
LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, Kota Makassar kembali menegaskan komitmennya sebagai kota inklusif melalui gelaran seni budaya yang melibatkan penyandang disabilitas intelektual.
Komunitas Orang Tua Anak dengan Sindroma Down (KOADS) berkolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil Kota Kita menggelar acara bertajuk “Motif Tanpa Batas: Batik Ciprat dan Cap untuk Kota Inklusif”.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 18 hingga 20 Agustus 2026, di kawasan cagar budaya Benteng Rotterdam, Jl. Ujung Pandang, Makassar.
Acara ini bukan sekadar pameran atau lokakarya batik biasa, melainkan sebuah manifestasi afirmatif terhadap hak-hak Difabel dalam ruang publik. Melalui medium seni tradisional batik ciprat dan cap, para peserta Difabel akan mengekspresikan kreativitas mereka tanpa sekat stigma sosial yang sering kali membatasi potensi individu dengan sindroma down.
Setiap goresan warna dan tekanan cap pada kain menjadi simbol perlawanan terhadap narasi ketidakmampuan yang selama ini melekat, sekaligus merayakan keberagaman sebagai aset utama pembangunan kota yang manusiawi.
Ditemui di sela-sela persiapan kegiatan pada Sabtu (15/8/2026) di Sekretariat KOADS Jalan Bontomangapa Nomor 3, Kota Makassar, Ketua Panitia Hj. Rosmaladewi, S.T., yang juga menjabat sebagai Ketua KOADS Makassar, menjelaskan bahwa momentum bulan Agustus dipilih secara sengaja untuk menyelaraskan semangat kemerdekaan nasional dengan kemerdekaan berekspresi bagi kelompok marginal.
Menurutnya, kemerdekaan sejati tidak akan tercapai jika masih ada warga negara yang merasa terasing dari proses kebudayaan dan ekonomi kreatif. Suasana di sekretariat tampak sibuk namun penuh kehangatan, dengan para relawan dan anggota komunitas sedang mempersiapkan materi batik serta memastikan kesiapan logistik menuju lokasi acara di Benteng Rotterdam nanti.
“Kami ingin mengubah paradigma masyarakat. Difabel bukan objek kasihan, melainkan subjek pencipta karya yang memiliki nilai estetika dan filosofis tinggi. Batik ciprat ini dipilih karena tekniknya yang cair dan bebas, sangat merepresentasikan jiwa para peserta kami yang penuh imajinasi tanpa batas,” ujar Rosmaladewi saat ditemui di markas komunitasnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana terapi okupasi dan penguatan keterampilan vokasional, sehingga diharapkan dapat membuka peluang ekonomi mandiri bagi para Difabel di masa depan. Dari sekretariat inilah, seluruh koordinasi teknis dan konsep inklusi dirancang matang sebelum dieksekusi di ruang publik.
Kolaborasi antara KOADS dan Kota Kita dalam event ini mencerminkan model kemitraan strategis antara komunitas berbasis identitas dan lembaga penggerak kota. Kota Kita, yang dikenal dengan pendekatan perencanaan partisipatif, memastikan bahwa Benteng Rotterdam tidak hanya menjadi latar belakang visual, tetapi juga ruang dialog aktif antara Difabel dan masyarakat umum.
Lokasi bersejarah ini dipilih untuk menegaskan bahwa warisan budaya Makassar adalah milik bersama, termasuk bagi mereka yang selama ini sering terpinggirkan dari narasi sejarah dan kebudayaan dominan. Sementara itu, Sekretariat Jalan Bontomangapa No. 3 berfungsi sebagai pusat inkubasi ide dan tempat berkumpulnya para orang tua serta Difabel untuk saling menguatkan sebelum tampil di panggung yang lebih luas.
Rangkaian kegiatan “Motif Tanpa Batas” akan dibuka pada pukul 09.00 WITA setiap harinya dan berlangsung hingga pukul 15.00 WITA. Pengunjung tidak hanya akan menyaksikan proses pembuatan batik, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan para Difabel, membeli karya yang dihasilkan, serta mengikuti sesi sharing session tentang inklusi sosial.
Panitia juga menyediakan fasilitas aksesibilitas memadai di lokasi acara, memastikan bahwa pengalaman berkunjung terasa nyaman dan ramah bagi semua kalangan, termasuk Difabel fisik maupun sensorik. Persiapan detail terkait aksesibilitas ini telah dibahas intensif di sekretariat guna menjamin tidak ada hambatan berarti saat hari pelaksanaan tiba.
Hj. Rosmaladewi menekankan pentingnya dukungan nyata dari pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat luas.
“Kehadiran Anda di Benteng Rotterdam nanti adalah bentuk validasi bahwa kami diakui. Jangan datang hanya untuk melihat, tapi datanglah untuk belajar menerima perbedaan sebagai kekayaan,” tegasnya. Ia berharap event ini dapat menjadi preseden bagi penyelenggaraan kegiatan serupa di kota-kota lain, serta mendorong revisi kebijakan tata ruang dan program kebudayaan yang lebih sensitif terhadap kebutuhan Difabel.
Pesan ini ia sampaikan dengan semangat yang tak surut meski kesibukan persiapan di sekretariat begitu padat.
Sebagai penutup, panitia mengajak seluruh elemen masyarakat Makassar untuk menjadikan “Motif Tanpa Batas” sebagai agenda wajib di bulan kemerdekaan.
Mari rayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih bermakna: dengan merangkul sesama, menghapus diskriminasi, dan mengakui bahwa setiap tangan berhak memegang kuas, setiap hati berhak menuangkan rasa, dan setiap jiwa berhak bersinar tanpa takut dihakimi.
Bersama-sama, kita wujudkan kota yang benar-benar inklusif, di mana motif kehidupan terbentuk dari beragam corak manusia yang saling melengkapi. (*)























