LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Ketua Harian Persaudaraan Pemuda Etnis Nusantara (PENA) Sulsel, Aldy Rafzanjani Thamrin, mengecam keras pernyataan yang dikaitkan dengan pemilik akun TikTok Lawyer Chiki yang menyebut orang Sulawesi Selatan tidak ada yang jago dan hanya “borro”. Tuai sorotan.
Pernyataan tersebut dinilai berpotensi melukai harga diri masyarakat Sulawesi Selatan yang terdiri atas beragam suku, budaya, dan latar belakang.
Aldy menilai, apabila pernyataan tersebut benar disampaikan dalam konteks merendahkan masyarakat Sulawesi Selatan secara umum, hal itu bukan lagi sekadar persoalan perbedaan pendapat.
Generalisasi semacam itu berpotensi menimbulkan ketersinggungan, memperkeruh hubungan antarkelompok, bahkan memicu kesalahpahaman yang tidak perlu di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan.
Sebagai Ketua Harian PENA Sulsel, Aldy menegaskan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan memiliki keragaman identitas dan tradisi yang tidak pantas dinilai melalui pelabelan yang merendahkan.
Aldy Rafzanjani: “Kami Punya Siri, Jangan Merendahkan Masyarakat Sulsel…!!! “, ucap Aldy Rafzanjani dalam keterangan Ahad (25/10/2026).
Dalam draf pernyataan yang disiapkan untuk Aldy Rafzanjani Thamrin, ia menyampaikan keberatan dengan nada tegas:
“Saya mengecam keras pernyataan yang menyebut orang Sulawesi Selatan tidak ada yang jago dan hanya ‘borro’. Kalau benar pernyataan itu ditujukan untuk merendahkan masyarakat Sulsel secara keseluruhan, saya meminta agar yang bersangkutan segera memberikan klarifikasi dan bertanggung jawab atas ucapannya. Jangan menggeneralisasi masyarakat hanya karena persoalan atau pandangan terhadap seseorang!”
Aldy menegaskan bahwa Sulawesi Selatan terdiri atas berbagai kelompok etnis dengan kekayaan budaya dan tradisi masing-masing. Masyarakat Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, dan kelompok masyarakat lainnya memiliki identitas serta nilai kehidupan yang patut dihormati.
Menurutnya, perbedaan latar belakang bukan alasan untuk saling merendahkan. Justru, keberagaman tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan menjaga keharmonisan di Sulawesi Selatan.
“Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge Bukan Sekedar Semboyan “…
Aldy mengingatkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan mengenal nilai luhur sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge saling memanusiakan, saling menghormati, dan saling mengingatkan.
Nilai-nilai tersebut berjalan beriringan dengan siri’, yang berkaitan erat dengan kehormatan, harga diri, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kami di Sulawesi Selatan diajarkan untuk sipakatau, sipakalebbi, sipakainge. Kita harus saling menghargai, saling menghormati, dan saling mengingatkan. Tetapi jangan mengartikan sikap menghormati sebagai kelemahan. Kami juga punya harga diri yang harus dijaga. Kalau ada yang keliru, silakan dikritik. Namun, jangan merendahkan seluruh masyarakat Sulawesi Selatan!”
Ia menekankan bahwa membela kehormatan bukan berarti membenarkan permusuhan. Sebaliknya, nilai siri’ harus diwujudkan melalui sikap berani menyampaikan kebenaran, menjaga martabat, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.
“Desakan Lawyer Chiki Klarifikasi dan Minta Maaf Kepada Masyarakat Sulsel”…
Aldy secara terbuka meminta pemilik akun TikTok Lawyer Chiki memberikan klarifikasi mengenai maksud dan konteks pernyataan yang dipersoalkan. Ia juga mendesak agar permintaan maaf disampaikan kepada masyarakat Sulawesi Selatan apabila pernyataan tersebut terbukti merendahkan mereka.
“Saya meminta pemilik akun TikTok Lawyer Chiki segera memberikan klarifikasi. Jelaskan apa maksud pernyataan tersebut dan mengapa masyarakat Sulawesi Selatan dibawa-bawa. Jika memang ucapan itu merendahkan masyarakat Sulsel, saya meminta agar segera meminta maaf secara terbuka. Jangan biarkan persoalan ini berkembang menjadi polemik yang berpotensi memecah belah dan mengadu domba masyarakat!”
Menurut Aldy, kritik terhadap seseorang seharusnya diarahkan kepada tindakan atau persoalan yang konkret, bukan digeneralisasi menjadi penilaian terhadap satu daerah beserta seluruh masyarakatnya.
Ia berharap persoalan ini diselesaikan secara terbuka dan bertanggung jawab, sehingga tidak menimbulkan permusuhan antarkelompok maupun memperkeruh hubungan sosial.
“Kami Bukan Orang yang Mencari Keributan, Tetapi Jangan Injak Harga Diri Kami!!! “…
Dalam pernyataan yang hendak disampaikan, Aldy menegaskan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan tidak perlu membuktikan harga dirinya melalui tindakan kekerasan atau adu fisik. Namun, ia meminta agar sikap santun tidak disalahartikan sebagai ketidakmampuan untuk membela kehormatan.
“Kami bukan orang yang mencari keributan. Kami menghargai siapa pun dan menghormati perbedaan. Tetapi kalau masyarakat kami direndahkan, tentu kami akan berdiri membela kehormatan dan harga diri kami. Jangan menguji kesabaran masyarakat dengan ucapan yang merendahkan. Kalau ada perbedaan pendapat, mari kita buktikan melalui argumentasi dan debat terbuka, bukan saling mengancam atau mengadu domba!”
Aldy menegaskan bahwa keberanian yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang paling keras berbicara atau siapa yang paling kuat menghadapi orang lain. Keberanian juga berarti berani mempertanggungjawabkan ucapan, mengakui kesalahan, dan meminta maaf ketika telah menyakiti pihak lain.
PENA Sulsel Serukan Persaudaraan dan Penghormatan
Sebagai bagian dari semangat persaudaraan antaretnis, Aldy berharap polemik ini menjadi pengingat bahwa ruang publik harus dijaga dari pernyataan yang berpotensi merendahkan identitas kelompok masyarakat.
Sulawesi Selatan merupakan rumah bagi masyarakat dengan beragam latar belakang. Karena itu, setiap pernyataan yang membawa nama suatu daerah perlu disampaikan dengan tanggung jawab dan penghormatan terhadap keberagaman.
“Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk mengadu domba. Jangan jadikan identitas daerah sebagai bahan ejekan. Kami ingin persoalan ini diselesaikan dengan jelas, dengan klarifikasi dan permintaan maaf apabila terbukti ada penghinaan. Mari jaga kehormatan masing-masing tanpa merusak persaudaraan.”
Aldy Rafzanjani Thamrin menegaskan bahwa menjaga siri’ bukan berarti menutup diri dari kritik. Sebaliknya, kehormatan harus dipertahankan melalui sikap tegas, argumentasi yang kuat, dan tindakan yang bertanggung jawab. (*)
























