FMPPT Nilai Prof Ismunandar Layak Diperhitungkan dalam Bursa Calon Rektor UNM 2027–2031

0
Ket Foto: Sekretaris Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Tinggi (FMPPT) Zul Majjaga, (Dok.Ist)*
Ket Foto: Sekretaris Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Tinggi (FMPPT) Zul Majjaga, (Dok.Ist)*

MAKASSAR – Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Tinggi (FMPPT) memberikan dukungan moral terhadap Prof. Ismunandar dalam suksesi pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2027–2031. Dukungan tersebut didasarkan pada pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi melalui gagasan transformasi yang terukur, berintegritas, dan berorientasi pada kemajuan institusi.

Sekretaris FMPPT, Zul Majjaga, menilai bahwa momentum pemilihan rektor harus menjadi ruang untuk menguji kapasitas kepemimpinan, kedalaman gagasan, dan kemampuan setiap kandidat dalam merumuskan masa depan UNM. Menurutnya, perdebatan mengenai suksesi rektor semestinya tidak terjebak pada persoalan asal-usul kandidat, melainkan berpusat pada substansi program dan arah perubahan yang ditawarkan.

Bagi FMPPT, gagasan Prof. Ismunandar mengenai lima program strategis menuju UNM 2031 merupakan tawaran yang patut mendapat perhatian serius. Di tengah perubahan lanskap pendidikan tinggi, universitas membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya mampu menjaga keberlangsungan institusi, tetapi juga mendorong pembaruan dalam tata kelola, kualitas pembelajaran, pengembangan sumber daya manusia, riset, dan inovasi.

Advertisement

“Kepemimpinan universitas tidak semestinya diukur semata-mata dari apakah seseorang berasal dari lingkungan internal atau eksternal. Ukuran yang lebih mendasar adalah kapasitas, integritas, rekam jejak, pemahaman terhadap persoalan institusi, serta kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi perubahan nyata.”

Pandangan tersebut menjadi penting di tengah munculnya sentimen mengenai asal-usul kandidat dalam kontestasi kepemimpinan perguruan tinggi. FMPPT memandang bahwa pengalaman internal maupun eksternal tidak seharusnya dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan kelayakan seorang calon rektor.

Pengalaman dari dalam institusi tentu memiliki nilai, terutama dalam memahami kultur akademik, dinamika organisasi, dan persoalan keseharian kampus. Namun, pengalaman dari luar juga berpotensi menghadirkan perspektif baru, memperluas jejaring kolaborasi, serta membuka pendekatan alternatif dalam menjawab persoalan yang selama ini dihadapi perguruan tinggi.

Karena itu, mempertentangkan kandidat internal dan eksternal secara mutlak justru berisiko menyederhanakan persoalan kepemimpinan akademik. Yang lebih penting ialah menguji apakah seorang kandidat memiliki kapasitas untuk memahami karakter UNM, menghormati tradisi akademiknya, merangkul seluruh unsur sivitas akademika, dan membawa institusi menuju perkembangan yang lebih baik.

Dalam konteks tersebut, Prof. Ismunandar patut diperhitungkan melalui gagasan, pengalaman akademik, dan tawaran transformasi yang dibawanya. Latar belakangnya sebagai guru besar Kimia di Institut Teknologi Bandung menjadi bagian dari rekam jejak yang dapat dipertimbangkan, tetapi penilaian terhadap kelayakannya tetap perlu didasarkan pada keseluruhan kapasitas kepemimpinan dan kelayakan program yang ditawarkan.

FMPPT juga menyoroti pentingnya membaca lima program strategis UNM 2031 secara substantif. Gagasan tersebut perlu diuji melalui pertanyaan mendasar: bagaimana program dirancang, apa persoalan yang hendak diselesaikan, bagaimana pelaksanaannya dilakukan, dan indikator apa yang digunakan untuk mengukur keberhasilannya?

Bagi perguruan tinggi, transformasi tidak cukup berhenti pada peningkatan reputasi atau pencapaian administratif. Universitas harus mampu memastikan bahwa kualitas pembelajaran semakin baik, dosen memperoleh ruang pengembangan akademik yang memadai, penelitian menghasilkan manfaat, dan tata kelola berjalan secara transparan serta akuntabel.

Lebih jauh, posisi UNM sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi penting di Sulawesi Selatan memberikan tanggung jawab besar dalam pengembangan sumber daya manusia di Kawasan Timur Indonesia. Kepemimpinan mendatang perlu mampu mempertemukan kepentingan akademik, kebutuhan pembangunan daerah, dan tuntutan daya saing global.

Atas dasar itu, FMPPT memandang bahwa gagasan Prof. Ismunandar layak ditempatkan sebagai bagian penting dalam diskusi mengenai masa depan UNM. Dukungan moral terhadapnya bukan berarti menutup ruang kritik, melainkan menegaskan bahwa setiap tawaran kepemimpinan patut memperoleh kesempatan untuk diuji secara objektif dan proporsional.

Pada akhirnya, suksesi rektor bukanlah pertarungan mengenai siapa yang paling berhak berdasarkan asal-usul, melainkan proses menentukan kepemimpinan yang paling mampu membawa institusi berkembang. Loyalitas terhadap universitas harus diwujudkan melalui komitmen terhadap kemajuan institusi, bukan semata-mata melalui kedekatan dengan lingkungan tertentu.

UNM membutuhkan kepemimpinan yang mampu merawat kekuatan internal sekaligus membuka diri terhadap pembaruan. Dalam kerangka itulah, FMPPT memandang Prof. Ismunandar sebagai figur yang layak diperhitungkan dalam ikhtiar menghadirkan transformasi UNM menuju 2031.

Advertisement