Setahun di Pentaskan: Makassar yang Terlihat dan yang Terbranding di Panggung Dunia

0
FOTO: Kota Makassar, Sulawesi Selatan suasana di Malam Hari. (Dok via Google)
FOTO: Kota Makassar, Sulawesi Selatan suasana di Malam Hari. (Dok via Google)

Oleh: KNPI Kota Makassar, Syamsul Bahri Majjaga; Catatan Empat Tahun Sisa Pengabdian Wali Kota Makassar

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Di panggung dunia, tepuk tangan bisa berbicara lebih keras daripada kata-kata. Cepat datang, durasinya panjang, dan ekspresinya memuaskan.

Bagi audiens yang jauh dari lorong-lorong Makassar, itu cukup untuk percaya bahwa kota dalam paparan persentase itu adalah kota hidup dan hebat. Tetapi di lorong-lorong kota, narasi yang dipoles untuk memukau warga lewat pesan berita hanya singgah sebagai memori.

Advertisement

Sampai disini, dari memori dan nalar pembaca. Pujian atau caci, terserah, bebas untuk siapa saja sebagai penilai. Yang jelas standar penilaian bagi warga Makasar adalah satu; menimbang antara yang terbaca di berita dan yang nyata.

Makassar Creative Hub (MCH) dulu adalah narasi besar yang dilepas tinggi. Slide terlihat rapi sebagai inovasi, kata-kata megah tentang kolaborasi di dengungkan, riuh tepuk tangan panjang dari pemimpin kota dunia pun di dapatkan .

Dari jauh, kota tampak hidup, berenergi, siap melangkah. Indah sebagai imajinasi, dari dekat, balon itu bocor sebelum sempat terbang. Launching, foto, tepuk tangan, hidup sebentar, mati sesaat, durasi menit dari setelah di lahirkan. Sayang yah.

Bagi warga, MCH terlihat hanya melalui berita dan presentasi. Seorang pemuda di warung kopi menatap foto MCH dan berbisik:

“Katanya pusat kreativitas, tapi tempatnya di jalan mana, programnya apa, yang pernah kesana siapa yah.”

Dr. Irfan Malik, pakar tata kota, menegaskan: “Program yang hidup di presentasi tapi tidak menyentuh pengalaman warga hanyalah memori kosmetik. Ia memukau dunia, tapi di lokal hanya cerita yang dipoles.”

Kini panggung berganti, tema pun berubah. Asia Pacific Cities Alliance for Health and Development (APCAT) Summit. Katanya forum pemimpin Kota dunia, Kota sehat, bebas rokok, ruang urban yang bersih.

Slide diperbarui, istilah diperhalus, branding kembali dipentaskan. Sedikit memaksa kesan,
Wali Kota kembali memukau audiens global. Tepuk tangan panjang, kamera menyorot.

Tetapi warga membaca berbeda.
Mereka membaca dari lorong yang tegang, dari pasar yang ramai dengan perbincangan relokasi, dari ibu-ibu yang menyapu sampah yang menumpuk di halaman rumah sambil bertanya pelan:
“Kalau sudah selesai launching, kita tunggu apa lagi?”

Itulah setahun cerita pemimpin Kota Makassar yang hidup dan indah dalam narasi berita. Ia haus tepuk tangan, haus citra, haus sorotan dunia. Ia lupa bahwa panggung hanyalah lampu sorot sementara.

Kota sejatinya adalah lorong, pasar, anak-anak yang mengejar mimpi tanpa basa basi balon kreatif.
Slide rapi bisa menipu mata dunia, tapi aroma kebijakan di semua sudut kota dan jejak program di lorong tidak bisa berbohong.

Empat tahun sisa masa jabatan wali kota adalah waktu terakhir untuk menjawab pertanyaan sederhana tapi jujur;

Apakah kota ini hanya bisa dipentaskan, atau bisa dibenahi?
Branding, tepuk tangan, dan slide bisa memuaskan dunia. Tetapi warga yang menapaki lorong setiap hari tahu mana yang nyata, mana yang sekadar ilusi.

Suara warga adalah data empiris yang tak terbantahkan.
Mereka membaca kota dengan tubuh, telinga, dan pengalaman sehari-hari.

Suara itu tidak bisa dipajang, tidak bisa difoto, tidak bisa dibeli. Ia adalah denyut kota yang nyata, penanda efektivitas program publik yang sesungguhnya.

Dan yang paling sunyi sekaligus mendikte adalah satu peryataan sederhana;

Pemimpin boleh haus akan citra, audiens boleh bertepuk tangan, slide boleh memukau dunia, tapi lorong akan selalu menunggu jawaban nyata.
Dan kami, dan bagi warga yang tahu semua gemerlap itu hanyalah cerita, akan tetap menilai ketika lampu panggung itu padam.

Advertisement