Anggota Ikatan Alumni Pesantren IMMIM Disandera Zionis Israel, Keanggotaan Indonesia di BoP Dipertanyakan

0
FOTO: Board of Peace buatan Presiden AS Donald Trump perdamaian untuk Palestina beranggotakan negara negara islam dan Israel. (Dok. Seskab)
FOTO: Board of Peace buatan Presiden AS Donald Trump perdamaian untuk Palestina beranggotakan negara negara islam dan Israel. (Dok. Seskab)

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Pengurus Pusat Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM) menyampaikan pernyataan sikapnya kepada pemerintah Indonesia dan DPR RI agar Andi Angga Prasadewa beserta rekanya yang saat ini tengah ditahan pihak militer Zionis Israel dapat dibebaskan.

Pada Senin, 18 Mei 2026, Militer Zionis Israel telah menyandera kapal milik Global Sumud Flotilla (GSF), serta menawan para penumpangnya, berisi rombongan aktivis kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), yang berlayar membawa bantuan kemanusian untuk rakyat di Gaza.

Adapun salah satu di antara 7 (tujuh) relawan kemanusiaan internasional yang ditawan adalah anggota organisasi Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM) Makassar, Angkatan 2005-2011.

Advertisement

Pengurus Pusat IAPIM menyampaikan sikap. Ada 2 poin penting disampaikan,sebagai berikut:

PERTAMA; Kami mengecam keras tindakan militer Zionis Israel yang telah melakukan penyanderaan kapal, serta menahan para penumpangnya dan dijadikan tawanan, padahal mereka adalah para aktivis kemanusiaan internasional yang bermaksud membawa bantuan kemanusiaan untuk rakyat di Gaza. Sehingga atas tindakan militer Zionis Israel dimaksud secara nyata telah melakukan pelanggaran Hukum Humaniter Internasional.

KEDUA; Kami mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera mungkin menempuh diplomasi serta mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan dan mengembalikan 7 (tujuh) WNI aktivis kemanusiaan internasional dimaksud ke tanah air, khususnya anggota kami Andi Angga Prasadewa.

Pemerintah RI

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra berencana akan mengambil langkah hukum terkait dugaan penculikan sembilan warga negara Indonesia (WNI) oleh tentara Israel. Namun tidak jelas langkah hukum apa yang dimaksud.

Sembilan WNI tersebut terdiri dari dua wartawan dan tujuh relawan kemanusiaan yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 sedang dalam perjalanan menuju Jalur Gaza.

Peristiwa itu disebut terjadi di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur, saat armada misi kemanusiaan internasional tersebut berlayar membawa bantuan untuk rakyat Palestina.

Dalam perjalanan mendekati lokasi tujuan, kapal dicegat pasukan Israel yang sedang beroperasi. Sembilan WNI yang ada di dalam kapal langsung disekap.

Sampai hari ini belum jelas kabar mereka. Pemerintah Israel tidak memberi informasi apapun terkait penahanan itu.

Israel dan Indonesia bersama sejumlah negara lainnya sebenarnya bergabung dalam Board of Peace bentukan Donald Trump yang bertujuan untuk meredakan konflik di Palestina. Namun sampai saat ini perjuangan untuk menghentikan konflik itu tidak juga berhasil.

Kabar yang muncul justru Board of Peace cenderung mendukung invasi Israel atas Palestina. Tidak mengherankan, sebab lembaga itu dikendalikan oleh Donald Trump yang Pro Israel.

Sejak awal, keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace itu mengundang kekecewaan warga Indonesia. Namun Presiden Prabowo memang sudah terkenal sebagai antek-anteknya Trump, sehingga sekarang ia menjadi bagian yang secara tidak langsung ikut menyerang Palestina.

Keanggotaan Indonesia di Board of Peace justru untuk memperkuat kekuatan invasi Israel atas Palestina.

Makanya, perlu dipertanyakan, apa yang bisa dilakukan Indonesia terhadap nasib sembilan WNI yang ditangkap itu. Indonesia jelas tidak punya kekuatan apapun untuk menekan Israel.

Ucapan Yusril hanya gerakan tak berarti bagi Israel. Simak saja geratakan Yusril ini.

“Kami akan segera mengambil langkah-langkah hukum yang tegas karena di negara ini yang berdemokrasi ini ada jaminan hidup bebas dan jangan sampai rakyat tertekan, merasa terzalimi dan tidak memiliki kebebasan,” ujar Yusril dalam keteranganya, Senin 18 Mei.

Anehnya, Yusril mengaku hingga kini belum menerima informasi lengkap terkait insiden tersebut. Terkait hal itu, Kementerian Luar Negeri akan berkoordinasi lebih lanjut untuk memastikan kondisi para WNI.

“Saya sejauh ini masih belum mendapatkan informasi lengkap. Nanti saya akan cari informasi sebanyak-banyaknya dan kemudian dapat menjelaskan persoalan ini tentang apa yang terjadi,” katanya.

Ujung-ujungnya Indonesia nanti akan meminta bantuan kepada Donald Trump untuk bisa membebaskan WNI yang ditahan. Trump bisa jadi akan bergerak membantu, tapi tentu saja Indonesia harus lebih tunduk kepadany.

Informasi yang disebar Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyebutkan, armada kapal Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa misi kemanusiaan menuju Gaza telah dicegat oleh tentara Israel pada Senin (18/5/2026). Dua wartawan Republika yang berada dalam armada tersebut, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, ditahan.

Keduanya disebut tengah menjalankan tugas jurnalistik sekaligus misi kemanusiaan.

Selain itu, tujuh relawan Indonesia lainnya dilaporkan ikut ditahan. Mereka adalah Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Aras Asad Muhammad, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri sangat mengecam tindakan intersepsi kapal misi kemanusiaan oleh Israel dan menegaskan pelindungan WNI menjadi prioritas utama di tengah situasi yang terus berkembang di kawasan Mediterania Timur. (LN/*)

Advertisement