LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030 yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Januari 2026 di Kampus Unhas Jakarta terus menjadi sorotan publik akademik. Lokasi pemilihan yang berbeda dari tradisi sebelumnya yang umumnya berpusat di Makassar dinilai membawa implikasi tersendiri bagi dinamika kontestasi, sekaligus memberi sinyal perubahan pendekatan dalam tata kelola pemilihan pimpinan perguruan tinggi.
Pengamat kebijakan publik sekaligus alumni Unhas, Arief Wicaksono, menilai keputusan menggelar Pilrek Unhas di Jakarta dapat dibaca sebagai langkah strategis untuk menjaga netralitas dan efektivitas proses pemilihan. Menurutnya, Jakarta sebagai lokasi relatif “netral” berpotensi meminimalkan pengaruh kedekatan emosional maupun basis lokal yang biasanya kuat di kampus utama Makassar.
“Selama ini pilrek Unhas identik dengan atmosfer lokal yang sangat kental. Pemindahan ke Jakarta bisa dimaknai sebagai upaya menciptakan jarak yang sehat dari dinamika lokal, sekaligus memastikan proses berjalan lebih formal dan terawasi,” ujar Arief.
Ia menambahkan, Kampus Unhas Jakarta sebagai cabang resmi universitas juga memiliki makna simbolik. Selain memperkenalkan eksistensi Unhas di ibu kota, lokasi tersebut mencerminkan orientasi nasional Unhas yang semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam konteks persaingan kandidat, Arief memprediksi Prof. Jamaluddin Jompa (Prof. JJ) memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan Pilrek Unhas dibandingkan kandidat lain, termasuk Prof. Budu. Prediksi tersebut, menurutnya, tidak lepas dari hasil penyaringan oleh Senat Akademik Unhas pada November 2025 lalu.
“Dalam tahap penyaringan, Prof. JJ memperoleh dukungan yang sangat dominan, sekitar 74 suara dari total 101 anggota Senat Akademik. Ini bukan sekadar angka, tapi indikator kuat tentang tingkat kepercayaan akademisi internal terhadap kepemimpinannya,” jelas Arief.
Sebagai rektor petahana, Prof. JJ dinilai memiliki rekam jejak yang cukup kuat, terutama dalam mendorong internasionalisasi kampus, penguatan riset, serta positioning Unhas sebagai universitas riset yang diperhitungkan di tingkat nasional dan global. Modal tersebut dianggap masih relevan dan resonan dengan kebutuhan Unhas ke depan.
Arief juga menilai lokasi Jakarta berpotensi memberi keuntungan tambahan bagi Prof. JJ. Dengan jejaring nasional dan internasional yang relatif luas, terutama dalam kolaborasi riset dan kebijakan strategis, Prof. JJ dinilai lebih siap beradaptasi dengan atmosfer pemilihan yang lebih formal dan terpusat.
“Jakarta cenderung menguntungkan kandidat yang memiliki pengalaman lintas institusi dan jejaring nasional. Sementara kandidat lain mungkin memiliki basis dukungan yang lebih terkonsentrasi di Makassar,” ujarnya.
Meski demikian, Arief mengingatkan bahwa setiap kandidat tetap memiliki faktor risiko. Ia menyebut adanya sejumlah isu yang sempat mencuat terkait penyelenggaraan universitas di masa lalu. Namun, hingga kini, isu-isu tersebut belum terbukti memengaruhi legitimasi pencalonan Prof. JJ maupun menggerus dukungan mayoritas Senat Akademik.
“Fakta bahwa dukungan senat tetap solid menunjukkan bahwa komunitas akademik mampu membedakan antara isu yang masih bersifat dugaan dan capaian nyata kepemimpinan,” kata Arief.
Secara keseluruhan, Arief menilai momentum hasil penyaringan awal oleh Senat Akademik menjadi faktor kunci yang sulit diabaikan. Dengan konfigurasi tersebut, ia memprediksi Prof. Jamaluddin Jompa berada pada posisi paling kuat untuk memenangkan Pilrek Unhas 2026–2030, meskipun dinamika akhir di Majelis Wali Amanat tetap akan menjadi penentu.
























