LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Pihak kepolisian dari Polda Jawa Barat (Jabar) berhasil membongkar sindikat penipuan online (passobis) asal Kabupaten Sidrap.
Sebanyak 12 orang pelaku diamankan setelah menjalankan aksi penipuan berskala besar.
Kehadiran kepolisian Polda Jabar di Kabupaten, Sulawesi Selatan membuat heran dai kondang Ustad Dasad Latif. Lewat unggahannya di akun Facebook miliknya, Ia merasa heran dengan kinerja kepolisian di Polres Sidrap.
“Herang tong saya kamase (Kasihan)” tulis Ustad Dasad Latif di Facebook.
“Polisi na jawa barat jauhna pi sidrap tangkap passobis, padahal ada polisi di bumi nenek mallomo ini. Kenapa bisa kamase? magitu sappo?”
“Komengki bedenk temanG?”
“Catatan: tetap sopanG dan janki memaki nah, patuhi kode etik jurnalistik,” Demikian bunyi tulisan berbentuk flyer itu di akun Facebook miliknya.
Netizen yang mayoritas warga di Sulawesi Selatan itu pun mengomentari unggahan Ustad Dasad Latif.
“Bagaimana mau ditangkap ka sdh mi dikasih bagiannya,” *** tulis akun Facebook Astuti Hamzah.
“Kinerja Polisi Sulawesi Selatan patut di pertanyakan,” *** timpal akun Pratama Sudirman.
“Gampang terbaca pergerakan nya yang di sidrap ustad sama passobis, sehingga gampang diantisipasi. Makanya yang dari jawa Barat yang langsung turun karena tidak berkompromi tawwa,” tulis akun Facebook @Anshar An Najazi .
Akun Facebook Ustad Dasad Latif dikomentari 994 netizen, Dibagikan sebanyak 149 kali dan disukai 3,1 ribu lebih netizen.
Terkait dengan teguran ulama itu, Direktur Balai Inklusi Sulawesi Selatan, Abdul Rahman Daeng Gus Dur mengatakan ini adalah tamparan keras yang menampar wajah integritas Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan, khususnya Tim Saber (Satuan Tugas Siber).
Tidak hanya kepolisian ini jadi peringatan bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Sidrap.
Menurut Daeng Gus Dur, Kasus penipuan online (Passobis) yang bermula dari modus manipulasi psikologis dan eksploitasi kerentanan masyarakat.
Di tengah gempuran era digital yang menjanjikan kemudahan dan konektivitas tanpa batas, sebuah realitas kelam justru menguak dari balik layar smartphone warga Sulawesi Selatan.
“Mengapa Polda Sulawesi Selatan, khususnya Tim Siber yang memiliki tugas khusus menangani kejahatan siber, seolah lumpuh?” ujar Daeng Gus Dur. Kamis (27/8/2026)
“Mengapa Pemprov Sulsel dan Pemkab Sidrap tidak mampu memutus mata rantai kejahatan yang akarnya sudah begitu jelas tertanam di daerah mereka sendiri?” katanya.
Gus Dur bilang, Kehadiran Tim Polda Jabar adalah bukti kegagalan deteksi dini dan intelijen lokal dari Tim Saber Polda Sulsel. Jika setiap kali ada korban dari berbagai penjuru Indonesia, pelakunya diduga kuat berasal dari Sidrap, maka berarti Sidrap telah menjadi “sarang” kejahatan yang dibiarkan tumbuh subur.
Lebih jauh, kritikus sosial ini juga menyoroti peran pemerintah daerah yang tak kalah vital.
Penanganan kejahatan siber bukan hanya urusan teknis kepolisian, melainkan mandat bersama yang melibatkan dinas komunikasi dan informatika, dinas perlindungan konsumen, serta lembaga terkait lainnya.
Jika Tim Saber Polda Sulsel gagal mendeteksi adanya sindikat penipuan yang beroperasi secara masif di Sidrap, apakah Pemkab Sidrap dan Pemprov Sulsel juga buta terhadap laporan-laporan warga yang mungkin sudah masuk namun diabaikan?
Ataukah mereka tahu tapi tidak punya political will untuk menyelesaikannya secara tuntas karena takut mengganggu citra daerah atau stabilitas politik sesaat?
Data tentang modus operandi kejahatan online seharusnya tersedia di meja birokrat setiap hari. Ketidakhadiran intervensi negara yang memadai menunjukkan bahwa regulasi perlindungan masyarakat dari kejahatan siber masih sebatas dokumen mati, belum menjadi napas kebijakan yang hidup di desa-desa dan kecamatan.
“Ironisnya, nama Sidrap kini mulai tercoreng bukan karena potensi alamnya, tetapi karena reputasinya sebagai sumber kejahatan digital yang sulit diberantas oleh aparat setempat,” tutup Direktur Balai Inklusi Sulawesi Selatan. (LN)

























