Makmur Idrus Kenang Muis Riady Muhammadiyah: Yunior di KNPI dan Ansor yang Konsisten Mengabdi

0
FOTO: Muis Riady Muhammadiyah, mantan Bendahara DPD I KNPI Sulawesi Selatan. 
FOTO: Muis Riady Muhammadiyah, mantan Bendahara DPD I KNPI Sulawesi Selatan. 

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Kabar duka datang dari keluarga besar aktivis kepemudaan dan Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan. Muis Riady Muhammadiyah, mantan Bendahara DPD I KNPI Sulawesi Selatan yang juga pernah mengemban amanah sebagai Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar (BLAM), meninggal dunia di Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar, Sabtu, 5 September 2026.

Selain berkiprah di KNPI, almarhum juga aktif dalam lingkungan organisasi kepemudaan dan keluarga besar Nahdlatul Ulama. Dalam perjalanan pengabdiannya, Muis Riady Muhammadiyah dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta para senior dan yunior yang pernah bersama-sama dengannya dalam berbagai medan pengabdian.

Advertisement

Salah seorang yang merasa kehilangan adalah Makmur Idrus, mantan Ketua PC GP Ansor Makassar dan aktivis senior KNPI Sulawesi Selatan.

Makmur mengenang Muis Riady Muhammadiyah sebagai salah seorang yuniornya yang tumbuh melalui proses kaderisasi organisasi dan kemudian mendapat kepercayaan dalam berbagai bidang pengabdian.

“Almarhum Muis Riady adalah yunior saya, baik ketika berproses di KNPI maupun di lingkungan GP Ansor. Saya mengenalnya sebagai sosok yang memiliki semangat organisasi, menjaga silaturahmi, dan terus mengabdikan dirinya dalam berbagai amanah yang dipercayakan kepadanya,” kata Makmur Idrus.

Menurut Makmur, perjalanan seorang kader tidak semata-mata diukur dari jabatan yang pernah disandang, tetapi juga dari kemampuan menjaga hubungan dengan senior, sahabat, dan generasi yang datang sesudahnya.

“Dalam organisasi, senior tentu merasa bangga ketika melihat yuniornya tumbuh, mendapat kepercayaan dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Muis Riady telah menjalani perjalanan pengabdian itu,” ujarnya.

Makmur menilai perjalanan Muis Riady Muhammadiyah dari dunia kepemudaan, GP Ansor, KNPI, penelitian keagamaan hingga Majelis Alumni IPNU merupakan jejak pengabdian yang patut dikenang.

“Jabatan pada akhirnya selesai, tetapi silaturahmi, persahabatan, dan jejak pengabdian akan tetap dikenang. Itulah yang ditinggalkan almarhum,” katanya.

Kepergian Muis Riady, lanjut Makmur, juga menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang dalam organisasi pada akhirnya akan menjadi sejarah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Sebagai senior, tentu saya merasa kehilangan. Ada bagian dari perjalanan organisasi yang pernah kami lalui bersama. Kini salah seorang yunior telah mendahului kita,” ungkap Makmur.

Ia pun menyampaikan doa untuk almarhum Muis Riady Muhammadiyah.

“Selamat jalan, adinda Muis Riady. Terima kasih atas persahabatan, kebersamaan dan pengabdian yang telah diberikan. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.”

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. (*)

Advertisement