LEGIONNEWS.COM|MOJOKERTO, – Harapan besar kini menyelimuti warga tani di Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko melalui program P3-TGAI yang dibiayai dana APBN 2026 senilai Rp195 juta. Saluran irigasi Penewon yang selama ini menjadi tulang punggung pertanian setempat, kini tengah dibenahi secara menyeluruh. Inisiatif yang dijalankan BBWS Brantas ini menjadi bukti nyata komitmen menjaga ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Mojokerto. Sabtu, (1/8).
Pemerintah lewat BBWS Brantas, mempercayakan pelaksanaan pekerjaan ini langsung kepada Kelompok Petani Pengguna Air Tani Mulyo dengan sistem swakelola, sesuai Permen PUPR Nomor 4 Tahun 2021. Langkah ini dipilih karena petani dianggap paling mengerti kondisi lapangan, sehingga pekerjaan diharapkan lebih pas kebutuhan dan membuka peluang ekonomi langsung bagi warga desa.
Selama ini, kerusakan dan pendangkalan saluran sering membuat aliran air terhambat. Petani di bagian hilir sering kali harus berjuang keras mendapatkan cukup air saat musim kemarau atau masa tanam. “Kami berharap setelah selesai nanti, tidak ada lagi yang merasa kekurangan air, sehingga semua bisa panen maksimal,” ungkap seorang petani yang turut bekerja.
Sistem swakelola membawa dampak ganda positif, selain mendapatkan saluran air yang lebih baik, seluruh biaya tenaga kerja disalurkan langsung kepada warga lokal. Hal ini membantu meringankan beban biaya produksi pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga di tengah tantangan ekonomi saat ini.
Agar kualitas pekerjaan terjamin, tim teknis BBWS Brantas secara rutin mendampingi kelompok tani. Mulai dari pemilihan jenis material hingga cara pemasangan, semuanya dipandu agar memenuhi standar bangunan yang kuat, aman, dan tahan pakai dalam jangka waktu panjang.
Mahmudi, Kepala Dusun Karangkedawang mengapresiasi antusiasme warga yang saling bahu-membahu dalam pekerjaan ini. Menurutnya, nilai gotong royong yang tumbuh kembali merupakan kekayaan sosial yang tak ternilai, selain hasil fisik saluran irigasi yang nantinya akan dinikmati bersama.
“Anggaran sebesar Rp195 juta ini dialokasikan untuk membenahi lebih dari 260 meter jalur irigasi. Dengan aliran air yang lebih lancar dan merata, produktivitas lahan pertanian diprediksi dapat naik hingga 20% dibanding hasil rata-rata tahun sebelumnya,” terangnya.
Keselamatan kerja juga menjadi perhatian utama pengawas. Perlengkapan pelindung diri seperti helm, sepatu keselamatan, dan alat pelindung lainnya telah disiapkan dan akan digunakan sepenuhnya saat pekerjaan memasuki tahap konstruksi.
Sementara, pakar pembangunan menilai swakelola adalah cara terbaik menanamkan rasa tanggung jawab. Ketika petani yang membangun sendiri, mereka akan merasa memiliki sepenuhnya dan berkomitmen untuk menjaga serta merawat aset tersebut agar tidak cepat rusak.
“Keunggulan dikerjakan oleh warga sendiri adalah efisiensi dan ketepatan sasaran. Mereka tahu persis mana bagian yang harus diperkuat dan mana yang cukup diperbaiki ringan, sehingga tidak ada bahan yang terbuang percuma dan anggaran dapat dimanfaatkan sebaik mungkin,” lontar pakar pembangunan.
Setelah pekerjaan rampung pada 20 Agustus mendatang, kelompok tani berencana membentuk tim pemeliharaan rutin. Tujuannya agar manfaat proyek ini tidak hanya dirasakan sesaat, tapi tetap terjaga hingga bertahun-tahun ke depan.
Warga Kabupaten Mojokerto berharap keberhasilan pelaksanaan di Karangkedawang bisa menjadi contoh bagi desa lain. Semangat kerja sama dan kepatuhan aturan diharapkan bisa diterapkan di lokasi lain yang juga membutuhkan pembenahan saluran irigasi.
Saat ini pekerjaan sedang berjalan menuju tahap akhir. Bersama pendamping teknis, kelompok tani juga mulai menyusun jadwal pengujian aliran air dan langkah pemeliharaan pertama pasca akan serah terima pekerjaan.
Bagi para petani, irigasi yang baik adalah pondasi masa depan. Dengan resiko gagal panen akibat kekeringan yang semakin kecil, mereka berani menanam varietas unggul dan mulai merencanakan pengembangan komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi.
Proyek ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara kebijakan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat mampu melahirkan perubahan berarti. Investasi ini bukan hanya tentang beton dan saluran air, melainkan tentang menata masa depan pertanian yang lebih cerah dan sejahtera di Jawa Timur.
Laporan: Vivin
























