mengembangkan bunga Kris Papua”

Ibu Frederika Debat Ndiken yang sehari- hari membuka toko bunganya di jalan Ahmad Yani pasar Mopah Merauke ini juga pernah menjajal sebagai aktivitis Perempuan, politikus dan kini menjadi enterpreneur perempuan Papua yang sukses dan selalu optimis kalau orang Papua juga bisa.

“Sebenarnya kita ini orang Papua tidak ada yang kurang, peluangnya sangat banyak, tinggal kita mau berusaha sungguh-sungguh atau tidak, kalau yang lain bisa kenapa kita tidak”. Tutupnya (Kabiro Papua/Nuel)

Advertisement