LEGIONNEWS.COM|MOJOKERTO, – Pemerintah Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto meresmikan Pusat Kuliner Gumregah pada Selasa, 8 September 2026 pukul 10.00 WIB. Peresmian ini menjadi wujud langkah desa dalam menggerakkan ekonomi lokal melalui skema “Desa Berdaya 2026”, yang merupakan sebuah program yang menempatkan warga sebagai subjek utama pembangunan.
Kehadiran pusat kuliner ini tidak sekedar menambah titik jual makanan. Gumregah dirancang sebagai ruang ekonomi berlapis waktu. Mulai pagi, siang, hingga malam, tempat ini memiliki fungsi berbeda. Model seperti ini menjawab persoalan klasik UMKM desa yang sepi pembeli di jam tertentu. Dengan 3 shift kegiatan, perputaran uang di desa diharapkan berjalan sepanjang hari.

Acara peresmian dihadiri unsur pemerintahan dari Kecamatan Gedeg, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa atau DPMD Kabupaten Mojokerto, hingga DPMD Provinsi Jawa Timur turut hadir. Kehadiran lintas tingkatan itu menunjukkan bahwa Gumregah tidak dilihat sebagai proyek seremonial, melainkan sebagai pilot project pemberdayaan desa yang bisa direplikasi.
“Gumregah ini bukti desa mampu mandiri. Kami tidak menunggu bantuan turun terus. Untuk ittu, warga kami gerakkan guna mengelola, berjualan, dan merawat tempat tersebut bersama,” ujar Antony, Kepala Desa Batankrajan saat dikonfirmasi. Nada tegas itu menjadi penanda bahwa desa ingin keluar dari pola ketergantungan.
Shift pertama dimulai pukul 05.00 – 10.00 WIB sebagai pusat pasar sayuran. Petani dan pedagang sayur dari Batankrajan dan desa sekitar bisa langsung menjual hasil panen tanpa perantara. Ini memotong rantai distribusi yang selama ini menekan harga di tingkat petani. Sayur segar, harga wajar, dan uang berputar di desa.
Memasuki siang hari pukul 11.00 – 17.00 WIB, Gumregah berubah wajah menjadi pusat kuliner. Puluhan UMKM makanan khas Mojokerto dan Jawa Timur mengisi lapak. Tujuannya jelas, yakni menyerap tenaga kerja warga, khususnya ibu rumah tangga dan anak muda. Pemerintah desa sengaja tidak memungut sewa mahal agar pelaku usaha kecil bisa bertahan.
Saat malam tiba pukul 18.00 – 22.00 WIB, Gumregah bertransformasi lagi menjadi tempat tongkrongan kawula muda untuk ngopi bersama. Konsep ini menargetkan anak muda desa agar punya ruang publik yang sehat dan produktif. Daripada nongkrong di jalan, energi anak muda disalurkan ke ekonomi kreatif. Kopi, musik, dan diskusi diharapkan lahir dari sini.
Analisisnya, model 3 shift ini kritis karena berani memecah fungsi ruang. Kebanyakan pasar desa hanya hidup di pagi hari. Gumregah memaksa infrastruktur desa bekerja lebih efisien. Satu tempat, tiga kali manfaat. Namun tantangannya ada pada manajemen dan kebersihan. Jika tidak dikelola tegas, potensi konflik antar pedagang dan penumpukan sampah bisa muncul.
Menanggapi hal itu, perwakilan warga menegaskan pentingnya keberlanjutan. “Program Desa Berdaya tidak boleh berhenti di seremoni. Kami ingin dikawal dari sisi pelatihan, permodalan, dan digitalisasi. Gumregah harus naik kelas, bukan hanya ramai di awal,” katanya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa dukungan tidak cukup hanya di atas kertas.
Pewarta : Agung Ch























